Mahasiswa Teknik Kimia Teliti Flavonoid Daun Nangka

itnmalangnews.id – Interaksi dengan polusi serta kandungan-kandungan kimia berbahaya dari barang konsumsi mampu memicu stress oksidatif. Kondisi tersebut terjadi akibat banyaknya radikal bebas dalam tubuh seseorang sehingga melebihi kapasitas penetralan. Stress oksidatif meningkatkan risiko beberapa penyakit kronis dan menyebabkan penuaan dini. Bahan-bahan antioksidan dapat mencegah ataupun mengurangi stress oksidatif.

Mahasiswa Teknik Kimia Teliti Flavonoid Daun NangkaBaca juga: www.itn.ac.id

Flavonoid, salah satu antioksidan alami dapat menjadi solusi. Baru-baru ini kelompok mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang meneliti flavonoid pada daun nangka. “Kami memilih daun nangka karena banyak tersedia, terutama di pedesaan. Selama ini daun nangka kebanyakan hanya difungsikan sebagai pakan sapi, padahal mengandung antioksidan. Penelitian terkait juga masih terbatas,” beber Indra Fajar Suswanto, salah satu mahasiswa peneliti.

Calon wisudawan ITN Malang ke-63 Periode 1 yang jatuh pada Maret 2020 tersebut menceritakan proses penelitiannya. Metode utama yakni ekstraksi, dimana prinsipnya mengambil kandungan tertentu dengan pelarut yang sesuai. “Flavonoid diambil dengan ekstraksi maserasi atau ekstraksi tanpa pemanasan. Pelarutnya etanol 70% dengan tekanan atmosfer. Waktu mengekstrak yang divariabel,” terang pemilik Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,85 ini kemudian.

Secara ringkas, larutan ekstrak difiltrasi lalu dipisahkan pelarutnya dengan cara evaporasi. Proses dihentikan saat didapatkan cairan kental yang keluar dari evaporator vakum. “Produk masih cair karena keterbatasan jenis dryer yang cocok. Tidak sembarang dryer bisa digunakan sebab flavonoid rusak pada kisaran suhu 50 derajat celcius. Pernah kami coba mengoven lalu mengujinya di spektrofotometri infrared, ternyata flavonoid pecah,” lanjutnya.

Cairan keluaran evaporator diuji secara kualitatif dan kuantitatif. Parameter uji adalah kandungan flavonoid, total flavonoid, kadar etanol, dan keberadaan gugus. Hasil optimal tampak pada waktu ekstraksi 33 jam. Rendemen yang didapat berkisar 16 persen.

Indra mengungkapkan kalau penelitian mereka perlu dilanjutkan. Diduga butuh waktu yang lebih lama untuk mendapatkan hasil terbaik. “Kemungkinan butuh waktu lebih lama dari 33 jam, sehingga bisa dipastikan lagi berapa waktu yang ideal. Jangan lupa perlu menguji toksisitas dulu sebab pelarutnya etanol, bukan air. Kalau sudah lolos uji toksisitas, bisa melakukan uji organoleptik,” ujar mahasiswa kelahiran Pasuruan itu. (ata)

(Visited 278 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *