itnmalangnews.id – “Kalau ada gempa, lindungi kepala, Kalau ada gempa, masuk kolong meja, Kalau ada gempa, jauhilah kaca, Kalau ada gempa, keluar ruang saja.”
Serentak, 270 siswa kelas 5 dan 6 Madrasah Ibtiyah Negeri (MIN) 2 Kota Malang mengikuti lagu yang dicontohkan. Mereka tengah berkumpul di titik kumpul usai melakukan simulasi gempa bumi, Sabtu (31/08). Sementara itu para dosen wali dari 9 kelas menyampaikan laporan pada Kepala Sekolah MIN 2 terkait kondisi dan kelengkapan siswa-siswinya.
Damkar membimbing salah satu siswa untuk memadamkan api. (Foto: Ata/itnnews)
Kegiatan yang tengah berlangsung adalah edukasi kebencanaan yang diinisiasi oleh Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, tepatnya Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Dalam penyelenggaraannya, ITN Malang menggandeng MIN 2 dan berbagai instansi terkait kebencanaan. Sebanyak 10 mahasiswa dan tiga dosen PWK ITN Malang ikut hadir pada kegiatan tersebut.
Simulasi tanggap bencana gempa terdiri atas dua tahap. Tahap pertama ditandai dengan bunyi sirine pertama, siswa dan guru harus lekas berlindung ke kolong meja dan atau melindungi kepala. Beberapa saat setelah sirine pertama berhenti, sirine kedua berbunyi tanda seluruh warga sekolah harus mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul. Selama perjalanan ke titik kumpul, mereka harus tetap melindungi kepala untuk mengantisipasi adanya barang jatuh yang akan menimpa.
Pada kesempatan ini, Tri Oky Rubianto, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mengingatkan pentingnya edukasi kebencanaan. Anak dari jenjang sekolah dasar (SD)/sederajat perlu mengenyam pengetahuan ini.
“Tentu edukasi penting. Kita tidak tahu kapan bencana datang. Kita hanya bisa mengurangi risiko untuk meminimalisir korban. Yang saya lihat anak-anak masih panik ketika simulasi, padahal di kejadian nyata kita harus lebih tenang agar tidak memicu ricuh seperti saling dorong,” koreksinya, Sabtu (31/08).
Terkait risiko kendala yang muncul ketika mengedukasi anak-anak, Drs. Supandri, Kepala Sekolah MIN 2 Kota Malang, sudah memprediksi sejak awal. Oleh sebab itu, peserta simulasi hanya siswa kelas 5 dan 6. “Kalau kelas 5 dan 6 setidaknya lebih memahami instruksi sehingga memudahkan pelatih. Mereka juga bisa mengajarkan lagi pada keluarga di rumah,” papar Supandri.
Baca juga: Peran Aktif dalam Menolong, ITN Malang Siap Kirim Mahasiswa ke daerah Bencana
Baca juga: Gempa Guncang Sulawesi Tengah, Ikatan Alumni Teknik Lingkungan Tanggap Bencana
Edukasi bencana gempa bumi kemudian dilanjutkan dengan edukasi tentang kebakaran karena risiko kebakaran dinilai tetap ada. Pihak Pemadam Kebakaran (Damkar) kota Malang pun mengajarkan cara mengatasi kebakaran dan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Metode penanganan kebakaran berbeda tergantung dari penyebabnya, yang diklasifikasikan menjadi empat kelas yaitu A (padat), B (cair dan gas), C (listrik), serta D (logam). Tidak setiap kebakaran dapat diatasi dengan air, sebagai contoh kebakaran minyak atau karena arus listrik. Damkar juga berpesan agar pemadam memperhatikan arah angin ketika mencoba menjinakkan api.
Link : www.itn.ac.id

