Himakpa Gelar Diskusi dan Nonton Bareng Film-film Lingkungan

itnmalangnews.id – Ancaman perubahan iklim kian nyata dari hari ke hari. Kerusakan lingkungan merupakan salah satu faktor yang memperparah. Walau begitu, ternyata masih ada masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam secara harmonis. Himpunan Mahasiswa Teknik Pecinta Alam (Himakpa) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang mengajak mahasiswa dan masyarakat menonton film-film tersebut, Selasa (24/09).

Himakpa Gelar Diskusi dan Nonton Bareng Film-film Lingkungan

Peserta tengah asyik mengikuti diskusi film lingkungan yang digelar oleh Himakpa ITN Malang. (Foto: Himakpa for itnmalangnews.id)


Baca juga: www.itn.ac.id

“Filmnya tiga. Ada Bumi Ciptagelar, lokasinya di kaki Gunung Halimun, Jawa Barat.  Ada Sendi Bercerita, desa yang ‘hilang’ di Mojokerto, Jawa Timur. Yang terakhir Sexy Killers Sayang Dibuang, yaitu penggalan film yang tidak dipublikasikan pada Agustus silam,” terang M. Fulkun Nada, ketua pelaksana.

Mahasiswa Arsitektur semester 7 ini menjelaskan konsep kegiatan nonton bareng dan diskusi. Ada tiga sesi, dua sesi pertama untuk diskusi film, sesi terakhir untuk sharing dengan mengundang Komunitas Renewable Energy ITN Malang, Ecoton, Zero Waste Malang, serta Aliansi Cagar Alam Indonesia.

“Setelah nonton film dan diskusi, nanti ada sesi sharing-nya. Tujuan kami adalah mendorong masyarakat untuk lebih peduli dengan perubahan iklim. Semoga dapat menumbuhkan kesadaran dan menambah wawasan,” lanjutnya.

Sesi diskusi film turut menghadirkan pemantik yang sesuai dengan tema. Purnawan Dwikora Negara dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur adalah satu di antaranya. “Negara kita memiliki megabiodiversity dan megaculture. Di Jawa ada beberapa simpul yang memiliki kearifan lokal yang tinggi, sedangkan di luar Jawa relatif lebih kuat. Masyarakat adat itu tidak tercerabut dari nilai-nilainya. Kerusakan lingkungan terjadi ketika koneksi nature dan culture putus, yang dikarenakan oleh krisis nilai dan erosi kultural,” jelas pria yang akrab disapa Pupung seraya mengomentari film.

Baca juga: Dokumenter Sexy Killers Bahan Diskusi dan Literasi Mahasiswa Geodesi

baca juga: Beginilah Cara Belajar Mengoperasikan Pabrik Ala Seminar Nasional Teknik Kimia

Hafidh dari Front Nadhliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Malang Raya memantik film dari perspektif ekonomi politik (ekopol). Ia menilai kerusakan alam terjadi dekat dengan kekuasaan. “Kalau kita amati kasus-kasus di Indonesia, ruang kekuasaan dekat dengan pencemaran. Masyarakat adat pun belum tentu terus ada. Ada potensi mereka terusir dari tanahnya sendiri,” tukasnya.

Sementara itu, di luar Ruang Serbaguna Hidrolika tempat diskusi film terdapat lapak baca gratis, tepatnya di koridor. Lapak diisi oleh komunitas dan ada juga kumpulan buku anggota Himakpa. Buku yang digelar beragam, mulai dari non fiksi sampai komik. (ata)

(Visited 178 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *