Pusat Karir ITN Malang menggelar Pembekalan Wisuda ke-75 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Ir. Arnold Waryanto tidak pernah menyangka bahwa kebangkrutan sang ayah, dan dagangan kue ibunya di pasar akan menjadi bahan bakar kesuksesannya. Alumnus Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) angkatan 1983 ini hadir kembali ke kampus untuk membagikan kisah “nekat”-nya di hadapan para calon wisudawan pada Pembekalan Wisuda ke-75 ITN Malang.
Baca juga: ITN Malang Buka Kesempatan Alumni Berkarir di Perusahaan Perkapalan Korea Selatan
“Saya bisa kuliah karena Ibu jualan kue di pasar. Beliau bikin kue dari jam 11 malam sampai pagi,” kenang Arnold dengan nada emosional di hadapan para calon wisudawan yang memadati Aula Kampus 1, Kamis (23/04/2026).
Arnold bercerita bahwa kondisi ekonomi yang sulit memaksanya bekerja sejak semester 3. Tanpa sepeda motor, ia meminjam motor teman-temannya hanya untuk berjualan mesin gambar ke mahasiswa lintas kampus.
Dari gaji 2.000 rupiah per hari kala itu, ia bertahan hingga sebelum lulus bisa menjabat sebagai pimpinan cabang. Setelah 10 tahun bekerja akhirnya ia resign dan membangun CV Tunas Abadi yang kini memiliki 500 karyawan. Merupakan perusahaan yang menyediakan perlengkapan perkantoran, furniture, barang elektronik, komputer dan sudah memiliki brand sendiri. Kantornya pun tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Malang, hingga Bali.
Arnold juga membangun CV Kreasi Tama di Karanglo, Malang yang bergerak dibidang produksi peralatan mebel atau furniture mulai berbahan metal, kayu maupun plastik.
Berdasarkan pengalamannya membangun industri furnitur hingga pabrik pengolahan plastik, Arnold menitipkan pesan agar para lulusan tidak terlalu pilih-pilih pekerjaan di awal karier. Menurutnya, hal terpenting bagi seorang pemula adalah mengambil peluang apa pun yang ada di depan mata, karena pengalaman lapangan itulah yang nantinya akan membentuk insting, dan mengarahkan mereka ke jalur karier yang paling cocok.
Ia juga mewanti-wanti agar calon wisudawan tidak menjadi “kutu loncat” yang hobi berpindah-pindah perusahaan dalam waktu singkat. Arnold menyarankan agar setiap pekerjaan ditekuni dari nol hingga mencapai posisi manajerial demi membentuk mental pemimpin yang tangguh, sembari menekankan agar para lulusan selalu bangga membawa nama almamater ITN Malang di mana pun mereka berkarya.
“Kerja apapun harus dicintai dan dihargai. Jaga ibadah, dan yang paling penting, langsung eksekusi apa yang bisa dikerjakan sekarang,” pungkas pemilik beberapa properti dan Hotel Syariah 99 di Malang tersebut.
Baca juga: Gelar Campus Hiring, ITN Malang Jadi “Jembatan” Karir Alumni dan Siswa SMK hingga ke Sumatera
Semangat solidaritas ini pun diperkuat dengan sesi pengenalan Ikatan Alumni (IKA) ITN Malang oleh Dr. Ir. Aladin Eko Purkuncoro, ST., MT., yang memaparkan pentingnya wadah alumni sebagai rumah untuk saling bersinergi dan menjaga koneksi setelah lulus dari ITN Malang.
Pesan Tegas: Jangan Cepat Puas dengan Gelar S1
Semangat perjuangan Arnold ini selaras dengan pesan Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT. Ia mengingatkan para lulusan bahwa ijazah S-1 hanyalah dasar dari perjalanan panjang mereka.
“Jangan terlalu bangga dulu baru lulus S-1, karena ini masih dasar sekali keilmuannya. Kalau masih mampu, silakan lanjut ke S-2 karena disana ilmunya lebih dalam,” tegas Hardianto.
Selain motivasi, pembekalan ini juga menekankan pentingnya peran alumni setelah lulus. Kepala Pusat Karir ITN Malang, Dr. Lila Ayu Ratna Winanda, ST., MT., meminta para wisudawan nantinya tetap aktif mengisi exit survey dan memberikan feedback kepada almamater.
“Feedback kalian sangat menentukan potret akreditasi kita. Kalau akreditasi kita unggul, dampaknya akan kembali ke kalian juga, yaitu lebih mudah terserap di dunia kerja dengan kualitas yang diakui,” jelas Lila. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

