Peserta best costume Gigantik 2025 ITN Malang bersama Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Suasana di Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) Kampus 1, pada Selasa (02/09/2025) terasa berbeda dari biasanya. Rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) atau Gigantik 2025 dipenuhi warna-warni kain tradisional, di mana para mahasiswa baru, panitia, hingga jajaran struktural kompak mengenakan pakaian adat dari berbagai penjuru nusantara.
Baca juga: Gigantik 2025 Kenalkan Materi PKM, P2MW, dan PPK Ormawa untuk Mahasiswa Baru
Ketua Panitia Gigantik 2025, Drs. Sumanto, M.Si., menjelaskan, penggunaan pakaian adat dalam PKKMB sudah menjadi agenda rutin tiap tahunnya. “Kami ingin memperkuat kembali rasa kebangsaan, cinta tanah air, persatuan, dan kesatuan. Apalagi mahasiswa ITN berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya.
Sumanto berharap, dengan memakai pakaian adat dari daerah masing-masing atau daerah lain, rasa kebersamaan dan saling menghormati akan tumbuh. “Kita saling mengetahui adat istiadat, dan menjaga kesatuan,” tegasnya yang juga merupakan Wakil Dekan 3 FTI ITN Malang.
Keberagaman terlihat jelas di seluruh area kampus. Sumanto tampil gagah mengenakan pakaian adat Batak yang senada dengan jajaran dekanat Fakultas Teknologi Industri (FTI). Sementara itu, jajaran dekanat Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) kompak memakai pakaian adat Mandailing. Keduanya berasal dari daerah yang sama, yakni Sumatera Utara.Tak ketinggalan, Rektor ITN Malang tampil memukau dengan balutan pakaian adat Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur.
Meskipun diwajibkan, Sumanto menegaskan prinsip panitia tidak ingin memberatkan peserta. “Prinsip kami, kami tidak mengharuskan tapi menghimbau untuk peserta bisa menggunakan pakaian adat,” jelasnya.
Baca juga: Komika Gilang Herlambang Ajak Mahasiswa ITN Malang Produktif di Era Digital
Mahasiswa baru pun menyambut baik gagasan ini. Katharina Budi Kusuma, dari Program Studi Bisnis Digital terlihat anggun mengenakan baju adat Samin dari Blora, Jawa Tengah. Baju Samin yang ia kenakan berupa kebaya dari brokat berwarna hitam dengan bawahan jarik cokelat. Ia menjelaskan, baju ini biasa digunakan untuk upacara atau perayaan adat seperti tradisi tahunan Gas Deso, yaitu selamatan atau syukuran setelah panen.
Katharina merasa senang dan bangga dapat memakai pakaian adat. “Senang, sih, memakai pakaian adat. Jadi lebih banyak tahu baju dari berbagai daerah,” ungkapnya. Ia bahkan merasa sangat bangga karena terpilih sebagai salah satu pemenang kategori best costume.
Antusiasme serupa juga datang dari Hardian Jumawardani, mahasiswa Teknik Industri. Ia mengenakan pakaian adat khas Lombok, Sasak, yang ia bawa langsung dari rumah. Pakaiannya terbuat dari kain songket, beludru, dan dihiasi dengan ikat kepala yang disebut sapuk.
“Ini baju dibawa dari rumah. Sudah prepare memang, untuk acara PKKMB,” katanya. Ia juga menjelaskan pakaian yang dikenakannya biasa dipakai saat acara pernikahan.
Hardian berharap, kedepannya lebih banyak mahasiswa baru yang berpartisipasi dan mentaati anjuran untuk memakai pakaian adat. “Sebenarnya seru memakai baju adat. Program ini bagus sekali,” ujarnya.
Penggunaan pakaian adat dalam PKKMB ITN Malang bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud nyata dari komitmen kampus dalam merawat nilai-nilai kebangsaan dan persatuan. Melalui kegiatan ini, ITN Malang menunjukkan diri sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga peduli pada pelestarian budaya dan persaudaraan antar mahasiswa dari berbagai latar belakang. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

