Mahasiswa baru ITN Malang mengikuti outbound seru bersama Poltekad. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Suasana di Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) Kampus 1 tampak berbeda dari biasanya. Ratusan mahasiswa baru (maba) berkumpul di lapangan basket larut dalam kegembiraan dan semangat kolaborasi, Rabu (03/09/2025). Acara ini merupakan bagian dari kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB).
Gigantik 2025 hari terakhir dirancang untuk memberikan pengalaman yang seru dan berkesan bagi para maba sebelum mereka memulai perkuliahan. ITN Malang bekerja sama dengan Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) Kota Batu, menyajikan materi yang mencakup aktivitas luar ruangan (outbound) dan materi di dalam ruangan.
Baca juga: Maba ITN Malang Dibekali Materi Pengembangan Potensi Diri, Didorong Menjadi Pribadi Proaktif
Kapten Arh Dahliman, SH., koordinator dari Poltekad menjelaskan, Poltekad memberikan dua jenis kegiatan utama. Di lapangan dibawah komando Lettu Inf Khabib Cahyono ST., maba mendapatkan materi Peraturan Baris Berbaris (PBB) dan beragam game outbound yang melatih kekompakan. Sementara itu, di dalam ruangan mereka menerima materi dari Mayor Kav Joko Triyono, ST., MM., tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, jati diri bangsa, serta pembinaan kesadaran bela negara. Materi ini juga akan menekankan pentingnya Bhinneka Tunggal Ika dan semangat kesolidan dalam keberagaman budaya.
Sebanyak delapan permainan seru disiapkan untuk menguji kerja sama tim. Beberapa di antaranya seperti memindahkan dan mengisi air ke dalam gelas menggunakan slang kecil, hingga memindahkan bola secara berkelompok. Semua permainan ini dirancang untuk membangun kerja sama tim yang solid.
“Kami ingin para maba yang berasal dari berbagai suku, ras, dan daerah bisa bekerja sama dengan baik tanpa memandang perbedaan. Dari kegiatan ini, kita bisa melihat rasa empati dan sosial mereka saat berinteraksi dengan teman-teman baru,”ujar Kapten Dahliman.
Selain outbound, materi PBB dasar juga diberikan untuk melatih kedisiplinan maba. Gerakan-gerakan seperti sikap sempurna, istirahat di tempat, penghormatan, dan perubahan arah diajarkan karena sangat dibutuhkan dalam kegiatan upacara atau apel di kampus.
Baca juga: Komika Gilang Herlambang Ajak Mahasiswa ITN Malang Produktif di Era Digital
Menurut Dahliman, pola pembinaan untuk generasi Z saat ini berbeda karena mereka cenderung menyampaikan pendapat dengan argumentasi yang kuat. Oleh karena itu, materi di dalam ruangan juga ditekankan pada pentingnya disiplin, terutama dalam membedakan waktu belajar dan waktu penggunaan gawai.
“Kami juga membahas dampak positif dan negatif dari demonstrasi. Kami sampaikan bahwa kebebasan berpendapat itu ada, tetapi ada batas-batasnya. Jangan sampai merusak fasilitas umum. Jika sudah melanggar aturan, aparat akan bertindak tegas,” kata Kapten Dahliman.
Ia berharap materi yang telah diberikan dapat dipahami dan dilaksanakan oleh para maba. “Harapan besar kami adalah mereka bisa menjadi pemimpin di masa depan. Memanfaatkan waktu kuliah untuk belajar dan berlatih karena tantangan di masa depan akan lebih kompleks. Kuasai teknologi, tapi jangan lupakan kerja sama tim. Seperti kata pepatah, waktu ada masanya dan masa ada waktunya. Manfaatkan waktu kuliah sebaik-baiknya,” tutupnya.
Audiaz Archi Amallia, mahasiswa Teknik Kimia dari Kalimantan Timur, mengungkapkan pengalamannya terhadap acara Gigantik hari ke tiga. Menurutnya, kegiatan ini berhasil menciptakan kekompakan dan kelekatan di antara para maba. “Kegiatan bersama Poltekad ini seru, menambah pengalaman baru tentang jiwa korsa. Kami bisa makan bareng, dan saat ada teman yang belum bisa melakukan sesuatu, kami saling membantu dan belajar,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Jose Uai-lari de Jesus Freitas. Mahasiswa Teknik Sipil dari Timor Leste ini mengaku sangat menikmati kegiatan. Ia menambahkan bahwa beberapa permainan mengingatkannya pada masa kecil, dan kegiatan ini sangat efektif untuk melatih kerja sama tim.
“Sangat seru! Saya merasa dilatih mentalnya dan tidak malu lagi berbicara dengan orang lain, serta belajar bagaimana menghormati orang lain,” kata Jose. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

