itnmalangnews.id – Revolusi internet yang terjadi di era pasca modern telah membawa perubahan radikal dalam kehidupan manusia. Internet mengubah pola interaksi manusia yang kemudian turut menguba sektor-sektor kehidupan yang lain. Salah satu karakter penting pada era internet of things ini mencipatakan big data, yaitu kodifikasi atas identitas tertentu yang dapat digunakan untuk apapun. Demikian paparan Prof. Erry Yulian Triblas Desta, Ph.D, salah satu pembicara dalam acara SENIATI 2018 (Seminar Nasional Inovasi dan Applikasi Teknologi di Industri), Sabtu (3/2).
Menurut Prof. Erry semua aktivitas manusia saat ini langsung terekam menjadi suatu data. Misalnya, saat berbelanja ke minimarket tertentu, maka di sana terdokumentasi mulai dari berapa jumlah orang yang berbelanja dan jenis barang atau makanan apa saja yang dibeli. “Data ini secara tidak kita sadari, digunakan oleh pelaku bisnis untuk memetakan pasar. Mereka jadi tahu di satu wilayah tertentu lebih suka beli apa saja,” terang pria yang juga dekan teknik mesin International Islamic University Malaysia.
Alasan itulah yang membuat big data menjadi rebutan negara-negara besar dunia. Dengan big data, mereka dapat memproyeksikan langkah apa atau revolusi apa yang akan dilakukan di waktu yang akan datang. Sehingga mereka seakan-akan selalu lebih dulu dari negara-negara berkambang dalam melakukan suatu gerakan perubahan. “Dampak buruknya adalah kita selalu jadi pengikut dan peniru mereka. Tak pernah bisa melakukan terobosan,” lanjut pria yang pernah ngajar di Universitas Tarumanegara Jakarta itu.
Maka, jika negara berkembang ingin bersaing dengan negara maju adalah harus menguasai big data. Dari situ kemudian memproyeksikan sendiri perubahan masa depannya. Menurutnya, Malaysia sudah mulai melakukan hal-hal semacam ini. Salah satu buktinya, misalnya Malaysia membangun rumah sakit dan kampus yang bagus-bagus. Sehingga banyak orang Indonesia yang berobat kesana dan kuliah di sana, padahal dokter dan dosennya berasal dari Indonesia. “Ditempat saya mengajar ada sekitar 1000 mahasiswa asal Indonesia, padahal dosennya orang Indonesia,” kata dia. (her)
