SD Bintang Kelas, Sempat Putus Asa Kuliah, Kini Wakil Rektor III ITN Malang
itnmalangnews.id – Menyapa sambil tersenyum, itu salah satu kekhasan Dr.Eng.Ir.I Made Wartana,MT, Wakil Rektor III ITN Malang saat bertemu orang yang dikenalnya. Ditemui di ruang kerjanya, Made sapaan akrabnya, beberapa kali minta izin untuk mengangkat telepon yang berdering diatas mejanya. Tampak isi pembicaraannya sangat penting tentang kampus dan mahasiswa. Bidang yang dia tangani memang kemahasiswaan. “Mohon maaf, memang begini kesibukan saya di kantor. Karena semuanya harus saya layani agar berjalan dengan lancar,” ujarnya ramah.
Pembicaraan dengan pria kelahiran 3 Mei 1961 sangat menyenangkan, sarat akan pengalaman, dan motivasi. Tak ada kesuksesan yang instan dalam hidup ini, semua harus diperjuangkan dengan keringat dan pengorbanan. Made memulai hidup sebagai anak desa di Denpasar, Bali. Bapaknya seorang guru Sekolah Dasar (SD) dan ibunya pekerja rumah tangga biasa. Dia lahir sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara. “Saudara saya banyak, makanya kadang gaji bapak saya tidak cukup,” kenangnya.
Dalam hidup yang sangat sederhana itu, Made dididik cukup keras oleh sang ayah tentang hidup. Aktivitasnya diawasi, sepulang sekolah langsung ke sawah bekerja jadi buruh tani. Hasilnya sebagai tambahan biaya hidup di rumah. Namun demikian, pria tiga putra tersebut masih diberi kesempatan bermain dengan temannya. “Sore jam 3, itu saya main kelereng dengan teman-teman,” lanjutnya senyum. Tetapi yang membanggakan, meskipun disibukkan dengan kerja ke sawah dan mengawasi adik-adiknya di rumah Made selalu menjadi bintang kelas di SD sejak kelas 1 hingga kela 6.
Setelah lulus SD pada 1974, Made melanjutkan studi ke Sekolah Teknik Negeri (STN) jurusan teknik listrik di Kota Denpasar. Sebetulnya, bidang ini dipilih karena terpaksa. Awalnya dia ingin masuk jurusan teknik mesin. Tetapi setelah mendaftar formulirnya habis dan yang tersisa teknik listrik, terpaksa masuklah disitu. Mengapa pilih STN? Menurut suami Ir. Ni Putu Agustini MT itu niatnya langsung bekerja setelah sekolah agar tidak membebani ekonomi orang tua. “Saya melihat tetangga saya punya mesin jahit dan rame pelanggannya. Saya ingin seperti itu. Jadi ngiranya jurusan teknik mesin itu adalah mesin jahit. Di desa kekurangan informasi,” sesalnya.
Setelah tamat pada 1977, rupanya Made diminta melanjutkan ke STM (Sekolah Teknik Menengah) Negeri dengan jurusan yang sama. Di sekolah ini dia mendapat porsi belajar praktek lebih banyak ketimbang teori, jika dipersentasekan 60:40. Ini membuat niatnya untuk bekerja setelah sekolah semakin mantap. Dia juga dapat bersaing dengan anak-anak kota, dan berhasil masuk peringkat 10 besar. Tahun 1981 jenjang sekolah menengah atas tersebut berhasil dituntaskan.
Nah, sejak itulah perjuangan yang lebih berat dimulai. Rupanya ijazah STM belum cukup untuk mencari kerja mapan. Di tengah kegalauan itu, Made diminta untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi oleh pamannya, I Wayan Nerta. “Paman saya ini luar biasa, saya tidak punya uang di suruh kuliah,” uangkapnya. Made dibawa ke Malang dan didaftarkan di IKIP Malang tetapi tidak ada jurusan elektro. Lalu kemudian diajak ke jalan Veteran, disitulah pertama kalinya bertemu dengan ITN Malang yang saat itu masih ATN Malang. Dia daftar disitu.
Selama menunggu jadwal tes, Made mengisi hari-harinya di Malang dengan belajar pada anak-anak Bali yang kuliah di UM. Sempat berharap tidak lolos tes agar dapat kembali ke Bali. Tetapi rupanya Tuhan berkata lain. Dia malah lolos menduduki rangking satu. Dengan demikian biaya masuknya lebih ringan. “Rangking I biaya masuknya 350 ribu rupiah, rangking II 750 ribu rupiah, dan rangking III 1 juta rupiah,” paparnya.
Meskipun dinyatakan lolos, Made belum bisa tersenyum pasalnya dia tidak punya uang untuk membayar uang masuk tersebut. Mencoba berdiskusi dengan orang tua di Bali juga tidak punya solusi. Akhirnya, sang pamanlah yang membayari biaya masuk kuliah di jurusan elektro tersebut. Setelah diterima di ITN Malang, ternyata ada panggilan dari PLN Bali untuk menjadi karyawannya. “Tetapi saya tetap memilih kuliah di ITN,” ucap alumni ITB itu tersenyum.
Menurutnya selama kuliah awal dirinya mengalami kesulitan untuk pelajaran teoritis macam matematika dan fisika. Karena di STN dan STM dia lebih banyak praktek ketimbang teori. Tetapi untung, imbuhnya, dosennya sangat sistematis dalam mengajar. Selama setahun awal dia memperbaiki pengetahuan eksaknya, termasuk belajar dengan teman-temannya yang pintar eksak salah satunya Prof. Abraham Lomi (mantan rektor ITN Malang). “Kadang saya juga belajar pada dosen, biasanya teman cewek yang dijadikan umpan agar dosennya mau,” ujarnya tertawa.
Selain bergelut dengan tugas-tugas kuliah, Made juga aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Elektro. Kemudian aktif di seni bela diri UKM Sorenji Kempo. Untuk bela diri ini, Made punya ceritanya sendiri. Suatu hari dia bertemu dengan dengan Prof. Abraham Lomi yang langsung memegang tangannya, seketika itu juga tanpa sadar dilepaslah pegangan itu dengan teknik kempo. “Prof. Lomi (sebutuan Prof. Abraham Lomi) bilang kamu anak kempo ya, kita saudara,” kenang dia menirukan ucapan Prof. Abraham Lomi yang sambil memeluk.
Sejak itu, mantan dekan FTI tersebut sering latihan bersama dengan Prof. Lomi di museum Brawijaya Malang. Alhasil, dia dipercaya mewakili ITN Malang di tingkat Provinsi Jawa Timur besama sebelas temannya yang lain. Mantan ketua himpunan keluarga pelajar mahasiswa Hindu dharma Malang tersebut berlatih keras demi kepercayaan tersebut. “Lebih baik berkeringat saat latihan, daripada berdarah saat bertarung,” itu jargon kami lanjutnya.
Semuanya telah siap, izin dari pimpinan kampus sudah dikantongi dan bahkan siap mendanai. Namun nasib belum berpihak kepadanya. Di perjalanan pulang dari ITN Malang ke kosnya Made mengalami kecelakaan keras. Kakinya patah dan tidak bisa mewakili ITN di level provinsi tersebut. Sejak saat itu, dia memilih berhenti menjadi bagian dari seni bela diri karate. “Namun saya sangat bangga dengan karate, disitu kita belajar disiplin dan rendah hari serta berorganisasi,” kata dia.
Setelah lulus dari ITN pada tahun 1986 dia menjadi staf karyawan bagian stempel di almamaternya. Nasibnya terus semakin membaik berkat usaha kerasnya. Dia kemudian ngajar pada tahun 1987 di kampus biru tersebut. Tak lama setelah itu, berkesempatan melanjutkan studi S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan yang sama, dan selesai pada tahun 1994. Pasca studi dia terpilih menjadi ketua jurusan teknik elektro. Dilanjutkan menjadi Wakil Dekan (WD) I Fakultas Teknik Industri (FTI) pada tahun 2008.
Merasa perlu menambah pengetahuan lagi, Made melanjutkan studi S3 di AIT (Asia Institute of Technology) jurusan electrical power enginering manajemen di Thailand. Studi ini dituntaskan pada tahun 2012, setelah itu dia menjadi sekretaris direktur pasca sarjana. Selanjutnya menjadi dekan FTI dan per 2015 diangkat menjadi Wakil Rektor (WR) III, bidang kemahasiswaan ITN Malang. Itulah perjuangan panjang yang mengesankan. (her)
