Kolaborasi: ITN Malang, PT Wika dan SUN Energy Wujudkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terbesar di Pulau Jawa

Rektor-ITN-Malang-Prof-Dr-Eng-Ir-Abraham-Lomi-MSEE-Ketua-P2PUTN-Ir-Kartiko-Ardi-Widodo-MT-PT-WIKA-Persero-Harum-Akhmad-Zuhdi-dan-Perwakilan-Direksi-PT-SUN-Energy-Reynaldi-Wijaya-bersama-undangan

Kolaborasi: Rektor ITN Malang Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE, Ketua P2PUTN Ir Kartiko Ardi Widodo, MT, PT WIKA (Persero) Harum Akhmad Zuhdi dan Perwakilan Direksi PT SUN Energy Renadi Kusumawiangga bersama undangan. (Foto: Yanuar/humas)


itnmalangnews.id –  Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang akan memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala kampus terbesar di Pulau Jawa dan terbesar kedua di Indonesia setelah ITERA (Institut Teknologi Sumatera). Panel surya berkapasitas 500 KWp/0,5 MWp akan dipasang di atas lahan seluas setengah hektar yang berlokasi di Kampus 2 ITN Malang, Jalan Raya Karanglo KM 2 Malang. Berkolaborasi dengan PT Wijaya Karya (WIKA) Persero dan PT Surya Utama Nuansa (Sun Energy) groundbreaking (peletakan batu pertama) dilakukan pada Jumat (05/03/2021).

Baca juga: www.itn.ac.id

Rektor ITN Malang, Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE menyatakan, keberadaan PLTS di Kampus Biru merupakan salah satu program pengembangan renewable energy (energi terbarukan). Sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan bauran EBT (Energi Baru Terbarukan) dengan menekan penggunaan energi berbasis fosil. Dimana tahun 2025 pemerintah menargetkan EBT naik 25 persen.

“Peletakan batu pertama ini mengawali pembangunan PLTS terbesar di Jawa dan kedua di Indonesia setelah ITERA. PT Wika dan SUN menawarkan kerjasama. Ini menjadi salah satu pengembangan renewable energy, dimana ITN memiliki jurusan-jurusan yang bisa mengembangkannya,” jelas Prof Lomi akrab disapa kepada awak media usai kegiatan.

Baca juga: Webinar Mahasiswa Elektro Ungkap Keinginan PT WIKA Kerjasama dengan ITN Malang

Menurut Prof Lomi, Indonesia memiliki potensi tenaga surya luar biasa. Dosen dan mahasiswa ITN Malang telah memiliki karya-karya panel surya berskala kecil. Bahkan sudah berinovasi dengan membuat panel surya yang bisa mengikuti gerakan cahaya matahari secara otomatis untuk memaksimalkan power yang diserap. Namun, untuk membangun panel surya/PLTS skala besar membutuhkan investor, sehingga ITN Malang tidak perlu mengeluarkan dana besar. Apalagi kampus 2 masih memiliki lahan yang cukup luas untuk mewujudkan PLTS.

“Setelah dihitung kebutuhan kampus 2 sekitar setengah Megawatt-peak (0,5MWp). Kalau nanti potensinya lebih maka bisa kami ekspor ke PLN. Di kampus 2 juga akan membangun kampus terintegrasi, kebutuhan energi listrik mungkin nanti kurang, maka kami bisa menambah setengah Megawatt-peak lagi,” kata Prof Lomi.

Baca juga: Inovasi Tiada Henti, Kali ini Giliran Mahasiswa Teknik Elektro Manfaatkan Solar Cell di Sentra Buah Naga, Banyuwangi


Diharapkan PLTS nantinya tidak hanya memenuhi kebutuhan operasional kampus, namun juga bisa menjadi laboratorium riset dosen dan mahasiswa serta berbagai pihak yang konsen terhadap energi terbarukan khususnya solar cell. Prof Lomi berharap dengan adanya PLTS ITN Malang juga bisa berkontribusi ke daerah. Pasalnya di beberapa daerah yang memiliki panel surya masih mengalami kesulitan dalam hal maintenance.

“Kami mempunyai jaringan bagus dengan kabupaten di Indonesia Timur. Mereka banyak memiliki panel surya, tapi masih kesulitan dalam maintenance. Jadi, kami bisa udang mereka ke sini (ITN) menawarkan pelatihan maintenance panel surya. Itulah kenapa kami berupaya keras untuk mewujudkan PLTS,” ungkap alumnus doktoral Asian Institute of Technology (AIT) Thailand ini.

Dikatakan Prof Lomi, dengan menggunakan energi terbarukan ITN Malang bisa menjadi kampus teknologi yang eco green. Dengan nilai investasi 7 miliar rupiah PLTS ITN Malang ditargetkan selesai tiga sampai empat bulan ke depan. Program ini juga membuka wacana ITN Malang untuk mengembangkan wisata teknologi.

Rektor-ITN-Malang-Prof-Dr-Eng-Ir-Abraham-Lomi-MSEE-kiri-bersama-Asisten-Wali-Kota-Malang-dan-Asisten-Bupati--732x487

Rektor ITN Malang, Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE (kiri) bersama Asisten Wali Kota Malang dan Asisten Bupati Malang melakukan pemasangan batu pertama PLTS berkapasitas 500 KWp/0,5 MWp di Kampus 2 ITN Malang, Jumat (05/03/2021).


Sementara itu Ketua Yayasan P2PUTN (Perkumpulan Pengelola Pendidikan Umum dan Teknologi), Ir Kartiko Ardi Widodo, MT mengatakan, ITN Malang sebagai perguruan tinggi berbasis teknik berkomitmen dan ikut berperan dalam mengurangi emisi karbon. Banyak penelitian dosen dan mahasiswa ITN Malang dalam pengembangan pikohidro dan solar cell. Namun, dengan kondisi saat ini solar cell lebih memungkinkan dikembangkan.

“Masing-masing energi terbarukan memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Indonesia memiliki cahaya matahari yang berlimpah, ini harus kita berdayakan. Nanti sistemnya PLTS on grid bersineri dengan PLN. Kalau ada potensi berlebih akan diekspor ke PLN, dan sebaliknya kalau malam listrik bisa langsung terkoneksi dengan PLN,” kata Kartiko.

Kegiatan groundbreaking kemudian ditutup dengan penghijauan di lingkunggan dekat dengan pembangungan panel surya. Selain Rektor ITN Malang, PT Wika dan PT Sun Energy, penanaman pohon juga dilakukan oleh para undangan dari pemerintahan kota dan pemerintahan Kabupaten Malang, serta pejabat rektorat dan dekannat di lingkungan kampus ITN Malang. (me/Humas ITN Malang)

(Visited 236 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *