Inspiring Success Story: Wahyu Hidayat Sekda Kabupaten Malang

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, alumnus PWK ITN Malang angkatan ’85 memberikan success story

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, alumnus PWK ITN Malang angkatan ’85 memberikan success story, di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, Sabtu (19/3/2022). (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


itnmalangnews.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, mengawali karirnya dari bawah sebagai pembuat, dan pengantar surat di lingkungan Pemkab Malang. Alumnus Planologi (sekarang Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK)), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini pun akhirnya menjadi pemimpin tertinggi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten Malang sebagai sekda. Hal ini terungkap tatkala Wahyu menyampaikan success story di hadapan wisudawan, dan tamu undangan pada Wisuda ke-67 Periode 1 Tahun 2022, di Auditorium Kampus 1 ITN Malang.

Baca juga:  www.itn.ac.id

“Awal menjadi PNS (sekarang ASN) saya ditempatkan di badan kepegawaian daerah. Pertama kali masuk ada semacam training. Saya sempat membuat surat, dan mengantarkan surat. Padahal, dulu saat kerja di konsultan pendapatan saya sudah lumayan,” ujar Wahyu, Sabtu (19/3/2022).

Wahyu sudah melewati perjalanan panjang untuk sampai di posisi sekarang. Mantan Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) tersebut sebelumnya pernah menjabat sebagai kepala di beberapa dinas di lingkungan Pemkab Malang. Wahyu pernah juga menjabat sebagai Kepala Kantor Perumahan, Camat Tajinan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Kepala Dinas Pengairan.

Baca juga: Alumni Teknik Kimia Beberkan Potensi Katalis dari Sampah Organik

“Menjadi suatu kehormatan bagi saya bisa memberikan success story di hari ini. Padahal sesungguhnya banyak alumni ITN Malang yang lebih sukses dari saya dan layak menyampaikan success story. Semoga, kedepannya senior dan yunior saya juga dapat menyampaikan success story di acara yang sama,” lanjutnya.

Lulusan PWK angkatan pertama tahun ’85 ini mengaku, ketika awal mendaftar kuliah ia dan teman-temannya belum paham betul apa jurusan PWK (dulu planologi). Namun, dengan nama besar ITN Malang kala itu, Wahyu yakin dan memantapkan diri untuk mendaftar di ITN Malang.

Ketika kuliah Wahyu proaktif mencari pengalaman di luar bangku kuliah. Ia aktif mengikuti organisasi himpunan mahasiswa jurusan (HMJ). Saat itu, awal berdirinya HMJ PWK masih bergabung dengan HMJ Teknik Geodesi S-1. Untuk menambah pengalaman Wahyu juga ikut berbagai proyek di luar kampus.

Baca juga: Alumni ITN Malang Dalangi Pembangunan Jembatan Fenomenal Simpang Susun Semanggi Jakarta

“Perguruan tinggi waktu itu masih sangat jarang yang memiliki jurusan planologi. Jadi, untuk mendapatkan informasi tambahan kami ikut proyek-proyek. Hasilnya biasa menambah pengetahuan, dan pendapatan. Kami tetap selektif memilih proyek agar bisa cepat lulus. Targetnya lima tahun harus lulus kuliah,” aku Wahyu.

Angkatan pertama PWK inipun lulus, dan oleh teman-temannya dijuluki “The First Planner”. Dalam pikiran Wahyu lebih cepat ia lulus, maka akan lebih cepat mendapatkan pendapatan, ataupun lapangan pekerjaan. Dan benar, pada saat kelulusannya berbarengan dengan pembukaan PNS. Wahyu lolos kemudian ditempatkan di Pemkab Malang.

“Kalau dibandingkan pendapatan di konsultan, dan pemkab jauh berbeda. Tapi, dengan keyakinan saya, saya memilih berkarir di pemkab. Saya punya target, dan saya yakin pimpinan akan melihat itu (kinerja),” lanjutnya.

Sebagai bekal bagi mahasiswa dan lulusan ITN Malang, Wahyu memberikan beberapa nasehat. Pertama, saat kuliah aktiflah dalam berorganisasi. Karena setelah lulus kita tidak tahu akan menjadi apa, maka berorganisasi akan menjadi bekal dalam bermasyarakat. Kedua, penunjang kuliah/nilai tambah. Mahasiswa harus proaktif mendapatkan nilai tambah dari luar perkuliahan. Ketiga, punya target. Mempunyai suatu program, agar target-target dapat terselesaikan. Keempat, dijalankan mulai dari bawah. Kalau menjalankan suatu pekerjaan jangan melihat apa yang pernah kita lakukan kemarin (kemarin kita seperti apa). Tapi, laksanakan dengan baik yang ada di depan kita.

Kelima, tunjukkan kemampuan yang berbeda. Tidak hanya melakukan tugas rutin, tapi punya inovasi. Berikan gambaran bahwa kita mempunyai kemampuan, dan keahlian. Keenam, tanggap dan loyal. Ini menjadi suatu ketentuan dalam melaksanakan tanggung jawab. Ketujuh, jangan berpikir pendapatan dan jabatan, karena pada waktunya pasti pendapatan dan jabatan akan datang menyesuaikan. Melaksanakan pekerjaan dengan baik, agar pimpinan mengetahui, dan nantinya akan mendapatkan reward. Kedelapan, tingkatkan SDM. Jangan cepat puas dengan pendidikan yang sudah kita dapatkan.

“SDM harus kita tingkatkan, karena perkembangan zaman akan selalu berbeda dengan sebelumnya. Tingkatkan pendidikan anda, selesai S-1 lanjutkan ke S-2, dan tingkatkan kemampuan-kemampuan yang lain. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan dapat diikuti. Kalian kelak dapat lebih baik dari saya,” tandas Wahyu yang sempat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang doktor/S-3. Bahkan sempat mengenyam akta 4 mengajar di Institute Housing Study (IHS)/ MURD Course Rotterdam, Belanda, pada tahun 1996 tentang perencanaan wilayah, serta kursus keuangan kerjasama Kementerian Keuangan RI dengan Universitas Adelaide, Australia. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

(Visited 271 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *