Dosen Muda ITN Malang Ciptakan Inovasi Alat Mitigasi dan Deteksi Bencana

Vega Aditama ST MT, dosen Teknik Sipil S-1 ITN Malang membuat alat Strain Meter Nirkabel dan Alat Pendeteksi Longsor.

Vega Aditama ST MT, dosen Teknik Sipil S-1 ITN Malang membuat alat Strain Meter Nirkabel dan Alat Pendeteksi Longsor. (Foto: Istimewa)


itnmalangnews.id – Vega Aditama ST MT merupakan salah satu dosen muda Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Sudah banyak karya yang Vega hasilkan sejak ia mendedikasikan diri sebagai dosen Teknik Sipil S-1 ITN Malang sejak tahun 2020 lalu.

Baca juga:  www.itn.ac.id 

Sebagai tenaga ahli bidang teknik sipil, ada dua inovasi yang telah dibuat Vega dalam pegembangan keilmuannya. Yakni Strain Meter Nirkabel dan Alat Pendeteksi Longsor. Inovasi ini berfungsi sebagai mitigasi dampak bencana alam, sehingga mampu menekan kerusakan material yang berpotensi menyebabkan kematian.

Strain Meter Nirkabel berfungsi untuk mengetahui apakah sebuah bangunan masih mampu bertahan akibat getaran oleh bencana alam atau tidak. Sementara Alat Pendeteksi Longsor sesuai namanya untuk mengetahui tingkat kerawanan terjadinya bencana tanah longsor.

“Teknologi ini bisa dipantau real-time (langsung) melalui perangkat handphone. Karena memanfaatkan teknologi arduino (robotik) dan komputer mini yang terhubung dengan internet,” katanya. Vega mewujudkan idenya sejak tahun 2020 awal ia berkarir sebagai dosen di ITN Malang.

Baca juga: Terapkan Green Construction Management Tim Teknik Sipil ITN Malang Juara 2 Kompetisi Tender Tingkat Nasional di Sukoharjo

Menurutnya, dengan Strain Meter Nirkabel seseorang bisa mendeteksi kondisi bangunan. Caranya detektor ditanamkan di tulangan beton, lalu sensor akan mengirimkan kondisi terkini dari elastisitas tulangan tersebut.

“Apabila elastisitas tulangan sudah melewati batas, maka harus dilakukan retrofitting (penguatan kembali) atau merombak struktur bangunan tersebut,” jelas Vega.

Menjadi kendala saat ini adalah masih adanya masyarakat yang kurang peduli akan kondisi bangunan. Padahal, apabila bangunan sudah mencapai titik plastis (tidak bisa kembali ke bentuk semula), maka kerusakan bangunan akibat dampak bencana alam dipastikan sangat besar. Kondisi ini tentu akan membahayakan penghuninya.

Sementara, Alat Pendeteksi Longsor berfungsi untuk mengecek kondisi kejenuhan tanah. Tanah yang jenuh memiliki kandungan air berlimpah. Hal tersebut membuat tanah memiliki tingkat kerawanan longsor yang sangat tinggi. Ada dua sensor yang ia pasang dalam alat tersebut.

“Sensor yang pertama mendeteksi tingkat kelembaban tanah. Sehingga kita bisa mengetahui sejauh mana kejenuhan tanah. Kemudian ada juga sensor regangan. Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi tekanan tanah yang besar, sebagai tanda bahwa akan terjadi longsor,” ungkap Vega.

Baca juga: Mesin Grinder Jamu Buatan Dosen ITN Malang, Bantu Tingkatkan Pendapatan Warga Desa Gunungrejo, Malang

Kedua alat ini memiliki nilai guna yang tinggi, namun harganya terjangkau. Menuru Vega, ia menghabiskan kisaran 700 ribu hingga 1 juta rupiah. Berbeda jika membeli alat impor harganya akan jauh lebih mahal. “Ini baru pertama di Indonesia, alat pendeteksi dengan harga murah dan mudah didapat,” terang Vega yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Brawijaya (UB).

Dikatakan Vega, untuk penggunaan Strain Meter Nirkabel sasarannya adalah obyek vital seperti bangunan pemerintahan, bangunan tinggi, dan bangunan di lokasi rawan bencana khususnya gempa bumi. Untuk itu ia sudah bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk Pemkab Trenggalek. Kalau untuk pendeteksi longsor sasarannya pada lokasi rawan seperti di lereng bukit atau gunung.

Vega juga selalu mengikuti perkembangan teknologi. Ia turut mempelajari elektronika dan coding selama dua tahun. Menurutnya, dengan kolaborasi berbagai bidang keilmuan, maka ilmu teknik sipil bisa diterapkan lebih luas mengikuti perkembangan teknologi saat ini.

“Sekarang sudah banyak internet, bahkan sudah sampai pada 5G. Ini harus kita manfaatkan. Khususnya saya yang mempelajari teknik sipil juga memanfaatkan perkembangan teknologi sesuai bidang keilmuan saya,” katanya. Ia berharap semua inovasi yang dibuatnya bisa bermanfaat bagi seluruh masyarakat. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

(Visited 52 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *