Nur Ikhsan Hadi lulusan Teknik Industri S-1 ITN Malang sekaligus Duta Kampus 2024 diterima kerja di PT Mayora Indah Tbk Purwosari sebelum wisuda. (Foto: Istimewa)
itnmalangnews.id – Bagi Nur Ikhsan Hadi, perjalanan meraih gelar sarjana Teknik Industri S-1, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) benar-benar sebuah perjuangan fisik dan mental. Bagaimana tidak? Selama 3,5 tahun kuliah, ia melakoni rutinitas pulang-pergi (PP) dari rumahnya di Kepanjen, Kabupaten Malang ke Kampus 2 di Karanglo. Panas matahari, kulit belang, hingga risiko di jalanan sudah jadi makanan sehari-hari.
Baca juga: Tak Hanya Manufaktur, Lulusan Terbaik ITN Malang Buktikan Teknik Industri Bisa Dongkrak Hasil Ternak
“Ingat, BBM mahal, jadi tidak ada alasan buat malas-malasan,” selorohnya saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp mengenang masa-masa berjuang di jalanan.
Namun, lelahnya terbayar tuntas. Sebelum resmi dikukuhkan pada Wisuda ke-75 Periode I akhir April 2026 lalu, Ikhsan sudah lebih dulu masuk dunia profesional. Ia resmi bergabung dengan raksasa consumer goods PT Mayora Indah Tbk Purwosari sebagai staf Production Planning and Inventory Control (PPIC).
Bagi banyak mahasiswa, mata kuliah PPIC mungkin dianggap berat karena penuh dengan hitungan dan perencanaan rumit. Tapi bagi Ikhsan, ini adalah passion. Saking cintanya, skripsinya pun membahas tentang penjadwalan produksi.
Nur Ikhsan Hadi lulusan Teknik Industri S-1 ITN Malang, saat dikukuhkan oleh Rektor ITN Malang, Awan uji Krismanto, ST., MT., PhD. (Foto: Humas ITN Malang)
“Saya memang orangnya suka planning. Hal kecil saja sering saya buatkan dokumennya supaya rapi. PPIC itu jantungnya produksi. Kalau jadwal tidak sesuai, siap-siap saja beradu argumen dengan divisi lain,” ujar mantan asisten laboratorium ini sambil tertawa.
Menurutnya, ilmu dari dosen favoritnya, Ibu Emmalia Adriantantri, sangat terpakai di lapangan. Meski rumus di buku tidak semuanya bisa langsung dijiplak, konsep berpikir mulai dari peramalan hingga penentuan kapasitas produksi menjadi modal utamanya di Mayora.
Jalan Ikhsan menuju Mayora terbilang dramatis. Ia menjalani proses rekrutmen justru saat sedang dalam masa pemulihan pasca operasi kaki kiri pada Ramadan lalu. Baru dua hari setelah operasi, ia nekat melamar lewat info di Instagram.
Tahap demi tahap ia lalui, mulai dari psikotes online hingga wawancara user tepat di hari ketiga Lebaran. “Alhamdulillah, 10 April sudah dapat offering letter. Rasanya campur aduk, senang tapi deg-degan nunggu hasil MCU. Begitu dinyatakan fit, langsung onboarding,” kenangnya.
Prestasi Ikhsan memang mentereng. Selain lulus cepat, ia adalah salah satu dari Top 10 Duta Kampus ITN Malang 2024, aktif dalam publikasi jurnal Sinta 4, hingga melakukan pengabdian masyarakat terkait pewarna batik alami di Singosari dan Purwosari.
Pencapaian ini tidak membuat Ikhsan jemawa. Ia mengaku sudah mengirim lamaran ke lebih dari 50 perusahaan sejak lulus seminar hasil pada Desember 2025 lalu. Baginya, puluhan kegagalan psikotes dan wawancara adalah proses yang harus dinikmati.
“Bukan saya yang hebat, tapi doa orang tua yang selalu terpanjat. Buat teman-teman, jangan malas. Kalau merasa malas, ingat orang tua yang harus ditinggikan derajatnya,” pesan alumnus SMKS Muhammadiyah 1 Kepanjen, Jurusan Teknik Kimia ini.
Ia memilih ITN Malang atas saran gurunya karena reputasi lulusan tekniknya yang sudah kondang. Kini ia membuktikan bahwa lulusan Kampus Teknologi dan Inovasi ITN Malang benar-benar siap bersaing. Targetnya ke depan sederhana namun mulia yakni, ingin terus menanjak dalam karier agar ilmu yang didapat bisa berguna bagi banyak orang. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

