itnmalangnews.id – Batik merupakan salah satu identitas bangsa dan warisan budaya yang unik. Karena keunikannyalah batik dijadikan salah satu ikon bangsa yang sangat diminati oleh dunia internasional. Permintaan pasar dalam negeri maupun luar negeri akan batik tulis dengan warna alami membuat kesulitan pengrajin tradisional untuk mencari bahan baku zat pewarna alami. Hal inilah yang mendorong dosen ITN Malang, Nelly Budiarti, MSIE., dan tim mengembangkan zat warna alami dalam bentuk bubuk yang dilengkapi dengan bahan pelengkap dan cara penggunaan.
Nelly Budiarti, MSIE., menjelaskan, selama ini pengrajin menggunakan pewarna dari zar warna sintetis. Selain terlalu mencolok/tua juga harganya semakin mahal, karena harus dibeli dari luar kota. Sedangkan kalau memakai zat warna alami, warnanya akan terasa adem dan ramah lingkungan. Selain membuat zat warna alami dosen teknik industri ini juga akan membuat batik motif banteng. “Kita mencari yang spesifik sehingga bisa dijadikan ikonnya Malang. Selama ini batik motif banteng belum ada, dan bisa menjadi baju spesial bagi penonton sepak bola yang fanatik,” ungkapnya pada itnmalangnews.id beberapa waktu yang lalu di Kampus I ITN Malang.
Program pembuatan dan pengembangan zat alami dan batik motif banteng ini telah diajukan oleh Nelly Budiarti, MSIE dalam usulan program Iptek bagi Kreativitas dan Inovasi Kampus (IbKIK). Hibah pengabdian kepada masyarakat Multi Years-2016 tersebut bertema Pewarna Alami Bubuk dan Batik Motif Banteng. Dengan adanya kreativitas dan inovasi ini, ITN Malang ikut serta dalam melestarikan budaya batik yang telah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai “The Intangible Cultural Heritages of Humanity” (warisan budaya tak benda bagi kemanusiaan). Sehingga tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai hari batik nasional sebagai bentuk apresiasi tinggi dari pemerintah untuk seni dan budaya Indonesia berupa batik. (sar)
