itnmalangnews.id – Debut pertama lomba english debate Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menjadi pijakan penting untuk tampil di ajang nasional dan internasional ke depannya. Awal yang baik tentu saja akan berdampak pada hasil yang baik. “Memang kita baru mulai belajar debat berbahasa Inggris, tetapi kita harus menatap jauh bagaimana kita dapat berkiprah di ajang nasional dan internasional nanti,” terang Kukuh Dafi, pelatih debat berbahasa Inggris ITN Malang saat ditemui di sela-sela technical meeting menejelang lomba debat 9 Desember mendatang.
Menurut pria asli Malang tersebut, pagelaran lomba debat yang sifatnya internal ini pada dasarnya untuk mengenalkan debat berbahasa Inggris ke ITN Malang. Mengingat beberapa kampus di Malang sudah memiliki tim debat. Selain itu juga dalam rangka menyaring mahasiswa-mahasiswa yang memang memiliki bakat berdebat untuk dilatih sebagai debater. “Berdebat itu tidak semua orang bisa. Kita harus memilih orang yang memang punya potensi membela diri atau membela pendapatnya,” lanjut alumni Universitas Kanjuruhan Malang itu.
Kukuh juga menyampaikan harapannya, setelah kegiatan lomba ini ITN Malang membentuk komunitas debat. Komunitas inilah yang akan menyelenggarakan latihan lomba debat secara rutin untuk para mahasiswa. Karena apapun alasannya debater tidak lahir secara instan melainkan harus diasah. “Tidak bisa belajar debat sehari langsung bisa dan hebat, butuh waktu yang panjang dan butuh kesabaran untuk terus rutin latihan,” tambahnya.
Sistem debat apa yang akan digunakan dalam lomba kali ini? Pria yang juga pelatih debat di beberapa sekolah tersebut menyatakan akan menggunakan sistem Asia. Dalam sistem ini ada tiga orang debater setiap tim. Satu tim akan berhadap hadapan dengan tim lain yang juga berjumlah tiga orang. Di situlah mereka saling berdebat satu sama lain.
Menurut Kukuh, sistem Asia ini memang yang jamak dipakai di Kota Malang hingga level nasional. Tetapi nanti di level internasional menggunakan British Parliementary (BP). Di mana setiap tim hanya ada dua orang, dan dalam satu ronde debat diikuti empat tim yang berbeda. “Sistem ini secara sesensial sama saja dengan Asia hanya jumlah orangnya saja yang berbeda,” tuturnya. (her)
