Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., membuka wawasan siswa terhadap Teknik Geodesi secara mendasar. (Tangkapan layar Zoom Meeting)
itnmalangnews.id – Program Studi Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar trial class bertajuk “Smart Mapping, Smart Future – Jelajahi Dunia Geospasial yang Seru dan Menjanjikan” pada Rabu, (25/06/2025). Menghadirkan narasumber Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., dosen sekaligus tenaga ahli Teknik Geodesi ITN Malang.
Acara yang dilaksanakan secara luring ini diikuti 34 peserta dari berbagai sekolah di Jawa Timur, dan luar Jawa termasuk SMKN 6 Malang, SMKN 1 Singosari, SMA Katolik Frateran Malang, SMK PU Malang, SMK Negeri 1 Lumajang, dan lainnya. Hadir pula dari SMK 34 Jakarta, SMK Ile Lewotolok Lembata NTT, dan SMA Negeri 1 Rindi Umalulu Sumba Timur NTT.
Baca juga: Mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang Pelajari Teknologi Pemetaan LiDAR SLAM Terkini
Kaprodi Teknik Geodesi S-1, ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., memaparkan secara singkat sejarah dan perjalanan Teknik Geodesi ITN Malang. Teknik Geodesi ITN berdiri sejak tahun 1985, sekarang usianya sudah 40 tahun. Teknik Geodesi merupakan jurusan di kampus swasta pertama di Indonesia.
“Usia yang sudah matang ini menjadi bukti komitmen ITN Malang dalam mendidik anak-anak bangsa yang berkompeten di bidang geodesi dan geomatika,” ujar kaprodi yang akrab disapa DK Sunaryo ini.
DK Sunaryo menegaskan misi luar biasa Teknik Geodesi ITN Malang, yaitu unggul dalam penguasaan keilmuan dan teknologi di bidang geodesi dan geomatika. Untuk mendukung hal tersebut, Teknik Geodesi ITN Malang memiliki tujuh laboratorium yang lengkap, dirancang untuk memastikan setiap mahasiswa memiliki kompetensi mumpuni di bidangnya.
ITN Malang juga beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk di bidang geodesi dan geomatika. Salah satunya artificial intelligence (AI). ITN Malang pun mengembangkan dan mengaplikasikan AI di bidang geodesi dan geomatika. Harapannya, sesuai kurikulum yang dikembangkan semua yang dihasilkan dalam bidang geodesi dalam bentuk data science. Ia optimis perkembangan ke depan, geodesi tidak akan bisa digantikan oleh robot.
“Karena di dalamnya selalu ada analisis, ada survei di lapangan sebagai akuisisi data, ada pengolahan, dan penyajiannya dalam bentuk spatial data base. Jadi, jika ingin berkarya di geodesi dan geomatika, Prodi Teknik Geodesi ITN Malang siap menerima dan mencetak tenaga yang siap berkompetisi di bidang geodesi dan geomatika,” pungkasnya.
Sementara, Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., membuka wawasan siswa terhadap Teknik Geodesi secara mendasar. Menurutnya, dari sisi bidang keilmuan geodesi dibagi menjadi enam bidang utama: fotogrametri, penginderaan jauh, sistem informasi geografis (SIG), hidrografi, terestrial, dan kadastral.
“Kalau di pendidikan tinggi, ada bidang penciri khas jurusan. Di Teknik Geodesi ITN Malang bidang penciri khasnya adalah hidrografi, di mana praktikumnya kami laksanakan di Pantai Sendang Biru, Malang Selatan,” jelas Krishna. Ia menambahkan bahwa secara umum geodesi terbagi menjadi tiga matra, yakni matra darat, matra udara, dan matra laut. Ketiganya merupakan area fokus kerja geodesi.
Krishna juga menjelaskan bagaimana geodesi mampu memetakan dunia yang tidak kasat mata. Mulai dari 2 dimensi, 3D, 4D, juga banyak dimensi lainnya yang tidak kasat mata. Caranya dengan menggunakan bantuan dari citra satelit untuk bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa.
Ia kemudian memberikan gambaran langsung mengenai peralatan yang digunakan dalam praktikum. Ketika geodesi praktikum bisa menggunakan drone, pesawat untuk pemetaan matra udara. Selain itu, dikenalkan alat ukur darat seperti Total Station dan GPS, serta Terrestrial Laser Scanner (TLS) yang berfungsi untuk pemetaan detail 3D.
“Kami pernah mencoba menggunakan ini (TLS) saat pemetaan di daerah Kayutangan Malang. Ini juga bisa digunakan untuk pemetaan di bidang yang memerlukan data 3D tinggi, seperti reservasi bangunan bersejarah atau pemetaan detail infrastruktur pabrik,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia membahas bidang kadastral yang berkaitan dengan batas-batas kepemilikan tanah. Menurutnya pekerjaan ini berhubungan dengan ATR/BPN, dan paling banyak proyeknya. Sementara di bidang fotogrametri ia menjelaskan bagaimana survei foto udara digabungkan untuk menghasilkan peta 3 dimensi dengan kondisi real di lapangan.
“Kebetulan untuk fotogrametri ini paling sering digunakan sebagai sumber peta dasar, baik itu oleh BPN maupun oleh Badan Informasi Geospasial. Teknik Geodesi punya drone sendiri untuk melakukan penginderaan. Jadi, adik-adik kalau praktikum itu tenang saja, kami punya alatnya semua,” ia meyakinkan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

