Tim survei dari Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Timur saat survei lapangan ke Pura Astawinayaka. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Pura Astawinayaka yang berdiri di area Kampus II, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) selangkah lagi bakal mempunyai wajah baru. Rencana pembangunan tahap keempat untuk melengkapi area suci ini mulai menemui titik terang setelah tim survei dari Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Jawa Timur datang langsung melakukan verifikasi lapangan pada Jumat (07/03/2026).
Baca juga: Semarakkan Hari Raya Kuningan, IMHD ITN Malang Gelar Lomba Gebogan
Kedatangan tim survei yang dipimpin oleh Siti Masayu ini disambut hangat oleh Ketua Perkumpulan Pengelola Pendidikan Umum dan Teknologi Nasional (P2PUTN) Malang, Ir. Kartiko Ardi Widodo, MT., Wakil Rektor 3 ITN Malang Dr. Hardianto, ST.,MT., serta jajaran pengurus pura. Agenda utamanya untuk memastikan bahwa proposal pembangunan senilai kurang lebih setengah miliar rupiah yang diajukan pengurus memang layak untuk didanai.
Penasehat Pengurus Pura Astawinayaka, Prof. Dr. Eng. Ir. I Made Wartana, MT., menjelaskan bahwa persaingan untuk mendapatkan hibah ini sangatlah ketat. Pihaknya sudah bergerak sejak awal 2025 untuk mengusulkan dana kelanjutan pembangunan pura tahap IV. Hal ini sebagai tindak lanjut hasil audiensi pengurus pura Astawinayaka didampingi pengurus P2PUTN kepada Ketua DPRD Kota Malang beberapa tahun sebelumnya.
Prof. Dr. Eng. Ir. I Made Wartana, MT., (tengah), bersebelahan dengan Siti Masayu saat survei lapangan ke Pura Astawinayaka. (Foto: Mita Humas ITN Malang)
“Ada tiga titik pembangunan penting yang kami ajukan untuk melengkapi bangunan fisik pura, yaitu candi kurung yang akan diapit dua candi bentar pemedal di sisi kiri dan kanan, dan bale simpen yang terletak di utama mandala serta bale gong yang berlokasi di madya mandala pura,” ungkap Prof. Made yang juga menjabat Ketua Majelis Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang.
Menariknya, agar menjaga pakem dan keseragaman arsitektur Hindu Bali, ornamen bangunan ini nantinya tidak dikerjakan di lokasi. Komponen bangunan akan digarap langsung di bengkel seni di Bali, baru kemudian dikirim dan dirakit ulang di Pura Astawinayaka.
Baca juga: Resmikan Kapel St. Thomas Aquinas, Uskup Malang dan Wali Kota Puji Semangat Toleransi ITN Malang
Tim survei tidak hanya melihat titik lokasi, tapi juga berdialog membedah kebenaran proposal dan dokumen pendukung lainnya. Prof. Made menegaskan bahwa dari sisi administrasi, Pura Astawinayaka sudah sangat siap.
“Legalitas pura sudah diakui dengan terbitnya surat tanda daftar rumah ibadah no. 9956/DJ.VI/ TI/BA.00/04/2025 oleh Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI. Urusan status tanah dari yayasan dan pihak ITN pun sudah beres semua,” tambahnya.
Menurutnya, jika dana hibah ini cair, pengurus melalui kepanitiaan diberikan waktu sekitar 120 hari untuk menyelesaikan pembangunan dan melaporkan progres penyerapan dananya.
Keberadaan Pura Astawinayaka memang punya peran penting. Selain menjadi pusat ibadah bagi sivitas akademika ITN Malang, pura ini juga berfungsi sebagai pura teritorial bagi umat Hindu di wilayah Kecamatan Blimbing, bahkan sering dikunjungi umat dari Kecamatan Singosari.
“Harapannya kami, dengan sarana fisik yang semakin lengkap, kualitas ibadah (sradha) dan bhakti umat Hindu di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar bisa terus meningkat,” pungkas dosen Teknik Elektro ini. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

