Ustadz Rizqi Agung Pamuji, alumnus Al-Ahgaff Hadramaut, Yaman, mengisi kajian Ramadan di Masjid Al-Kautsar Kampus 2 ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Memasuki pekan kedua bulan suci Ramadan 1447 H/2026, suasana di Masjid Al-Kautsar Kampus 2, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) terasa semakin hangat. Bukan tanpa alasan, Lembaga Dakwah Islamiah (LDI) ITN Malang baru saja menggelar kajian spesial bertajuk Fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan pada Kamis (26/02/2026).
Baca juga: UKM Format ITN Malang Berbagi Ilmu “Content Creator” di Acara Tadarus Foto Unitomo
Tak tanggung-tanggung, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) LDI menghadirkan Ustadz Rizqi Agung Pamuji, alumnus Al-Ahgaff Hadramaut, Yaman, untuk memberikan “asupan rohani” bagi para mahasiswa ditengah jadwal kuliah, tugas, dan praktikum.
Dalam ceramahnya, Ustadz Rizqi mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar. Ia menceritakan bagaimana para sahabat Nabi terdahulu sudah rindu dan bersiap menyambut Ramadan sejak enam bulan sebelumnya.
“Kuncinya adalah tahu hakikat Ramadan. Ini adalah bulan di mana semua amal ibadah dilipatgandakan. Kalau kita tidak merasa senang dengan datangnya Ramadan, ada yang perlu dievaluasi dari hati kita,” ungkap Ustadz.
Mahasiswa ITN Malang buka bersama di Masjid Al Kausar Kampus 2.
Ia juga berpesan agar mahasiswa menjaga hati dari penyakit iri, dengki, dan riya. Jangan sampai puasa berakhir sia-sia, hanya dapat lapar dan dahaga saja karena lisan dan hati tidak terjaga. “Jadikan Ramadan sebagai perantara menghapus dosa dan memperbaiki hubungan sesama manusia,” pesannya.
Moh. Yunus Maulana, Ketua LDI ITN Malang, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa punya keseimbangan. Di tengah kesibukan mengejar ilmu dunia, urusan akhirat jangan sampai terlewatkan.
“Kami sengaja mengundang Ustadz Rizqi lagi karena tahun lalu pembawaannya sangat cocok dengan mahasiswa. Alhamdulillah, beliau berkenan hadir kembali,” kata Yunus.
Selama Ramadan, Masjid Al-Kautsar akan semakin hidup dengan agenda rutin:
- Tadarus Al-Qur’an harian
- Buka bersama (takjil dan nasi kotak disediakan panitia)
- Kajian sore yang rencananya digelar tiga kali setiap Kamis
Yunus mempunyai mimpi besar ke depan agar kajian seperti ini tidak hanya dinikmati internal kampus saja. “Harapannya bisa dibuka untuk masyarakat umum juga. Menjadi momentum untuk memperkenalkan ITN kepada warga sekitar lewat jalur syiar,” tambahnya.
Bagi Yunus, kampus bukan sekadar tempat mengejar IPK. Ia pun mengajak mahasiswa untuk lebih sering meluangkan waktu untuk berkumpul positif. Bukan hanya untuk membahas materi kuliah atau ilmu duniawi, tapi juga menghidupkan forum diskusi yang bisa menambah keimanan.
Bagi mahasiswa seperti Audrey Shabuna Jarsiy Sanjaya, dan Helma Liana Putri, kajian ini jadi penyelamat di tengah penatnya tugas kuliah, dan praktikum di Prodi Bisnis Digital.
“Bagus sekali, apalagi buat kami yang tinggal di kos sekitar kampus. Kalau mau ikut kajian di luar sering terkendala transportasi. Dengan adanya kajian di kampus, kami jadi lebih aware apa saja yang harus disiapkan selama bulan Ramadan ini,” ujar Audrey.
Senada dengan Audrey, Helma merasa pemateri sangat interaktif. Meski baru dimulai satu minggu setelah Ramadan, ilmu yang didapat dirasa cukup untuk menjadi modal meningkatkan kualitas ibadah selama sisa Ramadan ke depan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

