Pengaruh Interior dalam Sudut Pandang Arsitektur

itnmalangnews.id – Interior suatu bangunan atau ruangan menjadi salah satu konsentrasi Ilmu Arsitektur. Hal ini dikenal dengan istilah enviroment physocological di mana arsitek berkonsentrasi pada desain produk arsitektur yang berinteraksi dengan manusia. Interior mampu memengaruhi psikologi orang di dalamnya, mulai dari kreativitas sampai produktivitas.

Dose ITN Malang Pengaruh Interior dalam Sudut Pandang Arsitektur

(ki-ka) Announcer City Guide 911 FM, dosen Psikologi UIN, dan Ghoustanjiwani Adi Putra dosen ITN Malang. (foto: Istimewa)


Baca juga: www.itn.ac.id

Ukuran, pencahayaan, warna, dekorasi, dan sirkulasi udara adalah beberapa contoh komponen interior yang berdampak pada psikologi. Menurut Ghoustanjiwani Adi Putra, ST, MT, Dosen Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, faktor-faktor tersebut menjadi salah satu alasan merebaknya suasana kantor ‘feel like home’. Kantor ditata sedemikian rupa supaya nyaman, bahkan terdapat orang-orang yang menjadikan rumah sebagai kantor.

“Ini mungkin menjadi contoh efek Revolusi Industri 4.0 yang serba digital dan anti ribet. Arsitektur juga mengarah ke digital, semakin paperless dan muncul profesi baru. Masyarakat ingin tidak perlu ke kantor, atau bosan dengan desain tempat kerja yang monoton. Makanya perlu pembaruan interior,” kata Ghoustan via Radio City Guide 911 FM, Rabu (15/01/2020).

Ketika muncul pertanyaan tentang desain kantor ideal, bagi Ghoustan tergantung bagaimana desainer dan penghuninya. Ia mengingatkan jika produktivitas dipengaruhi oleh fisik, spasial, dan sosial, yang mana saling berkaitan. Interior yang tepat akan membuat penghuni merasa nyaman serta termotivasi untuk produktif.

Baca juga: Meski Maju, Teknologi Fasade Indonesia belum Sejajar dengan Luar Negeri

Baca juga: Kuliah Tamu Teknik Sipil S-2, Kupas Tuntas Konstruksi Berkonsep Green Building

“Pelajari preferensi klien dan fungsi tempat yang hendak didesain. Ketahui range usia pengguna, karakteristik, serta pola aktivitas. Perhatikan faktor spasial seperti furnitur. Lengkapi fasilitas sosial yang dibutuhkan seperti Wi-Fi. Tata senyaman mungkin dulu, insyaaAllah peningkatan produktivitas akan mengikuti,” paparnya lagi.

Aspek warna dan pencahayaan pun masuk kategori spasial. Karakteristik berbeda memerlukan pemilihan berbeda pula. Situasi terang memacu produktivitas, tetapi jika terlalu terang penghuni akan kurang nyaman. Sedangkan warna akan mencerminkan kondisi ruangan. Warna yang cerah lebih berani tetapi panas, sedangkan warna lembut menghadirkan nuansa sejuk. (ata)

(Visited 224 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *