Mahasiswa ITN Malang memanfaatkan momen Ramadan untuk mengikuti kajian dan buka bersama di Masjid Al-Kautsar Kampus 2, ITN Malang. (Foto: Istimewa)
itnmalangnews.id – Di tengah hiruk pikuk mahasiswa yang mulai sibuk packing mudik atau dikejar deadline tugas sebelum libur panjang, Masjid Al-Kautsar Kampus 2, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) justru makin hidup. Alih-alih melonggar, intensitas ibadah di sini justru digas pol lewat kajian spesial bertajuk “Fastabiqul Khairat”. Fokusnya mengejar malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari 1000 bulan.
Baca juga: Sambut Ramadan, LDI ITN Malang Ajak Mahasiswa “Charge” Iman Bareng Alumni Yaman
Digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lembaga Dakwah Islamiah (LDI) pada Rabu sore (11/03/2026), kajian ini menghadirkan Ustadz Arwandi Mustamin, S.Pd.I., M.Pd. Atmosfernya terasa berbeda karena sang ustadz mampu membawakan materi dengan bahasa yang akrab di telinga Gen Z, membuat pembahasan mengenai 10 hari terakhir Ramadan jadi mudah dimengerti.
Ketua LDI ITN Malang, Moh. Yunus Maulana, menyebutkan bahwa momen ini adalah babak penentuan. Menurutnya, banyak mahasiswa yang terjebak dalam kesibukan duniawi tepat di saat Ramadan mencapai puncaknya.
Ustadz Arwandi Mustamin, S.Pd.I., M.Pd., memberi kajian di Masjid Al-Kautsar Kampus 2, ITN Malang. (Foto: Istimewa)
“Jangan sampai kesibukan bikin kita lalai, padahal kunci atau penentuan bulan Ramadan itu ada di 10 hari terakhir. Tema ini sengaja kami angkat untuk jadi booster buat teman-teman agar kualitas dan kuantitas ibadahnya meningkat,” ujar Yunus.
Menariknya, strategi untuk mendapatkan Lailatul Qadar yang dibahas dalam kajian ini tidak melulu soal ritual fisik. Yunus menekankan pentingnya menjaga emosi dan hati secara konsisten. Strategi terbaiknya adalah dengan “mengenjot” sepuluh hari terakhir dengan ibadah ekstra, bukan hanya memilih malam ganjil saja.
Baca juga: PSHT ITN Malang Bersama Puluhan Pendekar PSHT Malang Raya Turun ke Jalan Berbagi Takjil
Antusiasme peserta pun terlihat cukup tinggi. Bahkan, beberapa mahasiswa mengusulkan agar tahun depan agenda sosial seperti sholawatan bareng, dan bagi-bagi takjil makin diperbanyak. Sinergi antara LDI, pihak kampus, dosen, donatur, hingga alumni pun menjadi kunci lancarnya agenda buka puasa bersama yang rutin digelar setiap hari.
“Saya berharap semangat teman-teman tetap terjaga di sisa sepuluh malam terakhir ini. Semoga ilmu yang didapat dari kajian bisa disebarluaskan agar manfaatnya tidak berhenti di sini saja,” tambah Yunus.
Setelah kajian berakhir, acara ditutup dengan sesi buka puasa bersama yang hangat. Sebagai informasi tambahan, rangkaian agenda Ramadan ini nantinya akan dipungkasi dengan pelaksanaan Salat Idul Fitri bersama di Kampus 1 ITN Malang. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

