Webinar pendidikan UPT Bahasa ITN Malang. (Tangkapan layar)
itnmalangnews.id – Memilih teknologi untuk mengajar dalam ruang kelas itu ternyata bukan hanya soal gaya-gayaan atau sekadar memakai aplikasi terbaru. Kuncinya ada pada keselarasan antara materi, cara mengajar, dan alat yang digunakan. Hal inilah yang dikupas tuntas dalam webinar pendidikan garapan UPT Bahasa Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), pada Jumat (30/01/2026).
Baca juga: ITN Malang Tingkatkan Kapasitas Dosen dengan ToT Portofolio Mata Kuliah
Acara bertajuk “Framework to Choose Technology for Your Teaching” ini berhasil menyedot perhatian 154 peserta via Zoom, mulai dari mahasiswa, guru, hingga dosen dari berbagai kampus seperti Universitas Wiralodra Indramayu, UIN Pekalongan, hingga UNNES Semarang, dan lain-lain.
Kepala Laboratorium Bahasa ITN Malang, Rini Anjarwati, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja digelar untuk membuka wawasan pengajar agar lebih bijak memilih teknologi.
“Kami ingin memberikan perspektif yang lebih komprehensif. Teknologi di kelas itu harus sesuai dengan kebutuhan, bukan asal ada,” ujarnya. Itulah alasan Lab. Bahasa mengundang Dr. Hendi Pratama, S.Pd., M.A., akademisi sekaligus konten kreator edukasi yang memang ahli di bidang pedagogi dan pengembangan AI.
Hendi membawakan materi dengan santai dan rileks. Ia mengingatkan bahwa inovasi teknologi itu bergerak cepat sejak tahun 1950-an. “Ada orang yang cepat ikut arus, ada yang tertinggal, dan ada yang baru ikut tapi telat,” selorohnya.
Ia menekankan, sebelum memutuskan memakai sebuah aplikasi atau riset teknologi tertentu, pengajar harus punya dasar teori yang kuat. Hendi pun membedah 10 kerangka kerja (framework) utama, di antaranya:
TPACK: Kombinasi antara teknologi, pedagogi, dan konten materi. Intinya, teknologi tidak bisa berdiri sendiri; pengajarnya harus punya substansi materi yang kuat dulu.
SAMR: Memahami bahwa teknologi baru sebenarnya adalah perubahan wujud dari teknologi lama dengan level fungsi yang berbeda.
Cognitive Load Theory (CLT): Ini menjadi “sentilan” buat para pendidik yang terlalu ambisius mengejar silabus tanpa sadar bahwa kemampuan manusia mengolah informasi itu terbatas.
Multimedia Learning Theory: Manusia menangkap informasi lewat visual dan auditori. Kalau keduanya diberi beban berlebih secara bersamaan (overload), mahasiswa justru tidak akan paham.
Selain empat poin di atas, ia juga memaparkan teori lain seperti Diffusion of Innovations, TAM, UTAUT, Community of Inquiry (CoI), UDL, hingga sejarah singkat Artificial Intelligence (AI).
Melalui webinar ini, para peserta diharapkan tidak lagi bingung saat harus memilih tools pembelajaran. Tips dan trik yang dibagikan Hendi menjadi modal penting agar teknologi yang digunakan benar-benar efektif mendukung proses belajar-mengajar, bukan malah jadi beban baru di kelas. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)
