itnmalangnews.id – Ferrys Septhian Anggara adalah pemuda kelahiran Malang, Jawa Timur yang berhasil membuat aplikasi Bangjek menyamai aplikasi GoJek yang sudah banyak beredar. Ia bahkan ditawari sebagian saham sebagai bentuk penghargaan dari perusahaan yang membeli aplikasi tersebut. Tidak hanya itu saja kesuksesannya membuat beberapa aplikasi sudah dipergunakan baik di perusahaan maupun sekolah. Kepiawaian membuat aplikasi inilah yang membawanya menjadi salah satu wisudawan terbaik ITN Malang periode ke-36 dengan IPK cumlaude 3.83.
Pemuda yang biasa di sapa Ferrys tersebut lahir pada 27 September 1993 di Bandulan, Malang. Lahir dalam keluarga sederhana, putra pasangan Ismail dan Endah ini sejak sekolah kelas dua di SMKN 4 Malang sudah bekerja di Distro IT Malang. Tidak jauh-jauh dari jurusan rekayasa perangkat lunak yang ia ambil. Keinginannya untuk bisa mandiri, membayar sekolah sendiri dan mendapat tambahan uang saku menjadi penyemangatnya. Meskipun harus kerja siang selepas sekolah dan pulang malam, ia selalu memperoleh prestasi 10 besar di kelasnya.
Tergabung dalam kelas insert/advance Ferrys menorehkan prestasi pertama kali dalam lomba Informatika and Communication Technology (ICT) tingkat Jawa Timur. Tantangan membuat program dari panitia dalam waktu lima jam ternyata belum membuahkan hasil. Namun hal ini tidak membuat anak pertama dari tiga bersaudara menyerah.
Terbukti dalam lomba Cipta Web Dinamis “Culture in Technology” se-Jawa Bali ia berhasil masuk nominasi lima besar tingkat mahasiswa. Padahal ia kala itu masih duduk di kelas dua SMK. “Persyaratan mendaftar harus ada surat keterangan dari sekolah. Waktu itu kebetulan sekolah libur. Jadi saya mendaftar tingkat mahasiswa dan ternyata diperbolehkan bahkan lolos menjadi nominasi,” kenang pemuda yang pernah bekerja di Even Organizer (EO) dan juga pernah mengikuti lomba pidato di SMK.
Prestasinya tidak berhenti di situ saja. Keinginan kuliah tanpa membebankan orang tua terwujud di semester dua kala menjadi asisten Laboratorium Rekayasa Perangkat Lunak. Menyisihkan empat rekannya yang lain. Dari enam orang terpilih hanya dua orang asisten, dan ia bertahan sampai lulus kuliah. Melakukan dua pekerjaan sebagai asisten laboratorium dan masih bekerja di Distro IT tidak membuat kuliahnya di jurusan informatika S1 ITN Malang kocar kacir. Bahkan kegiatan yang ia jalani membuat penyuka warna putih ini makin produktif, karena di laboratorium dan tempat kerja merupakan arena belajar baginya.
Berhasil membangun aplikasi sistem ujian untuk SMK yang terkenal dengan nama siujo.com saat bekerja di Disto IT. Aplikasi ini telah dipakai oleh lima SMK se-Malang, antara lain : SMKN 11 Malang, SMKN 3 Malang, SMKN 1 Malang, SMKN 8 Malang dan sebagai koordinator SMKN 4 Malang tempat ia dulu sekolah. Menurutnya, dengan aplikasi ini sekolah bisa mengadakan try out pada siswa dengan sistem ujian mirip yang dimiliki pemerintah. Aplikasi siujo.com selain menyediakan sistem ujian juga menyediakan bank soal. Jadi para guru tidak dibebani membuat soal. “Saya di tim waktu itu kebagian pembuat sistem ujiannya,” terangnya penuh semangat meskipun upah yang ia dapatkan waktu itu hanya 500 rb.
Pekerjaan yang menyibukan tidak melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Pada saat semester tujuh Ferrys mengikuti Program Belajar Bekerja Terpadu (PBBT) yang diadakan oleh Ditjen Dikti. Bermula dari UMKM Keranjang Kompos (Kerpos) Mandiri Kel. Bandulan, Kota Malang yang kekurangan cara untuk mempromosikan produknya. Ferrys beserta seorang teman kuliah membuat aplikasi android untuk promosi. Cara kerja aplikasi ini dengan memandu orang yang akan datang ke UMKM Kerpos. “Usaha mikro di tempat itu nyelip, jadi perlu alat yang bisa memandu calon pembeli atau pendatang,” jabar pemuda yang berhasil membuat aplikasi pemesanan di restoran dan aplikasi pemesanan fran’s cake shop.
Keberuntungan selalu berpihak pada Ferrys selama kuliah di ITN Malang. Berawal dari informasi seorang teman di Kalimantan. Waktu itu temannya menolak tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan layanan transportasi, karena ia telah bekerja di pertambangan dan memberikan tawaran tersebut padanya. Akhirnya ia menerima tawaran tersebut sebagai develop app, membuat aplikasi layanan booking ojek dengan nama aplikasi Bangjek, aplikasi sejenis GoJek. Aplikasi Bangjek yang telah sukses diuji coba dan berhasil ia buat terdiri dari tiga aplikasi, aplikasi untuk pelanggan, aplikasi untuk kurir dan aplikasi untuk argo. “Sebelumnya semua dilakukan secara manual. Untuk satu alat argometer harganya 1jt, kalau pakai aplikasi ini bisa menghemat,” tutur pemuda ramah yang aplikasinya akan di launching Bulan Oktober dalam acara talkshow di Banjarmasin.
Selama ini Ferrys tidak pernah membayangkan bahwa hasil kerja kerasnya di semester tujuh hampir membuahkan hasil. Dari perusahaan aplikasi Bangjek, sebagai bentuk penghargaan ia ditawari sebagian saham. “Untuk nominalnya belum faham, nanti masih akan dibicarakan di Surabaya tanggal 26 bulan ini, sekalian bertemu investor asing,” tukasnya sumringah.
Keberhasilan berantai menaungi Ferrys, semester delapan belum juga ia sempat diwisuda ia sudah diterima dan bekerja di PT. Ganesha Perdana Nusantara Bandung yang bergerak dalam bidang telekomunikasi sebagai tim develop aplikasi smartphone bagian pengembangan. Aplikasi yang dikembangkan bernama Veriroutes. Veriroutes adalah aplikasi tempat reseller dan sellernya bertemu. “Mereka belum punya aplikasi untuk smartphone, jadi saya ikut membantu membuatkan,” kata pemuda yang sudah mengantongi beberapa sertifikat kompetensi Java tersebut. Sertifikasi profesi bidang teknologi informasi.
Menjalani beberapa pekerjaan sekaligus kuliah kadang membuat Ferrys lupa. Kadang meninggalkan laptopnya di rumah padahal ada file yang semestinya ia bawa. Sifat pelupa ini membuatnya berfikir untuk membuat aplikasi yang dapat mengakses isi drive laptop/komputer dari jarak jauk. Pemikiran dari semester satu ini lah yang kemudian ia jadikan skripsi berjudul : Aplikasi File Explorer Melalui Smartphone Android Berbasis Client Server.
Cara kerja aplikasi File Explorer diberikan hak khusus untuk mengakses isi drive computer secara bebas. Agak berbeda dengan google drive yang harus memasukkan file ke dalam folder yang ditentukan di google drive baru di upload. Tapi kalau File Explorer bisa langsung mengakses drive pada komputer, mengambil file yang pada komputer (download) dan mengirim file dari smartphone ke komputer (upload). Aplikasi ini dilengkapi juga menu update untuk mengubah file yang ada pada komputer, dan delete untuk menghapus file yang ada pada komputer. “Syaratnya komputer yang kita tuju harus dalam keadaan menyala, tersambung dengan akses internet dan sudah memiliki aplikasi yang sama. Jadi kita tidak perlu mengunggah/upload seperti pada google drive,” papar pemuda yang dari jerih payahnya ini mampu membiayai sekolah kedua adiknya. (sar)
