Ketua Sentra KI ITN Malang: Indonesia Kaya Akan Kekayaan Intelektual

itnmalangnews.id - Jika selama ini berpandangan bahwa Indonesia kaya akan kekayaan alam. Maka saat ini, cara pandang ini perlu dilengkapi bahwa tidak hanya sumberdaya alam tetapi juga kaya akan Kekayaan Intelektual (KI). KI tidak akan pernah habis selama seorang atau beberapa orang yang secara bersama-sama melaksanakan ide (inventor) yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses masih ada. Sementara sumberdaya alam suatu saat pasti habis. Inilah yang mendasarkan visi kami, menjadikan Indonesia kaya akan kekayaan inteletual. Demikian ulasan Dr. Dimas Indra Laksmana, ST., MT, Ketua Sentra KI Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang saat ditemui di kampus I pada Senin (28/5).

Ketua Sentra KI ITN Malang

Saat ini, lanjut pria kelahiran Jakarta itu, KI merupakan aset, KI dapat dijual kepada industri, jaminan fidusia. Juga dapat dijadikan indikator dalam penilaian akreditasi institusi atau akreditasi jurusan. “Nilai angka kredit (kum) dan sebagai kewajiban seorang tenaga pendidik atau sebagai tambahan biaya penelitian berbasis output dari Kemenristek dikti mulai dari 75 juta hingga 90 juta rupiah, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106 Tahun 2016,” imbuh Dimas.

Lebih lanjut dia mencontohkan suatu produk jamu kesehatan bagi wanita yang saat ini sudah tenar di Indonesia. Menurutnya, orang yang menemukan formula tersebut menerima ratusan juta rupiah setiap bulannya dari royalti penjualan jamu kesehatan itu. “Kenapa ini bisa terjadi, karena yang menemukan formula itu mematenkan invensinya, kemudian digunakan industri atau perusahaan dan dipasarkan sebagai produk jamu kesehatan bagi wanita. Untuk alasan itulah, pihaknya yang saat ini membawahi Sentra KI berharap agar hasil kegiatan penelitian, pengembangan, perekayasaan dan inovasi civitas akademik ITN Malang segera dilindungi secara hukum. Mengingat ada banyak karya dosen dan mahasiswa yang belum didaftarkan kekayaan intelektualnya.

Dalam kesempatan tersebut, salah satu dosen Program Pascasarjana (PPs) ITN Malang itu, menegaskan bahwa keberadaan Sentara KI ITN Malang yang berdiri sejak 2011 (waktu itu bernama Sentra HKI PPs ITN Malang) merupakan lembaga yang berfungsi mengelola dan mendayagunakan kekayaan intelektual, sekaligus sebagai pusat informasi dan pelayanan KI, kami adalah jembatan bagi para civitas akademik yang ingin mengurus KI. “Sentra KI ini nanti akan memberi pendampingan guna mendapatkan hak eklusif yang diberikan Negara kepada individu dan/atau kelompok pelaku KI (inventor, pencipta, pendesain dan sebagainya), sebagai sistem dokumentasi yang baik atas segala bentuk kreativitas manusia sehingga kemungkinan dihasilkannya teknologi atau karya lainnya yang sama dapat dihindari atau dicegah.

Untuk itu, bagi dosen yang ingin mengajukan invensinya untuk mendaftarkan KI misalnya paten, inventor harus membuat narasi atau gambaran visual dari karyanya tersebut (deskripsi paten). Pihaknya akan berusaha melakukan pendampingan agar pemeriksaan subtantif acceptable. Selain itu Sentra KI juga akan membantu melakukan telusur paten lewat tiga zona: lokal, nasional dan internasional. Mengingat ITN Malang sudah memiliki penelusur yang memiliki sertfikat internasional WIPO (World Intellectual Property Organization) sebagai induk organisasi KI sedunia.

“Penelusuran ini juga bisa melalui free access seperti, google paten (www.patents.google.com), DJKI Kemenkum HAM (www.dgip.go.id), Amerika Serikat (www.uspto.gov), Jepang (www.jpo.go.jp), Eropa (www.ep.espacenet.com), Australia (www.ipaustralia.gov.au) atau WIPO (www.wipo.int/pctdb/en),”  terang alumni ITN Malang itu. Adapun pembiayaannya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2016 Tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak  (PNBP).

Selain untuk internal ITN Malang, Sentra KI ITN Malang juga menjembatani pihak eksternal yang ingin mendaftarkan KI melalui ITN Malang. “Saat ini ada rumah makan yang akan mengajukan pendaftaran merek dan grup band nasional yang akan mengajukan hak cipta lagunya lewat kami,” Mari kita nikmati karyanya, hargai penciptanya dan lindungi kekayaan intelektualnya kata dia. (her)

(Visited 271 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *