Alumni IKA Surya ITN Malang menyerahkan santunan kepada Yayasan Sanggar Al Ikhlas, Gresik, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)
itnmalangnews.id – Sebuah momen penuh haru sekaligus hangat mewarnai suasana di Yayasan Sanggar Al Ikhlas, Gresik, Jawa Timur, pada Sabtu (28/02/2026). Puluhan alumni Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) yang tergabung dalam Ikatan Alumni Surabaya Raya (IKA Surya) hadir membawa misi kemanusiaan bertajuk “Dalam Doa Kita Setara”.
Bukan sekadar kunjungan biasa, IKA Surya hadir untuk menyapa dan berbagi kebahagiaan bersama 60 anak-anak difabel. Sore itu, keceriaan memuncak saat 10 perwakilan anak yang kondisinya memungkinkan diajak keluar lingkungan yayasan untuk berbuka puasa bersama di Pawon Cabe Gresik.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Triza Agus Rynaldi, ST (Alumnus Teknik Kimia 2000) mengungkapkan, pemilihan yayasan ini didasari atas kondisi riil di lapangan. Sekitar 85 persen anak-anak di yayasan tersebut berasal dari keluarga kurang mampu, termasuk penyandang down syndrome, dan cerebral palsy yang membutuhkan perhatian nutrisi serta terapi rutin.
“Semoga “Dalam Doa Kita Setara” semakin menggeliat dan bisa dilaksanakan di tiap wilayah sebagai upaya sosial kemasyarakatan,” ujar Triza seperti yang dikutip dalam rilis resmi IKA Surya.
Kehangatan buka bersama antara IKA Surya ITN Malang dengan anak-anak Yayasan Sanggar Al Ikhlas, Gresik, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)
Ia mengungkapkan, tujuan akhir kegiatan mereka sebenarnya adalah untuk mengetuk hati alumni yang sekarang mempunyai posisi strategis di BUMN atau perusahaan go public. Triza berharap dana CSR dari perusahaan para alumni tersebut bisa menyentuh yayasan-yayasan difabel agar bantuan yang diberikan bersifat berkelanjutan.
Senada dengan Triza, Ketua Umum IKA Surabaya Raya, Ir. Rina Soewarli (Alumnus Arsitektur 1983), yang hadir mendampingi bersama jajaran pengurus lainnya termasuk Krisdiansyah Tito, ST (IKAE 1993), menekankan pentingnya empati. Alih-alih hanya memberikan makanan ringan biasa, IKA Surya membagikan 60 paket goody bag berisi susu, Scott’s Emulsion, madu, dan santunan tunai. Serta, satu unit kursi roda, beberapa kipas angin, dan uang tunai yang diberikan kepada yayasan.
“Madu mungkin terlihat sederhana, tapi bagi anak-anak disini, satu sendok teh madu setiap hari sangat penting untuk daya tahan tubuh mereka. Sayangnya, tidak semua keluarga mampu membelinya sampai pihak yayasan seringkali harus turun tangan sendiri,” jelas Rina. Bantuan ini adalah simbol bahwa alumni ITN Malang tidak menutup mata terhadap realitas sosial di sekitar mereka.
Ada cerita menyentuh yang sempat dibagikan dalam pertemuan tersebut. Salah seorang anak berusia 12 tahun dengan down syndrome menunjukkan perkembangan luar biasa berkat terapi rutin yang biayanya hanya 10 ribu rupiah per kedatangan. Ia kini sudah mampu berkomunikasi, bermain gim, bahkan membantu ibunya berjualan mie ayam. Kisah-kisah seperti inilah yang memicu semangat para donatur dari anggota IKA Surya untuk terus bergerak.
Bahkan, gerakan ini mulai membuahkan hasil nyata secara profesional. Salah satu anggota IKA Surya yang menduduki posisi strategis di PT Smelting berkomitmen untuk menjembatani Yayasan Al Ikhlas agar bisa mendapatkan akses dana CSR perusahaan.
Kegiatan ini pun ditutup dengan pesan bahwa keberhasilan seorang alumni tidak hanya diukur dari jabatan atau pencapaian profesionalnya, tetapi dari sejauh mana ia mampu memberi arti bagi sesama.
“Kami ingin semangat Dalam Doa Kita Setara ini terus menggeliat dan dilaksanakan di tiap wilayah. Ini bukan sekadar tema, tapi ajakan bagi seluruh alumni ITN Malang untuk kembali pada nilai kemanusiaan. Solidaritas itu jangan hanya jadi wacana, tapi harus jadi gerakan yang lahir dari empati,” pungkas Rina senada dengan Triza dengan penuh harap. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

