Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., saat membuka acara Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Menjadi arsitek ternyata bukan hanya soal jago menggambar atau membuat desain yang estetik. Ada realita lapangan yang jauh lebih kompleks, mulai dari urusan beban vertikal lantai sampai urusan “berdamai” dengan tukang bangunan. Pesan kuat itulah yang dibawa dalam acara Platinum Ceramics Goes to Campus yang digelar di Studio Arsitektur Lantai 4, Gedung Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Selasa (10/03/2026).
Baca juga: “Perzpective” di ITN Malang: Kupas Rumah Sehat & Material Arsitektur Berkelanjutan
Mengusung tema “Designed to Align”, puluhan mahasiswa arsitektur lintas angkatan berkumpul untuk mendengarkan rahasia industri yang jarang tersentuh di bangku kuliah. Bersama narasumber dari Platinum Ceramics, dan alumni Arsitektur ITN Malang.
Jembatan Teori Kampus dan Realita Industri
Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., memberikan sentilan menarik saat membuka acara. Menurutnya, pemahaman material adalah harga mati bagi calon arsitek. “Mungkin buat kalian ini hanya sekedar keramik. Tapi kalau salah pilih material, pembangunannya pasti bermasalah. Sederhananya begini, ada keramik dinding motifnya bagus, tapi malah kalian pakai buat lantai. Padahal lantai ada beban vertikalnya. Akhirnya? Rusak. Jangan cuma kejar indahnya saja,” tegas Gaguk.
Hal senada disampaikan Ahmad Muzaki dari pihak Platinum Ceramics. Ia menekankan bahwa material adalah “nyawa” yang membuat bangunan terasa berbeda. Melalui program ini, PT Platinum Ceramics Industry ingin menjembatani jarak antara dunia akademik dan realita industri.
Zaki akrab disapa menjelaskan, agenda ini memiliki misi khusus, yakni memberikan edukasi mengenai perkembangan teknologi keramik, menjembatani dunia akademik dengan industri, serta mendorong kreativitas mahasiswa dalam mengeksplorasi ide penggunaan material.
Ahmad Muzaki dari Platinum Ceramics memberi wawasan kepada mahasiswa terkait material keramik. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
“Keunggulan Platinum diproduksi dengan standar SNI dan EN sehingga kualitas dan ketahanan terjamin.
Selebihnya di teknologi modern dan desain bervariatif,” katanya. Mahasiswa juga diperkenalkan dengan teknologi terbaru seperti superstop technology dan rectified edges yang menjamin presisi potongan tepi keramik.
Ia pun menaruh harapan besar agar mahasiswa mendapatkan wawasan baru sehingga mampu memahami material yang tepat untuk desain mereka. Dengan begitu, akan terbentuk calon profesional arsitektur yang paham betul gambaran kebutuhan dunia kerja, terutama soal material bangunan.
“Platinum Goes to Campus ini harapannya bisa menjadi wadah teman-teman belajar hal yang tidak didapat waktu di universitas. Tentunya dengan menghadirkan praktisi atau profesional di bidang arsitektur/interior,” tambahnya.
Mendesain dengan Empati dan Solusi Lapangan
Suasana semakin hangat saat Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI, alumnus Arsitektur ITN Malang angkatan 1998 menyapa mahasiswa. Sosok yang akrab disapa Afis ini sekarang sukses mengelola biro “Imajiner Arsitek” di Kota Batu.
Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI, alumnus Arsitektur ITN Malang angkatan 1998 memberikan motivasi kepada mahasiswa. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
Menariknya, Afis mengaku dulunya tidak punya cita-cita jadi arsitek. Namun, perjalanan membawanya jatuh cinta pada dunia ini hingga aktif mengikuti berbagai sayembara desain untuk mengukur kemampuan diri. Ia juga menceritakan bagaimana ia membangun studionya sendiri dengan konsep open house menggunakan bahan-bahan bekas yang murah namun tetap fungsional.
“Arsitektur itu penyelarasan antara ide, material, dan pembangunan. Masalah yang sering muncul di lapangan adalah ketika gambar tidak bisa dilaksanakan karena material berubah atau biaya terbatas. Di situlah arsitek harus putar otak jadi problem solver,” ujar Afis.
Baca juga: Kuliah Tamu ECIVE 2025 Bahas Peran Vital BIM 6D dalam Transformasi Energi Konstruksi
Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak hanya “jago kandang” di depan software. “Sering-sering main ke proyek, belajar dari tukang. Jangan malu, meskipun mereka tidak sekolah tinggi, pengalaman lapangan mereka luar biasa. Mendesainlah dengan empati,” tambahnya.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini seperti mendapat “suplemen” ilmu tambahan. Asrah Ardiansyah, mahasiswa semester IV, mengaku sangat terinspirasi. “Kami jadi punya gambaran nyata dunia kerja dari senior sekaligus tahu update material dari vendor langsung. Ini wawasan yang tidak kami dapat di kelas,” ungkapnya.
Selain edukasi, Platinum juga menantang kreativitas mahasiswa melalui Platinum Architectural Design Competition yang tahun ini memasuki tahun keempat.
Acara ditutup dengan harapan agar kolaborasi antara kampus dan praktisi seperti ini terus berlanjut. Sebab, arsitektur yang baik bukan hanya yang selaras dengan ide, tapi juga selaras dengan alam, budaya masyarakat, dan tentu saja, teknis di lapangan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)


