Ar. Adhi Firman Hidayat, IAI, alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang memberi materi pada Talk Show Nata Karya 6.0 di Prodi Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Menjadi seorang arsitek tidak hanya sekadar bergelut di bidang seni, namun juga wajib menguasai sisi keteknikan agar karya yang dihasilkan terukur dan fungsional. Hal ini ditegaskan oleh Ar. Adhi Firman Hidayat, IAI, alumnus Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) angkatan 94. Pemaparan tersebut disampaikan Adhi dalam acara Talk Show Nata Karya 6.0 yang diselenggarakan oleh Prodi Arsitektur S-1 pada Selasa (13/01/2026) di Kampus 1 ITN Malang.
Pendiri Selasar Kiwari Studio ini hadir untuk berbagi perspektif mengenai bekal yang harus dikuasai mahasiswa agar lebih mudah berproses saat terjun ke dunia profesional. Ia menilai bahwa kurikulum di ITN Malang saat ini telah mumpuni karena mengakomodir standar dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) guna menjawab kebutuhan pasar industri.
Dalam sesinya, Adhi mengingatkan mahasiswa untuk waspada terhadap ketatnya daya saing di masa depan. Berbeda dengan era dahulu, saat ini jumlah perguruan tinggi yang memiliki jurusan arsitektur semakin banyak, yang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah lulusan sarjana arsitektur di Indonesia.
“Daya saing sekarang jauh lebih tinggi. Mahasiswa harus meningkatkan kompetensi sejak dini. Apa yang diberikan di kampus harus dijalani dan dieksplorasi lebih dalam agar nanti lebih adaptif. Ingat, tools (perangkat lunak desain) bisa diakses siapa saja, namun mentalitas untuk terus belajar dan tidak menyerah adalah kunci utamanya,” ujar Adhi.
Lebih lanjut, Adhi mengamati saat ini tren area kerja arsitek sangat luas. Menurutnya, ada yang fokus pada pemrograman (programming) hingga menjadi konseptor dan ahli visualisasi. Banyak pula arsitek yang bergerak di bidang architecture engineering untuk menerjemahkan bangunan secara teknis. Beberapa di antaranya bahkan mengkhususkan diri pada sisi engineering dengan bekerja di sektor kontraktor, manajemen konstruksi, hingga pengawas lapangan.
“Ada juga yang memilih berhenti hanya di dunia desain. Namun, saya melihat akan sangat bagus jika seorang arsitek bisa menggeluti keduanya (desain dan teknik). Secara pribadi, saya memilih untuk mengambil keduanya,” tambah Adhi.
Ia juga menjelaskan batasan mendasar antara arsitektur dan seni murni. Meski keduanya dibekali ilmu dasar seni dan estetika bentuk, arsitektur memiliki fokus yang lebih spesifik pada massa bangunan (building design).
Baca juga: Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Rancang Master Plan Desa, Angkat Potensi Lokal Lewat KKNT
“Mahasiswa arsitektur diajarkan masalah keteknikan agar mampu menciptakan suatu seni yang terukur. Baik terukur kemudahannya, kenyamanannya, hingga aksesnya. Fokus utama arsitektur adalah menciptakan ruang bagi makhluk hidup. Tidak hanya soal visual, tapi juga kenyamanan, sirkulasi, serta perasaan luas atau sempitnya sebuah ruang,” bebernya.
Sebagai praktisi yang sukses, Adhi Firman Hidayat melalui Selasar Kiwari Studio bersama rekan satu almamaternya Muhammad Chottob W, IAI, telah melahirkan berbagai karya ikonik di berbagai daerah, di antaranya: fasilitas umum Pasar Pon Trenggalek, Kantor Cipta Karya Provinsi Jawa Timur, taman kota, taman lansia, Taman Sekar Gadung, dll. Juga ada berbagai proyek private house di Bandung dan Kalimantan.
Melalui sharing session ini, diharapkan mahasiswa Arsitektur ITN Malang dapat lebih termotivasi untuk mengasah kepekaan desain sekaligus ketelitian teknik sebagai modal utama menjadi arsitek profesional yang adaptif terhadap perubahan zaman. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

