itnmalangnews.id – Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang turut membentuk Kelurahan Tunjung Sekar, Kota Malang sebagai kawasan peduli lingkungan. Menurut Sudiro, ST, MT, salah satu dosen Teknik Lingkungan, keterlibatan kampus biru di keluruhan tersebut sudah terjalin sejak 2014. “Saat ini tinggal menguatkan hubungannya dan memperluas jangkauannya,” kata dia.
Sejauh ini, menurut Sudiro ada beberapa hal yang dilakukan oleh mahasiswa teknik lingkungan di kelurahan tersebut. Di antaranya melakukan pemilahan sampah mengingat di daerah RT 09/RW 04 menjadi sub bank sampah Kota Malang. “Setiap Sabtu anak-anak HMTL ke lokasi untuk melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik,” tutur pria asli Malang itu.
Dari bank sampah ini diharapkan ke depannya ITN Malang dapat berkontribusi lebih aktif lagi. Di mana saat ini misalnya sedang dipersiapkan pengelolaan plastik menjadi biji plastik. Pasalnya harga plastik yang belum dicacah dengan yang sudah menjadi biji plastik berbeda. “Kalau hanya dipilah saja harga jualnya rendah, tapi kalau sudah jadi biji plastik lebih mahal,” lanjut Sudiro saat ditemui di ruang humas, Sabtu (10/2).
Melihat pentingnya bank sampah ini, dia berharap di ITN Malang juga diadakan sub bank sampah. Soalnya memang sejauh ini belum ada kampus yang memiliki bank sampah. Padahal ini strategis bukan hanya untuk menjaga kebersihan tetapi juga bisa mendatangkan uang bagi mahasiswa. “Misalnya, setiap hari satu mahasiswa nyimpan satu lembar. Dan di jurusan Teknik Lingkungan ada ratusan mahasiswa, berarti ada ratusan lembar perhari. Kalau sampai seminggu kan banyak, nanti dananya bisa digunakan untuk kegiatan Himpunan,” kata dia.
Baca: HMTL Jaring Anggota Baru Lewat Debate Competition, dan Environmental Night
Baca: Mahasiswa ITN Malang Semangat Konservasi Mangrove
Selain soal sampah, HMTL ITN Malang juga berkiprah dibidang konservasi air dan upaya mencegah banjir di kawasan tersebut. Hal ini dilakukan dengan membuat biopori. Hingga saat ini sudah terpasang sebanyak 30 biopori ukuran kecil dan 10 ukuran besar. “Semua biopori ini dipasang diberbagai tempat,” tukas Sudiro.
Lebih lanjut, para mahasiswa dapat melakukan riset alam lebih jauh melalui biopori ini. Misalnya, mahasiswa meneliti kira-kira sampah jenis apa yang lebih cepat menggemburkan tanah, apakah jenis sisa-sisa makanan atau dari dedaunan. “Dengan demikian Tunjungsekar menjadi laboratorium alam bagi anak lingkungan ITN Malang,” tutupnya.
Sementara itu, Faruk M. Djafaar, Ketua HTML, menjelaskan bahwa memang sejauh ini ada sebanyak 15 orang mahasiswa yang terlibat yang berasal dari tiga angkatan. Kedepannya diharapkan dapat semakin bertambah. (her)
