Reni Rupianti, SM., MM., dosen Bisnis Digital S-1, ITN Malang. (Desain: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Generasi Z semakin melek akan potensi cuan dari dunia digital. Untuk membekali mereka dengan pengetahuan dan strategi praktis, Prodi Bisnis Digital S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar “Trial Class Bisnis Digital Spesial untuk Gen Z” Back 2. Acara daring via Zoom Meeting pada Kamis (26/06/2025) lalu ini secara khusus mengupas tuntas dunia Affiliate Marketing bersama, Reni Rupianti, SM., MM.
Reni Rupianti SM., MM., merupakan Dosen Bisnis Digital sekaligus Kepala Public Relation ITN Malang, menyandang gelar kompetensi C.DMS (Digital Marketing Specialist) & C.PS (Public Speaking Specialist). Baginya, mengajar adalah passion, dan jalan-jalan adalah hobinya – filosofi yang ia terapkan dalam materi “Healing Aman, Cuan Tetap Jalan”.
Baca juga: “Financially Chill, Mentally Heal”: Rahasia Ketenangan Finansial Gen Z
Memahami Peran di Ekosistem Digital: Affiliator, Content Creator, dan Seller
Reni menjelaskan dalam paparannya perbedaan fundamental antara tiga peran utama di ekosistem bisnis digital:
- Affiliator: Fokus utamanya pada komisi penjualan atau leads, yang identik dengan “keranjang kuning” di platform e-commerce. Tugas utamanya mempromosikan produk milik orang lain melalui link afiliasi, mengajak orang untuk membeli atau mengklik link tersebut. Affiliator tidak memiliki produk sendiri, melainkan mendapatkan uang dari komisi penjualan yang dihasilkan melalui link mereka.
- Content Creator: Fokus pada rate card, followers, viewers, dan brand awareness. Mereka membuat konten (video, foto, tulisan) di media sosial atau platform digital. Tugas utamanya adalah menciptakan konten yang menarik dan konsisten (ulasan, edukasi, hiburan). Content creator tidak mempunyai produk sendiri melainkan mendapatkan penghasilan dari endorsement, iklan (ads), afiliasi, brand deal, dan monetisasi konten.
- Seller: Adalah penjual yang menawarkan produk fisik atau digital langsung ke pembeli. Tugas utamanya meliputi stok barang, menjual produk, dan melayani pembeli. Seller memiliki produk sendiri dan mendapatkan uang dari keuntungan penjualan produk.
Menguasai Platform Afiliasi: TikTok dan Shopee
TikTok dan Shopee merupakan “muara” para affiliator saat ini. Kunci sukses di kedua platform ini adalah memahami algoritmanya dan yang terpenting “Know Your Value” agar konten yang dibuat sesuai dengan audiens.
Reni menjelaskan perbedaan pendekatan antara keduanya:
- TikTok: Platform ini lebih spesifik dalam membaca “niche” atau minat audiens. Strategi “brutal konten berkualitas” sangat dianjurkan untuk semakin menguatkan niche.
- Shopee: Lebih menyukai affiliator produktif. Affiliator harus mampu menghasilkan omset maksimal dengan traffic yang diberikan Shopee, baik melalui live streaming maupun Shopee Video.
Kiat Sukses Menjadi Affiliator Andal
Untuk menjadi afiliator yang sukses, Reni membagikan beberapa tips praktis:
- Cari Niche (Target Market Spesifik) yang sesuai dengan minat dan passion.
- Pilih produk dan seller yang menjanjikan, dengan memeriksa rating produk dan reputasi penjual.
- Buat Showcase yang efektif, memaksimalkan fitur seperti live streaming.
Baca juga: ITN Malang Perkuat Sinergi dengan Guru BK SMA se-Kabupaten Jember
Yuk, Mulai Ngonten!
Reni menekankan bahwa media sosial bukan tempat untuk hard selling. “Berhentilah melakukan hard selling. Belajarlah untuk membuat konten soft selling berupa story telling,” pesannya.
Konsisten adalah kunci untuk maintenance konten. Rajin membuat konten juga harus dibarengi dengan rajin evaluasi, karena riset FYP setiap akun itu berbeda-beda!
Ia juga menekankan pentingnya “Spark Codes & Owning Content”. Brutal konten, yaitu memposting konten dalam jumlah banyak, juga penting, namun tetap harus memperhatikan “niche” yang sudah ditetapkan.
“Kalau Spark Codes bikin kamu ‘beda dari yang lain’, maka Owning Content bikin kamu ‘jadi yang dicari orang lain’,” jelasnya.
Maksimalkan Live Streaming dan Personal Branding
Untuk menaikkan omset penjualan, live streaming bisa menjadi jalan utama. Namun, Reni mengingatkan, “Kalau kamu live dengan still static, live kamu tidak ada gunanya.” Maka, perlu memperhatikan ERR (Engagement Rate Ratio), CTA (Call To Action), serta rotasi showcase produk yang ditampilkan.
Seorang affiliator yang kuat dibangun diatas personal branding yang kuat. Ia menjelaskan, jika personal branding adalah “kesan kamu di mata publik,” maka brand archetype adalah “jiwa atau peran yang kamu mainkan secara konsisten.”
“Pikirkan bagaimana kamu menjadi sosok yang punya kepribadian yang unik. Jangan tunggu sempurna untuk mulai. Affiliate marketing itu belajar sambil jalan, cuan sambil berkembang,” tutupnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

