itnmalangnews.id – Ramp merupakan ciri dari bangunan masa depan. Merupakan jalan lereng/bidang miring yang dipasang berfungsi sebagai pengganti tangga. Bentuknya yang landai akan lebih ringan menaikinya, juga memungkinkan pengguna kursi roda, kereta atau benda yang beroda lebih mudah untuk terakses ke dalam bangunan atau ke lantai di atasnya. Meski dalam aspek pembiayaan ramp lebih mahal daripada tangga namun lebih murah atau mahal suatu bangunan sebanding dengan fungsinya. Demikian penjelasan Ir. Haris Wibisono, Profesional Arsitek dalam talkshow “Arsitektur Luar dan Dalam” di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Jumat (8/4).
Desain ramp beberapa kali diaplikasikan oleh Alumni ITN Malang ini pada beberapa proyek. Antara lain gedung LVRI-Pepabri Batu Malang, SD Tlekung Batu Malang dan beberapa proyek lainnya. Gedung LVRI sangat unik karena selain menggunakan ramp sebagai koridor untuk naik ke lantai atas juga memakai desain berbentuk peci di bagian sisi atas gedung. Sebagaimana yang kita kenal bahwa peci merupakan identitas bangsa, terinspirasi dari peci Presiden Pertama Ir. Soekarno dan peci anggota veteran. Pemakaian jendela besar dan transparan bertujuan agar kontinyuitas antara ruang dalam dan ruang luar dan tata cahaya yang bagus.
“Keterikatan ruang dalam arsitektur itu penting, mempelajari ruang itu lebih sulit dari pada mempelajari bentuk. Maka setiap arsitek memiliki pengalaman ruang dan bentuk yang berbeda-beda,” tutur pria yang biasa disapa Nino ini. Talkshow tersebut juga membuka beberapa pertanyaan dari peserta, salah satunya dari peserta asal ISI Surakarta, menanyakan bagaimana menghadirkan desain bangunan yang mengangkat lokalitas yang berkarakter tradisional.
Pria yang pernah menjabat Ketua IAI Malang 2012-2015 berbagi wawasan dan pengalaman, “Lokalitas berbeda dengan tradisional, tapi tradisional pasti lokalitas. Tetap menghadirkan bangunan modern tapi teduh ini merupakan pengalaman desain yang harus dilatih terus menerus . Banyak variasi desan yang bisa mengangkat lokalitas, semisal dari aspek sirkulasi, warna gambar.”
Dalam talkshow ini pendiri biro arsitek CDARC ini juga membagikan tips bagaimana strategi menghasilkan ide saat dibutuhkan. Wacana, teori, wawasan itu nomor satu yang harus dimiliki oleh seorang arsitektur; menggagalkan pilihan klien, karena klien sukanya meniru (desain gambar dari bangunan yang sudah ada, Red); fungsi-fungsi dasar harus digali, aktivitas-aktivitas yang tidak membosankan dalam rumah sehingga kebutuhan dasar terpenuhi; juga perlu adanya ruang mati yang kelihatannya tidak fungsional tetapi itu berfungsi untuk menikmati suatu bangunan dari luar. “ Seringkali apa yang terasa sulit di bangku kuliah kenyataannya mudah di luar kampus, maka mahasiswa perlu banyak belajar dan mencari pengalaman,” ujar Nino. (sar)
