Lestarikan Lingkungan, Mahasiswa ITN Malang Rawat Pohon di Sempadan Jalan Kota Batu

Mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang saat mengidentifikasi pohon dan mencabut paku pada pohon di Kota Batu, (2)

Mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang saat mengidentifikasi pohon dan mencabut paku pada pohon di Kota Batu, Sabtu (27/11/2022). (Foto: Istimewa)


itnmalangnews.id – Pohon memiliki peran penting bagi makhluk hidup. Mulai sebagai sumber oksigen, pelindung, penjaga mata air, dan lain sebagainya. Namun disayangkan jumlah pohon besar semakin menurun akibat fungsi lahan. Khususnya pohon di sempadan jalan Kota Batu.

Baca juga: www.itn.ac.id

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang bersama Gerakan Kesadaran Alamku Hijau menggalang aksi “Sapa Pohon Heritage Kota Wisata Batu”. Demi menyelamatkan pohon peneduh di sempadan jalan raya Kota Batu, HMTL ITN Malang beserta relawan menyisir sepanjang Jalan Ir Soekarno Kota Batu untuk mengidentifikasi pohon dan merawat pohon, Sabtu (27/11/2022).

“Kegiatan kami ada dua. Identifikasi pohon dan merawat pohon. Mulai Gapura Kota Wisata Batu (KWB) hingga pertigaan Pendem arah Karangploso dan Kota Malang,” tutur Ketua HMTL ITN Malang, Marell Sudarman Santoso, saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp, Minggu (27/11/2022).

Baca juga: Mahasiswa Teknik Lingkungan Belajar dan Aplikasi Manajemen Sampah di Kabupaten Malang

Menurut Marell, kegiatan sapa pohon heritage penting untuk memotivasi serta menghimbau masyarakat agar menjaga pohon-pohon peneduh. Karena pohon banyak manfaatnya seperti, penyedia oksigen, estetika jalan, dan meredam polusi udara serta kebisingan.

Pohon yang berhasil diidentifikasi oleh HMTL sejumlah 108 pohon. Seperti pohon trembesi, mahoni, tanjung, dan pentris. Untuk ukuran diameter paling besar ada pada pohon trembesi yakni 340.5 cm.

“Dari ukuran diameter tersebut kami bisa mengetahui umur pohonnya. Caranya, diameter pohon (cm)-2.5 cm lalu dibagi 2. Jadi untuk pohon trembesi yang terbesar umurnya 169 tahun. Untuk semua pohon yang teridentifikasi dalam kondisi sehat dan tidak rapuh,” jelas mahasiswa semester 5 ini.

Identifikasi pohon yang dilakukan mengenai nama pohon, koordinat, tempat, kondisi pohon, diameter pohon, dan keterangan tambahan seperti posisi tumbuh pohon di aspal, dan sebagainya.

Sembari mengidentifikasi pohon, mahasiswa kampus teknik ini juga merawat pohon. Mereka mencabut paku-paku yang menancap pada batang pohon. Biasanya paku-paku tersebut bekas pemasangan pamflet, dan baliho. Bahkan mahasiswa kampus biru ini tidak segan mencabut paku yang menempelkan baliho caleg DPR, plang tambal ban, dan plang pangkalan ojek.

Baca juga: LPPM ITN Malang Dukung Penyusunan Dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Manggarai Timur

HMTL ITN Malang sebagai penggerak di bidang lingkungan terus eksis. Tidak hanya menyuarakan, namun juga ikut aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan. Mahasiswa Teknik Lingkungan berharap masyarakat ikut bergerak untuk melestarikan pohon peneduh dengan tidak memaku pohon untuk pamflet atau baliho. Selain dari segi estetika kurang enak dipandang, bersama-sama juga harus memperhatikan kondisi pohon.

“Semoga aksi-aksi merawat pohon ini dapat memotivasi masyarakat dan menggerakkan komunitas agar ikut melestarikan lingkungan khususnya pohon-pohon peneduh,” tandas Aremania ini.

Founder Alamku Hijau, Fitri Harianto menambahkan, identifikasi pohon kedepannya akan menjadi database pohon di ruang publik. Kegiatan ini akan menjadi proyek jangka panjang. Melibatkan berbagai komunitas yang tergabung dalam Gerakan Kesadaran Alamku Hijau.

“Data identitas pohon akan menjadi database. Harapannya akan bisa memunculkan perda perlindungan pohon,” kata Cak NDan sapaan akrab Fitri Harianto.

Gerakan Kesadaran Alamku Hijau akan melakukan berbagai aksi terkait pelestarian lingkungan. Selain HMTL tergabung didalamnya Himakpa ITN Malang, Baskomas, Mountaineering Adventure, FPRB Tlekung, 60+ Earth Hour, Kaliwatu, BPD MR, KBS RI Kota Batu, Kampung Ilmu, dan lain sebagainya.

“Gerakan Kesadaran Alamku Hijau itu lintas komunitas didalamnya. Sifatnya kesadaran non anggaran. Untuk kegiatannya akan kami gilir satu komunitas perminggu,” tandasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

(Visited 269 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *