itnmalangnews.id – Foto dokumenter berbeda dengan foto dokumentasi biasa. Foto dokumentasi hanya sekedar mengambil foto untuk disimpan. Sementara foto dokumenter untuk beropini, yaitu apa yang ingin disampaikan dengan foto itu. Demikian pemaparan Edy Purnomo, pembicara dalam acara seminar fotografi dan workshop old print oleh UKM Format Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang di aula kampus I.
Menurut pria yang akrab disapa Edy tersebut, pada akhirnya foto dokumenter adalah segala sesuatu representasi non- fiksi di buku atau media visual lainnya. Misalnya foto tentang kucing. Bagi foto dokumenter biasa saja tidak bermakna apa-apa. Tetapi jika foto dokumenter maka pesan apa yang disampaikan dan bagaimana kucing itu. “Dulu, saya pernah hunting foto dokumenter di kreta di Jakarta. Saya foto kaki orang yang berdesakan. Orang-orang yang berjualan di dalam kreta. Foto mengatakan sesuatu betapa sesak penumpang kreta Jakarta. Para penjual cari uang. Jadi ada opini yang tersampaikan,” kata dia.
Pria asli Malang tersebut juga menjelaskan bagaimana sejarah foto dokumenter muncul. Menurutnya, tradisi foto ini berasal dari Amerika pada abad ke 18. Ada dua orang yang mengenalkan foto dokumenter yaitu Jacob Riis dan Lewis Hine. Perkenalan itu bemula dari krisis yang terjadi di Amerika pada 1930. “Pada saat krisis ini, banyak fotografer yang disebar untuk mengambil data-data gambar yang terjadi di masyarakat Amerika dan ditunjukkan ke publik,” sambungnya.
Semakin lama foto dokumenter dikembangkan dengan serius oleh Robert Frank pada tahun 1958. Saat itu, foto-foto dokumenter digunakan untuk mengungkap yang sesuatu yang sifatnya publik. Sehingga dapat dipahami bersama situasinya. “Saat itu, kalau ada berita dan tidak ada fotonya tidak akan dipercaya oleh pembaca publik,” tuturnya.
Dalam perkembangan di abad 21 ini foto dokumenter menjadi semakin pribadi sifatnya. Foto yang dulunya untuk kepentingan publik, sekarang menjadi kepentingan pribadi. Hal ini diperkuat dengan lahirnya media sosial semacam facebook, instagram, twitter dst. Foto-foto yang di pasang disitu adalah foto selfie yang kadang tidak memiliki hubungan dengan publik. “Jadi foto dokumenter adalah to see, to record, dan to comment,” kata dia. (her)
