Alamsyah Surya Kencana, mahasiswa Teknik Mesin S-1 ITN Malang, angkatan 2021 saat menerima medali perunggu Shorinji Kempo kategori Randori Kelas 60 Kg Putra, Porprov Jawa Timur 2025. (Foto: Istimewa)
itnmalangnews.id – Alamsyah Surya Kencana, mahasiswa Teknik Mesin S-1 angkatan 2021, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) berhasil mengharumkan nama Kabupaten Malang di ajang bergengsi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025. Kompetisi yang digelar di GOR Pertamina Universitas Brawijaya ini, ia sukses membawa pulang dua medali dari cabang olahraga Shorinji Kempo, yakni medali perak di kategori Embu Beregu Putra dan medali perunggu di kategori Randori Kelas 60 Kg Putra.
Alam akrab disapa mewakili kontingen Kabupaten Malang. Ia bertanding di dua kategori utama seni bela diri yang berakar dari Jepang ini. Embu adalah pertunjukan teknik-teknik Shorinji Kempo yang dilakukan secara berpasangan atau berkelompok, mengikuti koreografi yang telah ditentukan. Sementara, Randori merupakan pertarungan bebas (sparring) yang menguji kemampuan aplikasi teknik secara spontan.
Perjuangan di Kategori Embu dan Randori
Di kategori Embu Beregu Putra, Alam dan timnya yang beranggotakan empat orang menampilkan gerakan dan teknik Kempo sesuai tingkatan sabuk mereka, dari Yudansha (sabuk hitam) hingga Kyu 1 (sabuk cokelat).
“Sistem Embu mengikuti standar Jepang dengan format double eliminasi. Tiap kontingen saling bertemu, yang kalah turun ke lower bracket, dan yang menang naik ke upper bracket. Pemenang dari masing-masing bracket kemudian masuk final,” jelas Alam saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.
Tim Alam berhasil melaju hingga babak final setelah bertanding sebanyak enam kali. Mereka berhadapan dengan kontingen Kota Surabaya di partai puncak. “Ekspektasi kami optimis masuk final, mengingat di venue lawan-lawan beregu putra terlihat kurang maksimal. Sayangnya, di final kami kalah dengan selisih hanya satu poin,” ungkapnya sedikit kecewa namun tetap legowo.
Baca juga: Atlet Sambo ITN Malang Raih Perak di Kejurprov Jatim 2025
Sementara itu, di kategori Randori Kelas 60 Kg Putra, Alam harus bersaing dengan 14 kontingen lainnya yang terbagi dalam dua pool. Ia berhasil menembus semifinal setelah melewati enam pertandingan. Di semifinal, Alam bertemu dengan perwakilan dari Kabupaten Mojokerto.
“Lawan saya saat itu adalah tentara asal Indonesia timur, dan orang timur memang terkenal unggul di Kempo,” kenangnya. Pertandingan berlangsung sengit, namun Alam harus mengakui keunggulan lawan dengan kekalahan selisih satu poin akibat kecolongan tendangan di bagian dada sebelah kiri. Pertandingan Randori Kempo menggunakan pelindung diri untuk meminimalisir cedera.
Alam menjelaskan, Kempo memiliki banyak teknik kuncian, namun ditekankan untuk tidak mencederai lawan. “Jika lawan sudah menyerah, pertarungan langsung berhenti. Tendangan dan pukulan tetap ada, semuanya menguji mental, fisik, dan kemampuan atlet,” tambahnya.
Tantangan dan Dedikasi Meraih Medali
Perjalanan Alam meraih medali tidaklah mudah. Selama persiapan, ia beberapa kali mengalami cedera serius seperti dislokasi bahu, dislokasi engkel, pembengkakan di belakang lutut akibat latihan berlebihan (overtrain), dislokasi ibu jari, hingga sobek di bagian mulut. “Saat lomba, alhamdulillah hanya bengkak-bengkak biasa karena tendangan dan pukulan,” ujarnya bersyukur.
Alam sendiri mulai mengenal Kempo sejak kelas 1 SMP, sempat vakum 5-6 tahun, dan kembali aktif berlatih pada akhir 2023. Kesempatan menjadi atlet Kempo Kabupaten Malang ini merupakan yang pertama baginya di ajang kejuaraan kelas dewasa, mengingat kompetisi Kempo dewasa di Malang cukup jarang. Untuk menghadapi Porprov ia aktif latihan enam hari seminggu, sekaligus ia juga melatih di Dojo SMA PGRI Lawang.
Meski sedikit kecewa karena tidak meraih emas, Alam mengaku sudah mengikhlaskan hasilnya. “Dari latihan yang intensif, alhamdulillah masih bisa dapat medali,” katanya, yang juga harus mengatur waktu antara latihan keras dan menyelesaikan skripsi.
Kedepannya, Alam memiliki target besar untuk mengikuti seleksi Pra-PON pada 2026, atau akhir 2025. Jika lolos, ia bertekad mewakili Jawa Timur. Pengalaman di Kempo juga telah membentuknya menjadi pribadi yang lebih baik. “Fisik jelas lebih kuat, jarang stres karena olahraga mengurangi stres. Kalau dulu kadang cemas, sekarang tidak,” pungkasnya. Solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi di Kempo juga membawa Positif yang selalu ia junjung. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

