Agung Setyo Nugroho lulusan terbaik Magister Teknik Industri (Peminatan Manajemen Industri), Pascasarjana, ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Mencapai indeks prestasi sempurna di jenjang S-2 bukanlah perkara mudah, namun Agung Setyo Nugroho membuktikan bahwa hal itu sangat mungkin dilakukan. Pria asal Karanganyar, Jawa Tengah ini resmi menyandang predikat lulusan terbaik Magister Teknik Industri (Peminatan Manajemen Industri), Pascasarjana, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dengan IPK 4.00.
Baca juga: Solusi Macet Malang: Syukri Akbar Rancang Lampu Merah “Pintar” Berbasis AI dan Data Cuaca
“Senang sekali bisa menjadi bagian dari keluarga besar ITN Malang. Bagi saya, ITN bukan sekadar kampus, melainkan rumah kedua yang membentuk karakter saya menjadi lebih tangguh, kreatif, dan adaptif,” ujar Agung.
Ia juga menyatakan dukungan dosen yang kompeten serta suasana kekeluargaan yang hangat membuatnya selalu semangat belajar, berprestasi, dan kini siap menghadapi dunia kerja profesional. Agung kini resmi menjadi bagian dari jajaran lulusan pada prosesi Wisuda ITN Malang ke-75 Periode I Tahun 2026 pada Sabtu (25/04/2026) lalu.
Agung membuktikan ketajamannya dengan membawa keresahan nyata dari dunia industri pertambangan ke dalam tesisnya. Ia menyoroti masalah klasik namun penting di PT ABC mengenai performa dump truck Komatsu HD785-7 yang sering “rewel” dan waktu perbaikannya yang memakan waktu lama, sehingga menghambat produktivitas perusahaan.
Agung Setyo Nugroho mahasiswa Magister Teknik Industri, Pascasarjana, ITN Malang saat berada di proyek. (Foto: Istimewa)
Kinerja produksi di tambang itu sangat bergantung pada kesiapan alat beratnya. Kalau unit sering masuk workshop atau perbaikannya lama, otomatis efisiensi operasionalnya terganggu,” ungkap putra dari pasangan Djimin Hadi Suyitno dan Sudjiyati ini.
Lewat penelitiannya yang berjudul “Strategi Peningkatan Physical Availability Dump Truck HD785-7 dengan Metode RBA (Risk Based Availability) dan OEE (Overall Equipment Effectiveness)”, Agung mencoba mengawinkan dua metode sekaligus untuk mencari jalan keluar.
Baca juga: Wisuda ke-75 ITN Malang: Prestasi IPK 4,00 dan Cerita Hebat di Balik Toga
Dibawah bimbingan Dr. Ellysa Nursanti, ST., MT., dan Dr. Prima Vitasari, ST., MT., Agung membedah data operasional unit sejak awal hingga Agustus 2025. Ia tidak hanya melihat data kerusakan secara umum, tapi juga memetakan risiko pada setiap komponen kritis. Tujuannya untuk melihat mitigasi sebelum kerusakan terjadi dan memastikan waktu perbaikan jadi lebih singkat.
Hasilnya pun sangat signifikan. Setelah strategi pemeliharaan berbasis risiko ini diterapkan, performa alat berat tersebut melonjak drastis.
Keberhasilan Agung meraih nilai OEE sebesar 86%—yang mana sudah melampaui target perusahaan—menjadi bukti bahwa integrasi metode RBA dan OEE yang ia tawarkan sangat efektif untuk menekan downtime di lapangan.
Kini, lulusan kebanggaan ITN Malang ini berharap hasil risetnya bisa terus diimplementasikan secara berkelanjutan, bahkan diperluas untuk unit alat berat lainnya di industri pertambangan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

