Duta Kampus ITN Malang mendalami seni MC bersama Ajeng Dini Riyanti, Founder & CEO DRO Entertainment. (Foto: Istimewa)
itnmalangnews.id – Pernah melihat MC yang berdiri kaku di pojok panggung atau terus-menerus menggerakkan kaki karena grogi? Visual itulah yang ingin dihapus dari para Duta Kampus Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Bagi seorang ambassador, bisa bicara saja tidak cukup. Mereka harus bisa menguasai panggung, atau meminjam istilah Ajeng Dini Riyanti: “Lead the event.”
Baca juga: Ajang Prestisius Duta Kampus ITN Malang 2025 Lahirkan Brand Ambassador Baru
Hal inilah yang digembleng oleh Founder & CEO DRO Entertainment, Ajeng Dini Riyanti, S.Pd., M.Sc., kepada para Duta Kampus ITN Malang. Suasana Ruang Workshop LPKU Kampus 1 ITN Malang pada Sabtu (7/3/2026) lalu mendadak riuh dan hidup. Para duta langsung diajak menyelami teknik public speaking spesialis MC, mulai dari cara menguasai panggung hingga rahasia memimpin jalannya acara agar tetap mengalir.
Tips Anti-Blank: Bukan Hanya Soal Berani
Ajeng menekankan bahwa modal utama MC adalah keberanian, tapi yang menjaga performa tetap stabil adalah persiapan. “Setiap orang punya cara sendiri menangani nervous. Ada yang butuh bawa properti acara, ada yang harus makan permen dulu. Tapi intinya satu, jangan sepelekan rundown,” tegasnya.
Diungkapkan Ajeng, bahkan MC jam terbang tinggi pun bisa blank kalau mengabaikan detail jadwal. Dengan menguasai rundown, seorang MC tahu kapan harus menyisipkan ice breaking atau kapan waktu yang pas untuk melempar candaan agar suasana tidak garing.
Duta Kampus ITN Malang mengikuti pelatihan public speaking spesialis MC. (Foto: Istimewa)
Satu hal menarik yang disoroti adalah gerak-gerik di atas panggung. MC yang tidak percaya diri biasanya cenderung pasif, jarang bergerak (moving), dan sering bersembunyi di balik podium atau pojok panggung.
“Kuncinya ada di mindset. Begitu kaki melangkah ke panggung, tanamkan pikiran bahwa kesuksesan acara ini bergantung pada saya. Kalau mindset itu sudah ada, penguasaan panggung akan mengalir sendiri,” tambah Ajeng.
Meski beberapa anggota baru merasa masih sering “malu-malu” atau nge-blank, Ajeng melihat potensi besar pada Duta Kampus angkatan 2025 ini. Ia menyarankan mereka untuk mulai berlatih lewat konten di media sosial atau vlogging untuk mengasah kepercayaan diri di depan kamera.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Koneksi: Urgensi Duta Kampus dalam Membangun Citra dan Identitas Mahasiswa
Suara Mahasiswa: Dari Teknik ke Value Diri
Pelatihan ini disambut antusias oleh para anggota duta. Desta Alzahia, mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang mengaku meski sudah mempunyai dasar sejak sekolah, tantangan di level kampus jauh berbeda.
“Cara kita bicara itu menunjukkan value diri kita. Apalagi sebagai duta, kita sering berhadapan dengan audiens formal seperti dosen atau tamu penting. Bahasanya harus ditata, jangan terlalu kasual,” ujar Desta.
Senada dengan Desta, Satryo Ahmad Shodiq dari Teknik Sipil S-1 juga merasa kemampuan ini penting bagi mahasiswa teknik. Bukan hanya untuk gaya-gayaan di atas panggung, tapi menjadi bekal negosiasi dan koordinasi tim di masa depan.
“Ketakutan terbesar biasanya kurang percaya diri dan tiba-tiba nge-blank. Lewat pelatihan ini, kami belajar intonasi dan pemilihan kata yang tepat. Harapannya, kami bisa membawa nama baik ITN Malang lewat cara berkomunikasi yang berkualitas,” tutur Satryo.
Harapannya, para Duta Kampus ini benar-benar menjadi ujung tombak citra ITN Malang. Tidak hanya hadir sebagai pemanis acara, tapi mampu bertransformasi menjadi moderator, brand ambassador, hingga entertainer profesional yang membawa nama baik kampus di luar. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)
