Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM., sekaligus alumnus PWK ITN Malang, saat memberi success story pada wisuda ITN Malang ke 74 periode II tahun 2025. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Wisuda Institut Teknologi Nasional (ITN Malang) bukan sekadar seremoni penutup masa studi, melainkan “momentum untuk membuktikan jati diri sebagai insan intelektual,” dan awal untuk “melakukan langkah-langkah besar di masa mendatang.”
Pesan ini disampaikan langsung oleh Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM., yang juga merupakan alumnus Planologi ITN Malang angkatan 1985, atau sekarang menjadi Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Kehadiran Wali Kota Malang sebagai success story alumni menjadi inspirasi utama bagi para wisudawan.
Baca juga: Rektor ITN Malang Dorong 556 Lulusan Jadi “Trendsetter” di Era Transformasi Digital
Alumni Jadi Orang Nomor Satu di Kota Malang: Modal Disiplin dan Inovasi
Wahyu Hidayat menekankan bahwa pendidikan formal telah membekali lulusan dengan kemampuan penalaran logis, kritis, sistematik, dan konsisten. Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan akademik saja tidaklah cukup.
“Keberhasilan dapat dicapai dengan disiplin, motivasi, kerja cerdas, dan ketangguhan lahir batin,” tegasnya.
Ia membagikan pengalamannya sendiri, di mana ilmu yang didapatkan semasa kuliah di ITN Malang menjadi “modal dan bekal” hingga ia dapat berdiri sebagai Wali Kota Malang.
“Banyak hal yang saya dapatkan, ini menjadi suatu pelajaran yang murni saya dapatkan di ITN Malang,” ujarnya. Ia pun berharap para wisudawan dapat mengamalkan ilmunya untuk kepentingan bangsa dan negara.
LLDIKTI VII: Wujudkan ‘Kampus Berdampak’ dengan 3K
Senada dengan pesan tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE., MM., berharap para wisudawan memiliki “mimpi besar,” menjadi “agen perubahan,” dan berkontribusi nyata pada pembangunan.
Prof. Dyah menjabarkan visi besar Kemendiktisaintek dalam mewujudkan Indonesia Emas, di mana perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui hilirisasi riset-riset unggulan.
“Wisudawan harus menjadi agen perubahan dari kompetensi yang sudah didapat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa riset kampus harus dikembangkan oleh alumni sehingga dapat menjadi pondasi kuat untuk masa depan bangsa.
Prof. Dyah juga menitipkan pesan penting, yaitu agar para wisudawan senantiasa mengingat 3K dalam berkarya: Komunikasi, Koordinasi, dan Kolaborasi. “Kolaborasi! Saat ini pasti harus kolaborasi. Kolaborasi bagian terpenting mencapai sukses,” pungkasnya.
Ia juga menyoroti kebanggaannya terhadap wisudawan penerima KIP (Kartu Indonesia Pintar) seperti Achmad Faisal Bahri, dari Prodi Teknik Mesin S-1 ITN Malang. Dimana ia telah mampu merintis usaha sendiri, menjadikannya contoh nyata untuk mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan konsep “Kampus Berdampak” yang berkontribusi pada penanganan stunting, swasembada energi, hingga pengelolaan sampah. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)


