Hilda Rosa Ainiyah, S.Psi., M.Psi., praktisi psikolog ITN Malang memaparkan materi bertema ”Listen, Care, and Support: Peran Guru BK sebagai Garda Depan Kesehatan Mental Siswa” di Aula Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menekankan pentingnya perhatian terhadap isu kesehatan mental remaja yang semakin mendesak. Melalui Workshop Kolaborasi bersama Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kabupaten Situbondo.
Baca juga: Bukan Sekadar Presentasi Tahunan, ITN Malang Bangun “Ekosistem Kolaborasi” dengan MGBK Situbondo
Bertema “Listen, Care, and Support: Peran Guru BK sebagai Garda Depan Kesehatan Mental Siswa”, workshop menghadirkan praktisi psikolog ITN Malang, Hilda Rosa Ainiyah, S.Psi., M.Psi. Acara yang bertujuan memperkuat kapasitas pendidik dalam menghadapi tantangan psikologis siswa ini diselenggarakan di Aula Kampus 1 ITN Malang pada hari Sabtu (29/11/2025).
Generasi Z dan Tantangan Pisau Bermata Dua Teknologi
Hilda Rosa Ainiyah dalam materinya menekankan, guru BK memegang peran penting di tengah dinamika remaja saat ini. guru BK berada di posisi terdepan sebagai benteng pertahanan pertama bagi kesehatan mental para siswa. “Selaras dengan semangat pendidikan, kita harus mengakui bahwa guru BK adalah garda terdepan kesehatan mental siswa. Kita banyak belajar, tapi juga banyak ‘pusingnya’ menghadapi dinamika remaja saat ini,” ujarnya.
Hilda memaparkan karakteristik unik Generasi Z (Gen Z), yaitu anak-anak SMA saat ini yang merupakan digital native. Karakteristik utama Gen Z, ia Lahir dan besar bersama internet, gadget, dan media sosial. Mereka cepat mendapatkan informasi, namun juga rentan terhadap distraksi.
“Gaya belajar mereka lebih menyukai hal-hal yang bersifat visual dan praktis, seperti belajar melalui video, gambar, atau pengalaman langsung, serta kurang sabar dengan teori yang panjang,” paparnya.
Hilda mengingatkan bahwa teknologi adalah seperti pisau bermata dua. Jika dimanfaatkan dengan baik, teknologi bisa menjadi hal yang sangat positif. Namun, jika tidak bisa memanfaatkan, teknologi justru akan merusak. Ia menyoroti isu serius bahwa anak yang kecanduan gadget atau game dapat menunjukkan perubahan bentuk otak yang menyerupai gangguan psikologis serius seperti skizofrenia, lengkap dengan gejala halusinasi.
“Menggulir (scroll) TikTok telah menjadi hal yang sangat disukai anak sekarang, padahal ini bisa menjadi suatu yang membahayakan karena sifatnya yang sangat memicu dopamin secara instan dan masif,” lanjutnya.
Isu Krusial Kesehatan Mental Remaja dan Strategi Efektif Menghadapi Gen Z
Data yang disampaikan Hilda menunjukkan peningkatan masalah kesehatan mental di kalangan Gen Z, yakni: kecemasan 26,7%, depresi meningkat 2% dari tahun ke tahun, stres pekerjaan 91%, dan kecanduan gadget dan game 72%.
Baca juga: Butuh Teman Curhat? ITN Malang Sediakan Layanan Konseling Gratis bagi Mahasiswa
“Yang lebih memprihatinkan, saat ini banyak kasus kesehatan mental yang berujung pada keinginan untuk mengakhiri hidup. Hal ini berbeda dengan dinamika depresi di masa lalu yang umumnya disebabkan oleh permasalahan hidup yang nyata (seperti kehabisan harta karena judi) namun minim kasus bunuh diri. Kini isu utamanya adalah kurangnya kebermaknaan hidup,” terangnya.
Sebagai solusi dan langkah antisipasi Hilda membagikan beberapa cara efektif bagi guru dan orang tua dalam menghadapi Gen Z. Antara lain: memberikan pendekatan emosional yang tulus kepada anak, mengajak mereka berpikir secara konkret, bukan hanya teori, fokus pada here and now (saat ini dan di sini), melatih growth mindset (pola pikir bertumbuh) untuk menerima tantangan, serta melatih self boundaries (batas diri) yang sehat.
Respon Positif dari Kepala Sekolah dan Guru BK Situbondo
Kegiatan kolaborasi ini disambut hangat oleh perwakilan dari Situbondo. Kepala SMAN 1 Situbondo, Dwi Retno Susanti, M.Pd, , menyampaikan apresiasinya. “Ini adalah kegiatan yang sangat positif. Materi yang disampaikan Bu Hilda sangat bagus dan kompeten. Sebenarnya semua guru ingin hadir, tetapi karena keterbatasan waktu dan jarak, kami hadir sebagai perwakilan bersama para Guru BK,” katanya.
Senada dengan itu, Lulu Libriana guru BK SMAN 1 Situbondo yang hadir bersama empat guru BK dan kepala sekolah, merasa terbantu. “Sangat luar biasa, kami merasa surprise dengan acara ini. Bu Hilda juga hebat dalam memberikan motivasi kepada Guru BK. Materi yang disampaikan sangat relate dengan isu Gen Z. Semoga nanti kami bisa berkunjung ke ITN lagi,” ungkapnya penuh antusias.
Dengan inisiatif “Ekosistem Kolaborasi” ini, ITN Malang berharap dapat terus menjadi wadah sinergi antara akademisi dan praktisi pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga sehat secara mental bagi para siswa. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

