Upacara 17-an ITN Malang, Mengenal Kekayaan Budaya Nusantara

itnmalangnews.id – Indonesia terdiri atas ribuan pulau dengan beragam suku dan budaya. Representasi kebhinekaan tersebut juga terdapat di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Sebagai perguruan tinggi nasionalis yang menjunjung persatuan, ITN Malang menjadi wadah bagi kegiatan-kegiatan terkait.

Upacara 17-an ITN Malang, Mengenal Kekayaan Budaya Nusantara

Dortauli Situmeang, S.Sos (kanan) mengenakan pakaian tradisional Batak toba. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Baca juga: www.itn.ac.id

Upacara setiap tanggal 17 dengan pakaian tradisional merupakan salah satu implementasinya. Melalui upacara ini, setiap peserta upacara bisa mengenal lebih banyak budaya lain. Misalkan saja Dortauli Situmeang, S.Sos, peserta upacara yang mengenakan pakaian tradisional Batak Toba. Ia yang juga menjabat Ketua Perpustakaan ITN Malang ini ingin menunjukkan budaya daerah kelahirannya.

“Yang saya pakai adat Batak Toba. Ini ada kebaya dikolaborasikan songket dan sortali. Di Batak, ada juga Batak Simalungun yang biasanya bertopi dan Batak Karo yang ulosnya lebih lebar,” jelas Dortauli mengenai pakaian yang ia kenakan, (17/02/2020).

Kepala Perpustakaan Pusat ITN Malang tersebut menyampaikan dukungan terhadap agenda baru di ITN Malang yakni upacara 17-an. “Saya mendukung sekali. Untuk kerukunan beragama sudah ditunjukkan dengan berbagai tempat ibadah di kampus 2, upacara menjadi ajang menyampaikan kekayaan budaya. Muda-mudi banyak yang belum kenal beragam budaya di Indonesia. Kalau memungkinkan, saya jadi terpikir untuk membuat koleksi terkait budaya di perpustakaan juga,” ujar Dorta.

Baca juga: Prof. Abraham Lomi ajak Mahasiswa Baru ITN Malang untuk Belajar Budaya dan Memahami Orang Lain

Baca juga: Ubah Budaya Tutur Menjadi Tulis, Himpunan Mahasiswa Geodesi Gelar Workshop Karya Tulis Ilmiah

Peserta upacara lain, Dr. Ellysa Nursanti, ST, MT, turut mengutarakan kebanggaannya mengikuti upacara dengan memakai pakaian tradisional. Dekan Fakultas Teknologi Industri ini memilih untuk mengawali upacara rutin mengenakan pakaian adat Papua.

“Saya merasa bangga dan senang dengan program ini. Papua kan daerah paling ujung. Saya ingin memulai dari yang paling timur, lalu di bulan-bulan selanjutnya bergeser ke barat,” ujar Ellysa. (ata)

(Visited 100 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *