Teknik Kimia ITN Malang Kembangkan Spirulina Sebagai Bahan Pangan dan Kosmetik

itnmalangnews.id – Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang serius mengembangkan spirulina (algae) sebagai bahan olahan pangan dan kosmetik. Hal ini tampak dari sekian produk yang dipamerkan yang telah diproduksi menggunakan bahan tumbuhan mikroskopik ini.

Teknik Kimia Kembangkan Spirulina Sebagai Bahan Olahan PanganSetidaknya ada enam jenis produk yang sudah diproduksi, dan dapat dinikmati dengan harga yang sangat terjangkau dan kualitas gizi yang bagus. Di antaranya: Kukis dengan merek Spi Nice. Makanan ini dihargai 20 ribu rupiah per 200 gram. Es Krim dengan brand Spi Ice Cream dibandrol 3.500 rupiah, masker dengan nama Spi Mask seharga 90 ribu rupiah satu pak berisi 50. Sabun Spi Soap dihargai 10 ribu rupiah per 60 gram, sampo Spi Samp dihargai 75 ribu per 125 mililiter, dan pakan ikan Spi Der.

“Semua nama produknya diawali dengan Spi, dan warnanya kita biarkan tetap natural yaitu hijau, agar tetap khas spirulina,” terang Prof. Dr. Ir. Tri Poespowati, ST,MT, salah satu aktor utama pengembangan spirulina sebagai bahan pangan dan kosmetik di jurusan Teknik Kimia kampus biru.

Menurut alumni Newcastle University Australia itu, spirulina memiliki beberapa kandungan zat yang penting bagi tubuh manusia, di antaranya yang cukup penting protein, karbohidrat, fosfor dan lainnya. “Proteinnya 62,4 persen, karbohidratnya 32 persen, dan ditemukan 730 miligram fosfor dalam setiap 100 gram powder spirulina,” kata Prof. Poespowati saat ditemui di laboratorium kimia.

Memang sejauh ini, menurut perempuan asli Malang ini di Indonesia belum banyak yang melakukan pengembangan pangan dan kosmetik dengan berbagah spirulina. Hal ini memang karena belum ada pembelajaran bagi masyarakat dan termasuk cara menanam tumbuhan itu juga masih cukup sulit bagi yang belum punya pengalaman.

Untuk itu, dia bersama dua dosen teknik kimia lainnya yaitu Dra. Siswi Astuti, M.Pd dan Faidliyah Nilna ST, ST berharap dapat mengembangkan spirulina lebih lanjut. Sehingga nantinya masyarakat dapat memanfaatkan spirulina untuk membuat makanan sendiri. “Inginnya kita, kalau masyarakat tahu kandungan gizinya, nanti mereka membuat kue sendiri untuk anaknya yang sekolah itu, kan bagus,” tuturnya. (her)

(Visited 397 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *