Skripsi Mahasiswa PWK Bahas Desa Enclave Suku Tengger

itnmalangnews.id – “Taman Nasional Bromo Tengger Semeru kan sudah ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata nasional. Desa-desa sekitar sedikit banyak tentu terpengaruh objek wisata. Skripsi saya memilih Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kota Malang. Saya tertarik dengan perkembangan Ngadas karena Desa Ngadas sudah ada sebelum Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dibentuk alias desa enclave,” ujar Eki, mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang mengawali pemaparan skripsi.

Skripsi Mahasiswa PWK Bahas Desa Enclave Suku TenggerBaca juga: www.itn.ac.id

Ada empat desa di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, antara lain Cemoro Lawang (Probolinggo), Tosari (Pasuruan), Ranupani (Lumajang), dan Ngadas (Malang). Cemoro Lawang dan Tosari berlokasi di luar taman nasional sehingga perkembangannya masif. Sementara itu, di dua desa lain adat istiadat masih sangat kental.

“Selama mengobservasi dan mencari data di sana, saya paham jika Ngadas terus berkembang. Bertani adalah mata pencaharian utama, tetapi objek pariwisata memunculkan ruang-ruang dan aktivitas tambahan. Kalau menurut teori, Ngadas terkena efek peganda. Pariwisata memang punya power besar terhadap lingkungan sekitar,” tutur mahasiswa asal Samarinda ini.

Perubahan dan perspektif ruang tercakup pada faktor-faktor yang Eki identifikasi. Hasilnya, tiga faktor berskala dampak paling besar adalah keingintahuan masyarakat, kesejahteraan masyarakat, dan keuntungan. Kemudian diikuti oleh tiga faktor lain yakni konsumsi masyarakat, diferensiasi harga, serta pemasukan dan pengeluaran.

Eki membagi perubahan ruang dan aktivitas masyarakat dalam tiga macam usaha. Seperti tersirat pada faktor-faktor yang diobservasi, perubahan tersebut berimbas pada bidang ekonomi. “Ringkasnya ada usaha dagang, transportasi, dan akomodasi. Kalau aplikasinya banyak, misal ojek wisata, warung, pedagang, home stay, kuda wisata, tour guide, dan sewa kendaraan,” kata dia.

Ia menyimpulkan Desa Ngadas memiliki berbagai daya tarik yang bisa dieksplorasi. Ia berharap Ngadas dapat berkembang menjadi desa adat wisata. “Ngadas punya embrio desa adat wisata. Adatnya kental, keberagaman masyarakat juga menarik. Tinggal meningkatkan pengelolaan wisata dan menguatkan instrumen masyarakat setempat,” pungkas mahasiswa yang menyelesaikan studi selama tujuh semester dengan IPK 3,6 tersebut. (ata)

(Visited 394 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *