TK Santa Maria 2 Malang mengeksplorasi tiga rumah ibadah di ITN Malang. (Foto: Mita/ Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Pemandangan di Kampus 2, Institut Teknologi Nasional Malang, (ITN Malang) tampak berbeda pada Jumat pagi (30/01/2026). Jika biasanya area kampus dipenuhi mahasiswa, kali ini derap langkah kecil dan tawa riang yang mendominasi. Kaki-kaki mungil siswa TK Katolik Santa Maria 2 Malang tampak antusias memasuki area tempat ibadah yang menjadi ikon kerukunan di Kampus Teknologi dan Inovasi ini.
Baca juga: Eksplorasi Energi Masa Depan: Study Visual SD IT Insan Permata Malang di ITN Malang
Bukan tanpa alasan mereka datang. Jauh-jauh dari Jl. Telomoyo, Klojen, rombongan yang terdiri dari 54 siswa, para guru, dan orang tua ini ingin melihat langsung bagaimana pura, kapel, dan masjid bisa berdiri berdampingan dalam satu area kampus. Ini merupakan kunjungan kedua mereka setelah sempat mampir dua tahun silam.
Kepala Lembaga Penerimaan Mahasiswa Baru (LPMB) ITN Malang, Adhy Ariyanto, ST., MT., menyambut langsung rombongan ini. Sambil menemani anak-anak berkeliling dari satu destinasi ke destinasi lain, Adhy menegaskan bahwa ITN sangat terbuka bagi siapa saja.
“Kami menyambut hangat kunjungan dari semua jenjang, mulai TK sampai SMA. Entah itu mau belajar di laboratorium, melihat PLTS, atau seperti adik-adik ini mengunjungi tempat ibadah. Pintu kami selalu terbuka untuk mereka yang ingin menimba ilmu,” ujar Adhy.
Eni Pelitaningsih, perwakilan guru TK Santa Maria 2 menjelaskan, meski sekolah mereka berbasis Katolik, siswa-siswanya sangat beragam, ada yang beragama Kristen, Islam, hingga Hindu. Menurutnya, membawa anak-anak usia 4-5 tahun ke ITN Malang adalah cara paling konkret untuk mengenalkan keberagaman Indonesia.
Baca juga: Semarak Natal 2025 Gereja St. Thomas Aquinas ITN Malang: Menghadirkan Keselamatan dalam Keluarga
“Kami ingin memperkenalkan bahwa di Indonesia itu agamanya banyak. Di ITN ini lengkap, ada pura, gereja (kapel), dan masjid yang lokasinya berdekatan, jadi sekali jalan semua bisa diperkenalkan,” tutur Eni.
Ia juga menekankan pentingnya adab di rumah ibadah orang lain. “Anak-anak belajar toleransi sejak dini. Misalnya, kalau masuk masjid alas kakinya harus dilepas. Tadi di pura kebetulan juga ada yang sedang ibadah, jadi mereka bisa melihat langsung situasinya,” tambahnya dengan syukur.
Senada dengan Eni, takmir Masjid ITN Malang, Mohammad Istnaeny Hudha, ST, MT, merasa langkah sekolah mengenalkan toleransi sejak dini adalah gerakan yang sangat luar biasa. Baginya, kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan, tapi sebuah upaya preventif.
“Ini luar biasa. Di saat virus radikalisme mudah menyebar seperti sekarang, upaya mengenalkan kehidupan toleransi sejak dini sangat diperlukan. ITN konsisten membangun narasi kerukunan ini melalui fasilitas tiga tempat ibadah yang ada,” tegas pria yang juga merupakan dosen Teknik Kimia ITN Malang.
Kunjungan ini diakhiri dengan harapan bahwa kerja sama edukasi ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, membawa bibit-bibit toleransi dari kampus menuju masyarakat yang lebih luas. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)


