Alamsyah Surya Kencana, lulusan terbaik Teknik Mesin S-1, Fakultas Teknologi Industri (FTI), ITN Malang pada wisuda ke 57 periode 1 tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Siapa sangka, Alamsyah Surya Kencana yang awalnya sempat menolak untuk duduk di bangku kuliah, justru keluar sebagai lulusan terbaik Teknik Mesin S-1, pada Wisuda ke-57 Periode 1 Tahun 2026. Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) ini membuktikan bahwa tantangan yang ia temukan di dunia kerja justru menjadi motivasi utama untuk menempuh pendidikan tinggi demi memperdalam keahlian teknisnya.
Baca juga: Alamsyah Surya Kencana, Mahasiswa ITN Malang Sabet Dua Medali di Porprov Jatim 2025
Alam akrab disapa merupakan alumnus SMKN 2 Singosari. Pemuda asal Kabupaten Malang, Jawa Timur ini mempunyai cerita unik di balik keputusannya masuk ke ITN Malang. Setamat SMK, ia lebih memilih langsung bekerja di sebuah perusahaan di Pasuruan selama setahun untuk mencari pengalaman dan portofolio. Namun, justru di lapanganlah ia menemukan jawaban mengapa ia harus kuliah.
“Awalnya orang tua sempat melarang saya bekerja. Tapi setelah setahun kerja, saya sadar banyak problem teknis di lapangan yang tidak bisa dijawab hanya dengan pengalaman praktis. Dari situ saya putuskan kuliah, dan pilihan jatuh ke ITN Malang karena akreditasi Teknik Mesin-nya A,” kenang putra pasangan Aris Armadani, dan Indah Sari ini.
Alamsyah Surya Kencana, mahasiswa Teknik Mesin S-1 ITN Malang saat melakukan penelitian di laboratorium. (Foto: Istimewa)
Menariknya, pemilik IPK 3.10 ini dulunya di SMK adalah siswa Jurusan Animasi. Meski jago menggambar, ia merasa dunia digital di depan meja sangat membosankan. Alam lebih tertantang dengan mesin dan aktivitas fisik. Karakter kuatnya sebagai orang lapangan juga terlihat dari aktivitasnya di luar kampus. Ia adalah pelatih atlet Kempo dan Kick Boxing yang aktif hingga sekarang.
Prestasinya di dunia olahraga pun tak main-main. Ia sukses menyabet dua medali sekaligus pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025 lewat cabang Shorinji Kempo, yakni medali perak di kategori Embu Beregu Putra dan medali perunggu di kategori Randori Kelas 60 Kg Putra. Bahkan di sela-sela kesibukan semester akhirnya, ia masih sempat bekerja part-time sebagai barista untuk mengisi waktu luang.
“Orang tua jujur tidak menyangka saya bisa jadi wisudawan terbaik, karena secara akademik saya merasa tidak terlalu menonjol dibanding teman-teman lainnya,” akunya merendah.
Untuk tugas akhirnya, Alam mengangkat judul skripsi yang cukup teknis namun sangat relevan dengan isu lingkungan. Yakni: Analisa Pengaruh Komposisi Plastik LDPE (Low Density Polyethylene) Murni dan Daur Ulang dengan Bahan Penguat Abu Sekam Padi pada Mesin Injeksi Molding Semi Otomatis Terhadap Uji Impact dan Struktur Makro.
Di bawah bimbingan Dr. I Komang Astana Widi, ST., MT., Alam meneliti sejauh mana limbah plastik rumah tangga (LDPE) jika dipadukan dengan abu sekam padi bisa menjadi material yang kuat. Ia harus berjibaku dengan 24 spesimen di laboratorium. Riset ini benar-benar sebuah eksperimen awal karena di angkatannya belum ada yang mencoba titik maksimal campuran tersebut.
“Kesulitan utamanya ya saat mengoperasikan mesin injeksi moldingnya. Karena alatnya terbatas dan suhunya harus benar-benar dijaga, sempat terjadi melebihi kapasitas karena abunya kebanyakan. Tapi setelah ketemu formulasi yang pas, material ini sebenarnya potensial dikembangkan untuk bahan souvenir atau produk UMKM,” jelasnya.
Dari hasil pengujian metode Charpy, ia menemukan bahwa komposisi paling optimal ada pada campuran 92,5% LDPE murni dan 7,5% abu sekam padi. Meskipun penambahan abu sekam padi yang terlalu banyak cenderung membuat material lebih getas, namun riset ini menjadi pijakan penting bagi pengolahan limbah plastik dan pertanian di masa depan.
Menutup perjalanannya di kampus biru, Alam menitipkan pesan motivasi bagi rekan-rekannya. “Jangan pernah takut bermimpi dan jangan pernah takut untuk memulai. Masa depan masih di depan, masa lalu sudah terlewati, dan kita hidup untuk saat ini,” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

