Pemenang kategori AutoCAD Drafting Competition (ADC), Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Kompetisi Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 yang digelar Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) akhirnya mencapai puncaknya. Setelah melalui seleksi ketat, para jawara baru di bidang ketekniksipilan resmi lahir. Kompetisi ECIVE yang menjadi bagian dari Civil Engineering Festival (CEF) 2026 ini berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu (19-20/05/2026) di Kampus 1 ITN Malang.
Di kategori AutoCAD Drafting Competition (ADC), didominasi oleh SMK Sore Tulungagung, diraih oleh Galih Ardhan Fernanda, dan Kaka Dewa Jagad Dhita yang sukses mengamankan podium juara 1 dan 2. Sementara pada ajang Balsa Bridge Competition (BBC), Tim Gladak Anyar dari SMAN 1 Pamekasan berhasil memboyong piala juara 1 setelah jembatan kayu balsa rakitan mereka kokoh menahan beban maksimal.
Koordinator Panitia Mahasiswa, Muhammad Ramdan Nurfauzi, menjelaskan, ajang bertema “Designing the Future Through Civil Engineering Unity” ini diikuti oleh 29 pendaftar dari berbagai sekolah di Jawa Timur. Setelah melewati babak penyisihan secara online selama sebulan, di mana peserta BBC mengirimkan maket jembatan dan peserta ADC mengirimkan desain gedung ke panitia, terpilihlah 7 finalis ADC dan 5 tim finalis BBC untuk bertanding secara langsung di kampus.
Balsa Bridge Competition ECIVE 2026 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
“Tantangan terbesar bagi sekolah memang di babak final yang dilakukan secara offline, terutama bagi sekolah yang lokasinya cukup jauh untuk mengirimkan delegasinya. Namun, kami bersyukur antusiasmenya luar biasa. Semoga kompetisi ini bisa terus memotivasi adik-adik SMA/SMK untuk tidak ragu melanjutkan kuliah di dunia Teknik Sipil,” ujar Ramdan.
Apresiasi luar biasa pun sudah disiapkan oleh kampus untuk menghargai kerja keras para pemenang. ITN Malang memberikan bonus beasiswa berupa potongan Dana Pengembangan Pendidikan (DPP). Untuk semua kategori lomba, bagi juara 1 kampus menggratiskan DPP 100%. Sementara untuk juara 2 berhak mendapatkan potongan DPP sebesar 75%, dan juara 3 mendapatkan potongan 50%.
Baca juga: Creation 3.0 Teknik Sipil: Uji Pembebanan Jadi Bukti Ketangguhan Desain Jembatan Balsa Mahasiswa
Kemenangan Galih di kompetisi desain bangunan 2 lantai ini terbilang dramatis. Meski sudah sering ikut lomba serupa, ia mengaku sempat kelimpungan dengan durasi lomba yang sangat mepet.
“Nggak nyangka sama sekali bisa juara 1, soalnya hampir semua peserta termasuk saya tidak sampai menyelesaikan semua gambar. Di sini aplikasinya beda dan harus gambar satu-satu,” cerita Galih antusias.
Tantangan waktu juga diakui oleh Kaka, sang juara dua yang juga rekan satu sekolah Galih. Jika biasanya saat latihan mereka punya waktu 6 jam untuk menyelesaikan 8 gambar, di final ECIVE ini mereka dipaksa memeras otak dan kecepatan tangan untuk menghasilkan 12 gambar hanya dalam waktu 3 jam. Namun, kerja keras itu terbayar lunas.
Melengkapi posisi tiga besar ADC, Wildan Faza Pamungkas dari SMKN 2 Kraksaan Probolinggo keluar sebagai juara 3. Baginya, melesetnya beberapa grid gambar karena terburu bukan masalah besar. Pengalaman bertanding di ITN Malang justru menjadi portofolio berharga untuk bekalnya masuk ke perguruan tinggi nanti.
Pemenang Kategori Balsa Bridge Competition (BBC), Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
Kejutan dari Siswa SMA di Arena Jembatan Balsa
Jika lomba AutoCAD dikuasai anak SMK, kejutan besar justru terjadi di kategori Balsa Bridge Competition (BBC). Tim Gladak Anyar dari SMAN 1 Pamekasan, yang beranggotakan Tulus Firmansyah (Firman), Mohammad Dhorif Aflah Faisal (Dhorif), dan Bintang Achmad Fauzani, sukses menyingkirkan peserta lain.
Ketegangan sempat menyelimuti tim saat memasuki fase uji pembebanan jembatan. Dhorif bercerita bahwa mereka baru bisa bernapas lega dan tersenyum lebar saat melihat timer terus berjalan dan jembatan mereka sanggup bertahan paling lama. Rahasia kekompakan tim kelas 11 ini terletak pada pembagian tugas yang tepat. Firman memegang kendali penuh pada perhitungan dimensi, Dhorif bertugas memotong kayu balsa, dan Bintang mengeksekusi proses pengeleman.
“Triknya ada di pengeleman. Antar sambungan kayu balsa itu sama sekali tidak boleh ada celah atau bolong sedikit pun,” ungkap mereka membagikan kunci kemenangan.
Keberhasilan SMAN 1 Pamekasan makin lengkap karena Tim Jagoan Mama (juga dari SMAN 1 Pamekasan) sukses mengamankan Juara 2 dengan nilai 934.91, tepat di bawah Tim Gladak Anyar yang meraih skor tertinggi 1095.14. Sedangkan Juara 3 diraih oleh Tim Dinaya dari SMKN 1 Singosari dengan total nilai 895.28.
Di balik gelar juara dari SMAN 1 Pamekasan ini, ada cerita unik dari Riski Saputra, guru pembina. Siapa sangka, mentor tim jembatan balsa tangguh ini sebenarnya adalah seorang guru Bahasa.
“Ini ilmu yang benar-benar baru buat saya. Basic saya guru bahasa, tapi saya belajar engineering secara otodidak selama 3 tahun ini demi memfasilitasi anak-anak ekskul yang penasaran dengan struktur kayu balsa,” ujar Riski. Ia berharap kompetisi seperti ini terus konsisten diadakan setiap tahun oleh ITN Malang sebagai sarana regenerasi bagi siswa SMA yang tertarik dengan dunia teknik. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)


