Kika: Naffa Eka Setiawati, dan Sasti Nur Rizkillah mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang, saat melaksanakan tugas sebagai perwakilan Duta Kampus di acara Campus Expo. (Foto: Istimewa)
itnmalangnews.id – Siapa bilang jadi aktivis kampus membuat kuliah keteteran? Sasti Nur Rizkillah dan Naffa Eka Setiawati baru saja mematahkan mitos itu dengan membuktikan bahwa selempang Duta Kampus 2024 yang mereka sandang berjalan beriringan dengan prestasi akademik, yakni lulus hanya dalam waktu 3,5 tahun.
Baca juga: Grand Final Pemilihan Duta Kampus ITN Malang 2024, Ajang Bergengsi Bagi Mahasiswa Berprestasi
Dua srikandi Teknik Sipil S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) angkatan 2022 ini menorehkan kebanggaan ganda. Sasti merupakan The Winner Duta Kampus ITN Malang 2024, sementara Naffa adalah peraih gelar Duta Favorit. Atas dedikasinya, sepasang sahabat ini akhirnya resmi dikukuhkan pada prosesi wisuda ke-75 periode I di akhir April 2026 lalu.
Menariknya, mereka bukan hanya sekadar rekan sejawat di organisasi, melainkan dua sahabat karib yang saling mendukung sejak awal perkuliahan. Kedekatan inilah yang menjadi motivasi tambahan bagi keduanya untuk sukses bersama. Hebatnya lagi, sepasang sahabat ini sebelum mengikuti yudisium mereka sudah mendapat pekerjaan.
Kika: Naffa Eka Setiawati, dan Sasti Nur Rizkillah Duta Kampus 2024, lulusan Teknik Sipil S-1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)
Sasti kini resmi bergabung dengan PT Bumi Palapa Perkasa Pasuruan sebagai Junior Estimator, sementara Naffa, langsung melesat ke Jakarta Selatan, bergabung dengan raksasa BUMN PT PP (Persero) Tbk sebagai Quantity Surveyor di proyek bergengsi Polder DKI.
Bukan Sekadar “Pemanis” Acara, Tapi Ujian Mental
Menjadi Duta Kampus identik dengan acara protokoler yang padat. Sasti mengaku sempat tertatih-tatih mengatur waktu. “Jujur, bimbingan skripsi sempat tertunda karena jadwal kampus. Tapi saya sadar, gelar Duta itu tanggung jawab ke kampus, tapi lulus kuliah itu janji saya ke orang tua. Jadi, keduanya harus tuntas,” kenang Sasti saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp.
Bagi Sasti, pengalaman berdiri dan bicara di depan banyak orang saat bertugas sebagai duta adalah latihan mental yang luar biasa. “Waktu interview kerja, rasa percaya diri itu keluar sendiri. Cara kita membawa diri di depan atasan, itu nilai plus yang saya dapat dari pengalaman organisasi,” tambahnya.
Baca juga: Mahasiswa ITN Malang Ikuti Youth Forum “Malang Creative Economy Goes Global” Voice of Indonesia
Hal senada dirasakan Naffa. Baginya, disiplin adalah harga mati. Ia terbiasa membereskan tugas kuliah lebih awal demi mengantisipasi tugas protokoler yang sering datang mendadak. Strategi ini terbukti ampuh membawanya lulus 3,5 tahun.
Geoteknik dan Manajemen Konstruksi: Dari Teori ke Proyek Nyata
Meski mengambil peminatan Geoteknik yang fokus pada struktur tanah dan fondasi, Sasti kini justru berkutat dengan angka sebagai Estimator. Namun, ilmu geotekniknya tidak terbuang percuma. Di kantornya, ia sering menangani proyek-proyek yang berkaitan dengan struktur tanah.
“Dunia lelang itu seni. Harus dikerjakan pakai hati. Perhitungan harus akurat, karena salah jadwal sedikit saja biaya bisa bengkak. Di ITN, kami sudah biasa diberi tugas banyak dengan deadline mepet. Ternyata itu kunci sukses di dunia kerja agar tidak kaget dengan beban proyek,” selorohnya.
Di sisi lain, Naffa yang memilih Manajemen Konstruksi merasa pilihannya sangat linear dengan posisinya sekarang sebagai Quantity Surveyor. Jalannya menuju PT PP (Persero) Tbk pun terbilang mulus berkat strategi magang dua kali di tempat yang sama. “Pas magang, tunjukkan performa terbaik. Jadi pas rekrutmen, kita sudah punya gambaran budaya kerja mereka,” sarannya.
Pesan untuk Adik Tingkat: Cari “Lingkaran” yang Tepat
Kesuksesan mereka adalah buah dari kerja keras dan support system yang kuat antar sahabat. Sasti berpesan agar mahasiswa tidak menutup diri. “Cari lingkungan yang suportif. Saya beruntung punya sahabat seperti Naffa dan lingkungan pertemanan lainnya yang bikin jalan bareng jadi terasa lebih ringan dan seru,” kata Sasti.
Menutup obrolan, Sasti memberikan doa yang cukup unik untuk jurusannya. “Semoga tugasnya tambah banyak! Karena itu ternyata yang paling ‘josjis’ buat membiasakan diri di dunia kerja. Tanggung jawab engineer itu bukan hanya uang, tapi nyawa orang,” tutupnya mantap.
Harapan yang sama juga disampaikan Naffa. Ia ingin Teknik Sipil ITN Malang terus memperkuat kerja sama dengan industri agar lulusannya tetap kompeten dan adaptif di tengah persaingan yang semakin ketat. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

