Mahasiswa ITN Malang Ciptakan Hybrid Cooler Portable untuk Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan

itnmalangnews.id – Duet mahasiswa Teknik Elektro S-1 semester 5 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Cahyo Edi Wicaksono dan Ariq Alif Ummam berhasil menyabet juara 1 Chemication 2019 bidang energi di UPN Veteran, Surabaya, Senin (21/10). Mereka membuat prototype rancang bangun Hybrid Cooler Portable (Hycpo). Inspirasi karya mereka salah satunya didapat dari kampung halaman Ariq.

Mahasiswa ITN Malang Ciptakan Hybrid Cooler Portable untuk Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan

Cahyo Edi Wicaksono (baju biru) dan Ariq Alif Ummam (baju hitam) menunjukkan Hybrid Cooler Portable. (Foto: Ata/itnnews)


Baca juga: www.itn.ac.id

“Saya asal Tuban, di sana banyak nelayan. Borosnya di genset. Kalau pakai pendingin kotak styrofoam dan es batu, nelayan cepat-cepat kembali sebelum alat tidak dingin lagi. Secara umum, masalah ini ada di mana-mana,” jelas Ariq ketika ditemui di Ruang Humas ITN Malang sehari kemudian, Selasa (22/10).

Alat ini menggunakan energi terbarukan dari panel surya dan mikrohidro. Dua sumber tersebut masuk ke baterai dan dikontrol dengan sistem arduino. Hycpo dirancang hemat daya sehingga bisa mati otomatis ketika suhu ikan mencapai 5 derajat celcius dan menyala lagi saat suhu ikan naik maksimal menjadi 10 derajat celcius.

Ketika kapal bergerak, turbin akan memutar. Besar energi yang didapat tergantung kecepatan kapal. Ketika kapal diam, masih ada aki untuk menyimpan daya. Prototype Hycpo sendiri dilengkapi 2 aki yang masing-masing bisa digunakan selama 54 menit.

Optimalisasi energi terbarukan menjadi fokus mereka dalam merancang dan mengembangkannya. Hal ini dinyatakan oleh Cahyo. “Dulu kami pakai kincir angin untuk PKM, tapi sepertinya masih kurang sesuai sehingga belum lolos. Sekarang mengaplikasikan energi matahari dan mikrohidro. Dan ke depannya, kami ingin menambahkan energi dari ombak laut dan generator statis sehingga tetap bisa beroperasi walau kapal diam (berhenti),” jelas mahasiswa domisili Bogor ini.

Cahyo melanjutkan jika mereka optimis Hycpo akan lebih menguntungkan nelayan. Hycpo lebih praktis dan tidak banyak menguras biaya. “Kita berpikir genset akan boros perawatan dan solar harus diisi tiap saat. Belum lagi pendinginnya. Namun Hycpo tinggal diletakkan, dihidupkan, dan selesai,” tukasnya.

Baca juga: Renewable Energy, Komunitasnya Anak Teknik ITN Malang

Baca juga: Pikohidro ITN Malang Datang, Desa Gelang Jember Terang Benderang

Untuk membuat alat asli, prototype akan mengalami banyak pengembangan selain ukuran dan sumber energi. Efisiensi energi adalah hal yang harus diperhatikan. Mereka pun ingin pengembangan, selanjutnya ditekankan pada bahan yaitu suhu menahan dingin pada waktu lama tapi tetap hemat daya.

Sementara itu, prototype yang mereka lombakan sebagian dibuat dari bahan yang tidak terpakai. Mereka menjelaskan jika bahan Hycpo mudah dicari, hanya saja alat kontrol harus dibuat sendiri. Rangkaian yang relatif sulit juga hendak dikembangkan lagi agar tidak mudah korsleting. (ata)

(Visited 226 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *