Mahasiswa ITN Malang Berwirausaha ‘Kos Usang’

itnmalangnews.id – Kos Usang, kependekan “Kompos dari Kulit Pisang” adalah judul Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kewirausahaan yang diajukan oleh mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Tim pengusul diketuai oleh Dona Nathasya Hotan (angkatan 2016) dan beranggotakan Refaldi Saputra (angkatan 2017), Nabila Suci Adani (angkatan 2017), Astrina Dassie (angkatan 2017), serta Andika Yoga Pradana (angkatan 2018). Mereka semua berasal dari program studi Teknik Lingkungan S-1.

Tim Kos Usang dari Teknik Lingkungan S-1ITN Malang

Tim Kos Usang dari Teknik Lingkungan S-1ITN Malang. (Foto: Tim Kos Usang for itnmalangnews.id)


Alasan mereka memilih produk kompos dikarenakan pentingnya meningkatkan kreativitas dan penalaran mahasiswa pada pengembangan ilmu teknologi pertanian. Pembuatan kompos meniru proses terbentuknya humus oleh alam dengan bantuan mikroorganisme. Proses dapat menggunakan bantuan mikroorganisme yang membutuhkan oksigen tinggi (aerob) atau mikroorganisme yang bekerja pada kadar oksigen rendah (anaerob).

Kulit pisang dipilih sebagai bahan baku kompos sebab di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang konsumsi pisang tinggi sehingga sampah kulit yang terbuang banyak. Dona mengungkapkan bahwa masih banyak kulit pisang yang dibuang begitu saja hingga menimbulkan bau. “Sejauh ini hanya sebagian masyarakat yang memanfaatkan kulit pisang sebagai pakan ternak. Kulit pisang terkadang dibuang begitu saja tanpa ada pengolahan lebih lanjut hingga lama kelamaan menimbulkan bau yang kurang sedap,” jelas mahasiswi asal Kupang ini.

Proses pembuatan Kos Usang tergolong sederhana. Setelah dikeringkan, kulit pisang dicacah kurang lebih 2 cm. Cacahan ini dimasukkan ke dalam drum plastik yang dilubangi pada bagian bawahnya. Di dasar drum ditaruh tanah humus, kulit pisang dimasukkan, dilapisi tanah humus lagi, lalu ditambahkan larutan EM4. Drum ditutup dan dilapisi terpal selama satu bulan agar menghasilkan kompos.

Sesuai jenis PKM yakni PKM Kewirausahaan, tugas tim tidak berhenti pada bagaimana cara membuat kompos, tetapi sampai pada bagaimana menjualnya. Mereka turut merumuskan strategi yang meliputi empat metode pembaruan pemasaran, di antaranya: tempat penjualan yang strategis, kualitas produk, harga, serta promosi. Mereka berencana menjualnya kiloan dengan harga per kilo 25 ribu rupiah.

Analisis SWOT tidak kalah penting. Optimisme mereka kian kuat karena tempat sasaran penjualan adalah kawasan pertanian Kecamatan Lawang. Terlebih lagi sampai sekarang belum ada pesaing di sana. Keterbukaan untuk menggunakan teknologi baru ke depannya berpotensi membuat kemajuan dalam hal bisnis. (ata)

(Visited 153 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *