Kukuh Priyo Pramono, ST., MT., Business Development & Commercial Manager, PT Ansaf Inti Resources alumnus Teknik Industri S-1 ITN Malang. (Foto: Bayu/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Banyak mahasiswa yang mendadak cemas menjelang kelulusan, bingung mau kerja apa, atau merasa skill yang dimiliki belum cukup untuk bersaing di industri. Menjawab kegelisahan tersebut, Prodi Teknik Industri S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar talk show bertajuk “The Jumpstart Session: Real Talk, Real Skill, Real Preparation” di Ruang Amphi Mesin Kampus 2 pada Senin (25/05/2026). Tiga alumni sukses angkatan 2007 dihadirkan langsung untuk membongkar realita dunia kerja sekaligus membagikan strategi sukses.
Baca juga: Ijazah Saja Tidak Cukup, Lulusan ITN Malang Kini Dibekali SKK Konstruksi Jenjang 7
Acara dibuka oleh Wakil Dekan 3 Fakultas Teknologi Industri (FTI), Drs. Sumanto, M.Si. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya motivasi dan kesiapan mental sebelum masuk ke dunia profesional. Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Renny Septiari, ST., MT., Kaprodi Teknik Industri S-1. Renny mengingatkan, lanskap pencarian kerja saat ini sudah berubah total. Menjadi mahasiswa pintar saja tidak lagi cukup, perlu taktik dan strategi matang agar profil lulusan dilirik oleh perusahaan.
Sesi pertama disampaikan oleh Kukuh Priyo Pramono, ST., MT., seorang Business Development & Commercial Manager di perusahaan kontraktor tambang batubara, PT Ansaf Inti Resources. Kukuh mengawali sesinya dengan analogi yang menarik. “Ibarat mau masuk ke dalam hutan, kami siapkan kompasnya dulu. Pertanyaannya, kalian mau belajar atau tidak?” tantang Kukuh di hadapan para audiens.
Dyah Kartika Sitoresmi, ST., MT., Assistant Manager Planning & Project Maintenance di PT Kimberly-Clark Softex, alumnus Teknik Industri S-1 ITN Malang. (Foto: Bayu/Humas ITN Malang)
Dijelaskan Kukuh, menilik data BPS, persentase penduduk bekerja lulusan diploma ke atas memang terus meningkat di berbagai sektor seperti pertanian dan perdagangan. Namun, di industri pertambangan sendiri pertumbuhannya tergolong kecil. Kukuh menegaskan fakta pahit bahwa bangku kuliah sebenarnya tidak menjamin seseorang langsung dapat kerja, melainkan media untuk mencari ilmu dan memperluas peluang.
“Di industri tambang pasarnya sangat luas, alumni FTI mulai dari Teknik Mesin, Kimia, Elektro, hingga Teknik Industri sebenarnya punya peluang besar untuk masuk karena kebutuhan komoditas tambang sangat tinggi dan gajinya pun kompetitif,” jelasnya.
Mumpung masih kuliah, Kukuh meminta mahasiswa memperkuat soft skill seperti leadership, komunikasi, dan problem solving. Persiapan konkret yang harus dicicil sebelum lulus meliputi aktif berorganisasi, memperbarui CV, membersihkan media sosial dari konten yang tidak penting, menguasai bahasa Inggris dan Mandarin, mengambil sertifikasi kompetensi (LSP), hingga menjaga kesehatan fisik.
Perspektif inspiratif juga datang dari Dyah Kartika Sitoresmi, ST., MT., Assistant Manager Planning & Project Maintenance di PT Kimberly-Clark Softex. Sebagai pemimpin wanita pertama di perusahaannya, Dyah membuktikan bahwa industri memberikan kesempatan yang sama tanpa memandang gender. Menariknya, Dyah blak-blakan mengaku bahwa ia telah bekerja selama 15 tahun di perusahaan tersebut justru karena sadar akan kekurangannya yang sulit beradaptasi di tempat baru.
“Saya mulai dari staf planner. Karena dinilai punya kemauan, pimpinan diam-diam merekomendasikan saya naik jadi supervisor,” kenang Dyah.
Meta Devi Nurita, ST., MM., selaku Director’s Office & Quality Assurance BINUS University, alumnus Teknik Industri S-1 ITN Malang. (Foto: Bayu/Humas ITN Malang)
Menurutnya, semua jurusan teknik bisa masuk ke bidang ini, terutama jika memiliki sertifikasi khusus seperti K3. “Perusahaan lebih melihat orang yang punya kemauan kerja dan pola pikir bagus. Faktanya saat ini banyak lowongan kerja, tapi orangnya yang belum siap kerja,” ujarnya. Dyah mengingatkan pentingnya menyeimbangkan attitude, hard skill, dan soft skill.
Menutup sesi, Meta Devi Nurita, ST., MM., selaku Director’s Office & Quality Assurance BINUS University, membagikan cerita karirnya yang tidak linear. Memulai karier dari bawah di industri farmasi dan bagian gudang hingga mendapat promosi jabatan, ia akhirnya berpindah haluan ke dunia pendidikan.
“Lulusan Teknik Industri bisa berkarier di banyak bidang, termasuk dunia pendidikan. Dunia pendidikan adalah industri jasa yang besar (large service industry) yang tidak hanya berisi guru dan dosen, tapi butuh tim operasional yang kuat di baliknya,” paparnya.
Ia menggarisbawahi, di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang menantang akibat digitalisasi dan AI, figur yang paling dicari adalah mereka yang adaptif. Persiapan matang dari sekarang harus mencakup soft skill komunikasi, hard skill, digital skill, hingga penampilan profesional (professional look).
“Gelar Anda mungkin bisa membuka pintu pertama, tetapi mindset, attitude, dan kemauan untuk terus berkembanglah yang akan menentukan seberapa jauh Anda bisa melangkah,” pungkas Meta memotivasi seluruh peserta yang hadir agar tidak sekadar siap kerja, tapi juga mau terus belajar. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)
