Muhammad Rafiqy Farhan, alumnus Teknik Sipil S-1 ITN Malang, angkatan 2021. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Bertemu Muhammad Rafiqy Farhan di tengah acara Sharing Session Creation 3.0 Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Januari 2026 lalu, kita akan melihat sosok alumnus yang tidak hanya mengandalkan ijazah. Baru saja diwisuda pada September 2025, Farhan kini tengah disibukkan dengan perannya sebagai Junior Engineer di PT Surya Tripta Rekayasa, sebuah konsultan perencana ternama di Kota Malang.
Baca juga: Persiapan Mepet Bawa Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Raih Juara 3 National Tender Competition
Alumnus Teknik Sipil S-1, angkatan 2021 ini memang bukan mahasiswa “biasa”. Saat masih di kampus, namanya langganan masuk daftar mahasiswa berprestasi. Tapi baginya, IPK 3,36 berkat Beasiswa Kaltim Tuntas sejak semester 3 hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah jam terbang lapangan yang ia geluti sejak dibangku kuliah.
“Skill gambar kerja dan bikin RAB itu sudah saya asah jauh sebelum lulus,” kenang alumnus SMAN 1 Samarinda ini. Bayangkan saja, di tahun 2023 saat baru selesai menjabat di himpunan, Farhan bersama tim sudah dipercaya menggarap proyek sanitasi di Papua. Ia juga sering dilibatkan oleh kerja sama ITN Malang untuk proyek-proyek strategis di Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur, hingga pembangunan tiga rest area.
Belajar Hal yang Tak Diajarkan di Kelas
Saat kuliah Farhan juga dipercaya sebagai asisten Lab. Aplikasi Rekayasa Teknik Sipil, dan Lab. Manajemen Konstruksi. Bagi pria yang pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Struktur Bangunan, dan Struktur Baja ini, dunia kerja saat ini juga bersinggungan dengan disiplin ilmu lainnya seperti arsitektur, mekanikal, elektrikal, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terkadang tidak detail dibahas di bangku kuliah sipil.
“Kita harus rajin baca standar seperti SNI dan pedoman-pedoman lainnya. Kadang kita harus punya inisiatif buat belajar sendiri di luar posisi kita. Di proyek, kita bakal ketemu tim lain, jadi common sense dan kompetensi relevan itu harga mati kalau mau posisi strategis, karena kita sering diminta untuk mengambil keputusan dengan cepat,” tegasnya. Common sense adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang baik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.
Pengalaman Farhan terasah di meja kompetisi, dan bukan main-main. Ia pernah menyabet Juara 3 National Tender Competition CENS UI 2024, dan finalis kompetisi jembatan di UNY 2025. Baginya, ikut lomba tender adalah simulasi nyata dunia kerja. Di sana ia belajar kerumitan birokrasi dan dokumen administrasi proyek yang sangat kompleks.
Baca juga: Tim Spectra Ambis Raih Juara Harapan 1 Kompetisi Tender di Universitas Wijaya Kusuma
Pesan untuk Mahasiswa: “Jangan Pasif!”
Aktif di organisasi selama dua periode di HMS hingga menjadi Ketua Pelaksana Kuliah Lapangan 2023, Farhan punya pesan kuat untuk adik tingkatnya. Ia mewanti-wanti agar mahasiswa jangan hanya jadi “kupu-kupu” (kuliah pulang-kuliah pulang).
“Empat tahun itu singkat. Cari pengalaman di luar kelas karena masalah nyata ada di sana. Jangan pasif, cari exposure biar kelihatan. Perlu diingat, tidak semua lowongan kerja itu dipublikasikan secara umum, mencarinya butuh exposure, merawatnya butuh networking/relasi,” tambahnya berbagi tips
Kedepannya, pria yang memilih Teknik Sipil karena prospeknya yang luas di bidang SDA, Struktur, hingga Manajemen Konstruksi ini, tidak mau berhenti belajar. Sambil meniti karir sebagai engineer, Farhan sudah memasang target tinggi untuk melanjutkan studi lanjut.
Bagi Farhan, perjalanan dari Samarinda ke Malang bukan sekadar mencari gelar, tapi membangun pondasi kuat untuk masa depan konstruksi Indonesia. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

