Siswa SD Charis Malang belajar sistem kincir angin penghasil energi di Teknik Elektro ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Suasana Laboratorium Teknik Elektro S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) mendadak ramai dengan celoteh riuh puluhan anak pada Jumat (08/05/2026). Sebanyak 67 siswa kelas 4 SD Kristen Charis, Malang tampak tak sabar ingin melihat langsung bagaimana sebenarnya listrik dihasilkan tanpa perlu merusak bumi. Mereka benar-benar mengerumuni tiap area pembelajaran hingga duduk di lantai demi mencatat penjelasan kakak-kakak mahasiswa.
Baca juga: Siswa SD Kristen Masa Depan Cerah “Berburu” Energi Terbarukan di ITN Malang
Dibagi dalam kelompok kecil, para siswa diajak berkeliling ke berbagai titik energi terbarukan. Mulai dari sistem PLTS on-grid dan off-grid, kincir angin (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Piko Hidro (PLTPH), hingga melihat kecanggihan smart home. Menariknya, tak ada jarak antara siswa dan kakak mahasiswa. Mereka asyik bertanya tanpa canggung, bahkan mereka cekatan menulis tiap penjelasan teknis dari kakak mahasiswa.
Siswa, Aleph Ethnan Susanto, mengaku sangat terkesan dengan teknologi yang ia lihat. “Paling seru lihat PLTS yang bisa gerak-gerak sendiri pakai sensor mengikuti matahari (Solar Tracking System). Ada juga smart home yang bisa dikontrol lewat HP. Cita-citaku sih pengen jadi ilmuwan,” ceritanya semangat.
Hal senada diungkapkan Karenina Wang. Baginya, melihat langsung alat penangkap radiasi matahari ini memberinya pemahaman baru soal energi bersih. “Solar Tracer-nya keren banget karena bisa mengikuti sinar matahari. Dan yang penting, semua ramah lingkungan, tidak ada polusinya sama sekali,” ujar Karenina.
Kunjungan ini sendiri berawal dari “ketidaksengajaan” positif di media sosial. Martha Enggar Ingtyas, guru sains SD Charis, bercerita, ia pertama kali mengetahui program kunjungan edukasi ini melalui unggahan di media sosial ITN Malang.
Baca juga: Dari Kelas ke Kampus: SDN Percobaan 2 Malang Buktikan Belajar IPAS Lebih Seru di ITN Malang
“Di kelas 4 memang ada materi sains soal energi. Jujur, kalau di sekolah materinya terbatas. Kami sudah mengajarkan teori PLTA dan PLTU. Tapi di ITN, jangkauannya lebih luas. Anak-anak bisa melihat langsung alatnya, bahkan mencoba sendiri sistem rumah pintar, dan PLTPH,” jelas Martha.
Ia menambahkan, pengalaman ini tidak hanya mengedukasi siswa, tapi juga para guru. Melihat antusiasme anak-anak yang begitu tinggi saat praktik langsung, pihak sekolah pun berencana menjadikan agenda ini sebagai rutinitas tahunan.
“Harapannya, anak-anak sejak dini sadar betapa pentingnya energi terbarukan untuk dampak lingkungan ke depan. Karena rasa penasaran mereka tinggi, tadi kami guru-guru pun akhirnya ikut belajar hal baru bareng anak-anak,” tutupnya puas. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

