Teknik Mesin ITN Malang menggelar Kuliah Tamu bertajuk “Aircraft General Knowledge” menghadirkan alumni yang kompeten dibidangnya. (Foto: Istimewa)
itnmalangnews.id – Prospek berkarier di industri kedirgantaraan, baik di dalam maupun luar negeri, ternyata terbuka sangat lebar bagi para lulusan Teknik Mesin. Peluang emas ini dikupas tuntas dalam Kuliah Tamu bertajuk “Aircraft General Knowledge” yang digelar oleh Program Studi Teknik Mesin S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), pada Selasa (19/05/2026). Menghadirkan pakar penerbangan sekaligus alumnus Teknik Mesin angkatan 1997, Ir. Yosef Marlono, MM. Acara yang berlangsung di Ruang Amphi Mesin Lt. 2, Kampus 2 ITN Malang ini menjadi jembatan penting yang menghubungkan teori bangku kuliah dengan realitas industri.
Agenda edukatif ini lahir dari kolaborasi antara Prodi Teknik Mesin dengan Ikatan Keluarga Teknik Mesin yang didukung oleh Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM). Kehadiran Yosef Marlono kembali ke almamater disambut hangat oleh Sekretaris Prodi Teknik Mesin S-1, Tutut Nani Prihatmi, SS., S.Pd., M.Pd., serta Ketua Ikatan Alumni Teknik Mesin angkatan 2002, Aries Setiyawan, ST.
Lewat kuliah tamu mahasiswa diajak untuk langsung menyerap pengalaman praktis dari profesional yang sudah lama terjun di lapangan. Dalam paparannya, Yosef menegaskan, teknologi pesawat terbang pada dasarnya bersumber dari ilmu teknik mesin. Salah satu ceruk industri yang paling membutuhkan keahlian mereka adalah bidang perawatan pesawat terbang (aircraft maintenance), yang melibatkan banyak peran mulai dari teknisi ground support hingga kru teknis lainnya.
“Rumus-rumus dasar yang kalian pelajari di kuliah itu adalah bagian dari teknologi pesawat terbang. Di pesawat itu ada engine atau mesin penggeraknya, dan semua dasarnya diajarkan di Teknik Mesin,” ujar Yosef.
Yosef kemudian membagikan wawasan menarik seputar dunia penerbangan. Ia menjelaskan bahwa pesawat merupakan kendaraan paling aman di dunia karena selalu dilengkapi dengan sistem redundancy (sistem cadangan berlapis). Ia juga meluruskan kesalahpahaman umum mengenai istilah aircraft dan airplane. Aircraft (wahana dirgantara) adalah istilah payung yang mencakup balon udara, drone, hingga helikopter. Sementara airplane (pesawat terbang) lebih spesifik merujuk pada pesawat komersial atau militer yang memiliki sayap tetap (fixed-wing) dan digerakkan oleh mesin.
Secara teknis, ia juga membedah bagaimana sebuah pesawat bisa mengudara. Kuncinya ada pada interaksi antara sayap yang menghasilkan daya angkat (lift), baling-baling atau mesin yang menghasilkan daya dorong (thrust), serta hambatan udara (drag). Demi meminimalkan gesekan udara, bodi pesawat dirancang se-aerodinamis mungkin dengan bentuk yang cenderung bulat. Kontrol manuvernya pun mengandalkan komponen spesifik: elevator untuk bergerak naik-turun, serta rudder untuk berbelok ke kanan dan kiri. Sementara itu, urusan daya dorong dipasok oleh komponen power plant.
Bagi mahasiswa yang berminat terjun ke industri ini, Yosef menyarankan untuk mulai mendalami teknologi air turbine, sistem pendinginan, serta teknologi mekanik yang berkaitan langsung dengan pemeliharaan pesawat. Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup untuk menembus ketatnya persaingan kerja.
“Penguasaan bahasa Inggris itu sangat penting, juga kalian harus membangun karakter. Ini menjadi hal yang wajib karena pelamarnya sangat banyak. Perusahaan juga melihat keaktifan kalian dari sertifikat kegiatan, sertifikasi yang diikuti. Leadership yang diasah lewat organisasi kampus akan menjadi nilai tambah yang membentuk jati diri kalian,” pesannya.
Menanggapi tantangan dunia kerja yang sering membuat mahasiswa tingkat akhir dan alumni baru merasa kebingungan, Aries Setiyawan, Ketua Ikatan Alumni Teknik Mesin menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan program konkret. Alumni berkomitmen memberikan wadah berupa program kerja sama dengan berbagai perusahaan tempat para alumni ITN Malang berkarier, sehingga informasi mengenai magang dan lowongan pekerjaan bisa mengalir lebih cepat ke kampus.
Melalui kuliah tamu ini, Aries berharap mahasiswa tidak sekadar pulang membawa ilmu baru, tetapi juga mendapatkan gambaran nyata bahwa peluang karir di luar sana sangat luas dan tidak terpaku pada satu jenis perusahaan saja.
“Kita harus berani keluar dari zona nyaman. Selagi masih muda dan punya target, manfaatkan waktu dengan aktif berorganisasi dan belajarlah untuk kerja cerdas demi mempersiapkan masa depan,” pungkas Aries. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)
