Syukri Akbar lulusan terbaik Magister Teknik Elektro, Pascasarjana, ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Menyelesaikan kuliah di Teknik Elektro S-2, hanya dalam waktu 1,5 tahun saja sudah luar biasa, apalagi kalau bisa meraih IPK di angka sempurna: 4.00. Itulah pencapaian Syukri Akbar lulusan terbaik Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Program Pascasarjana S-2. Pemuda asal Kota Malang, Jawa Timur ini tidak hanya cepat lulus, tapi juga membawa solusi cerdas untuk masalah yang setiap hari membuat warga Malang pusing, yakni kemacetan di simpang jalan.
Baca juga: Lulus Cepat dan Panen IPK 4.00, Yudisium Pascasarjana ITN Malang Kali Ini Terasa Spesial
Ia merasa bersyukur atas kesempatan menempuh pendidikan Magister Teknik Elektro di ITN Malang. Menurutnya, lingkungan akademis yang suportif, dosen yang kompeten dan berdedikasi, serta kurikulum yang relevan dengan perkembangan industri, telah memungkinkannya menyelesaikan studi dalam waktu 1,5 tahun dengan hasil sangat memuaskan. Syukri ikut diwisuda pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026 pada Sabtu (25/04/2026) lalu.
“Selama di ITN Malang, saya tidak hanya mendapatkan ilmu yang mendalam, tetapi juga pengalaman berharga yang membentuk saya menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan dunia kerja,” ujarnya. Ia mengaku bangga menjadi bagian dari almamater ITN Malang dan siap berkontribusi di masyarakat dengan bekal yang telah diperolehnya.
Arsitektur Sistem Pengaturan Lampu Lalu Lintas Adaptif (Adaptive Traffic Light Control System) rancangan Syukri Akbar mahasiswa Teknik Elektro S-2 ITN Malang.
Pada tesisnya Syukri jeli melihat realita di lapangan. Menurutnya, lampu lalu lintas di Indonesia kebanyakan masih memakai sistem fixed time atau durasi tetap. Padahal, kondisi jalan itu dinamis—kadang sepi, kadang macet parah, apalagi kalau sudah ditambah faktor cuaca seperti hujan deras.
“Sistem yang ada sekarang kurang adaptif. Kadang jalan sudah kosong tapi lampu hijaunya masih lama, atau sebaliknya. Akhirnya antrean menumpuk,” ujar putra dari pasangan Fanani, dan Ria Fitri R ini.
Berangkat dari hal tersebut, dibimbing oleh Prof. Dr. Eng. Aryuanto Soetedjo, ST., MT., dan Eng. I Komang Somawirata, ST., MT., Syukri merancang sistem kendali lampu lalu lintas adaptif yang jauh lebih canggih. Ia menggabungkan deteksi objek real-time dari kamera CCTV dengan data cuaca dari API OpenWeather.
Baca juga: Wisuda ke-75 ITN Malang: Prestasi IPK 4,00 dan Cerita Hebat di Balik Toga
Teknologi yang ia gunakan pun tergolong kelas berat, yakni metode You Only Look Once (YOLOv8) untuk menghitung panjang antrean kendaraan secara akurat. Data tersebut kemudian diolah menggunakan model prediksi berbasis deep learning (LSTM) untuk menebak seberapa panjang antrean yang akan terjadi.
Untuk membuktikan idenya, Syukri mengambil studi kasus di titik yang semua orang Malang pernah “langganan” macet, yakni di pertigaan Blimbing–Borobudur. Dengan bantuan simulasi perangkat lunak SUMO dan logika fuzzy, sistem buatannya mampu mengatur durasi lampu hijau secara otomatis sesuai kebutuhan lapangan.
Hasilnya, sangat memuaskan. Dalam simulasinya, sistem cerdas ini terbukti mampu memangkas waiting time atau waktu tunggu kendaraan secara signifikan dibandingkan lampu merah konvensional yang ada sekarang. Rancangan Syukri ini bukan sekadar tugas akhir, tapi merupakan langkah konkret menuju Smart Traffic Management. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)
