MI Roudlotul Ulum Pasuruan, Jawa Timur, belajar EBT di Teknik Elektro ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Siapa bilang belajar energi terbarukan itu rumit dan membosankan? Bagi 107 siswa MI Roudlotul Ulum Pasuruan, Jawa Timur, materi ini justru menjadi seru saat mereka melihat langsung ribuan panel surya raksasa di Kampus 2 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Rabu (20/05/2026).
“PLTS-nya besar banget!” cetus Ahmad Asyroful, siswa kelas 5 yang tampak antusias.
Tak hanya takjub dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besar milik ITN, Asyroful dan teman-temannya juga belajar hal baru tentang Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). “Kami juga belajar cara olah sampah organik. Sampahnya dimasukkan dan dibakar di tungku pembakaran untuk jadi listrik,” tambahnya.
Kunjungan belajar ini diikuti oleh siswa kelas 3 hingga kelas 6, didampingi 10 guru dan perwakilan paguyuban orang tua. Pihak sekolah sengaja memboyong mereka ke ITN Malang untuk menerapkan Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual. Intinya, mendekatkan teori di buku dengan realita di dunia nyata.
Kepala Sekolah MI Roudlotul Ulum, Anik Mufidah, S.Pd., menjelaskan, tema pembelajaran kali ini memang berfokus pada energi untuk Fase B (kelas 3 & 4) dan Fase C (kelas 5 & 6). Menurutnya, anak-anak jaman sekarang harus diajak melihat teknologi masa depan yang lebih up-to-date.
Baca juga: Dari Kelas ke Kampus: SDN Percobaan 2 Malang Buktikan Belajar IPAS Lebih Seru di ITN Malang
“Sekarang kan kita butuh energi terbarukan, salah satunya PLTS. Makanya kami kenalkan PLTS ini ke anak-anak. Kalau mau mengajak mereka menjaga energi, mereka harus tahu dulu sumbernya dari mana saja,” ujar Anik.
Akses menuju kampus yang mudah dijangkau dan keberadaan PLTS skala besar menjadi alasan utama MI Roudlotul Ulum memilih Teknik Elektro ITN Malang sebagai jujukan di tengah terbatasnya waktu kunjungan mereka di Malang. Anik menambahkan, agenda wisata edukasi seperti ini rutin digelar tiap tahun dengan destinasi yang selalu berganti menyesuaikan kurikulum pelajaran.
“Harapannya, anak-anak pulang membawa ilmu dan pengalaman berharga. Selain mengedukasi soal energi, kami ingin memotivasi mereka sejak dini tentang dunia kampus. Biar nanti mereka punya semangat dan cita-cita untuk kuliah,” harapnya.
Menariknya, anak-anak tidak sekedar datang dan berfoto. Mereka benar-benar memperhatikan cara kerja teknologi di sana. Wahid, siswa kelas 4, bahkan dengan fasih menceritakan kembali apa yang baru saja ia pelajari tentang panel surya dan kincir angin.
“Dari panel surya, sinar matahari dikumpulkan terus menghasilkan energi listrik DC. Hambatan itu disalurkan ke inverter biar berubah jadi AC dan siap digunakan,” jelas Wahid.
Tak berhenti di situ, Wahid juga mengamati Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) atau angin. “Kalau kincir angin, di tengahnya ada sensor tambahan. Cara kerjanya, angin mendorong kincir berputar, lalu gerakannya diubah dari DC ke AC juga,” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

